Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Sikap yang Mulai Manis.


__ADS_3

"Bolehkah?" tanya Dinda memastikan.


"Mmh, ambil saja sesukamu." ucap Eric karena, dia memang tahu Dinda sangat menyukai snack seperti itu.


"Terima kasih." Dinda dengan semangat memilih apa saja yang dia suka, mumpung Eric yang membelikannya.


Di tengah sibuknya Dinda dan Eric memilih-milih snacks tanpa sadar mereka diperhatikan oleh wanita yang pernah singgah di hati Eric.


Naura memang ingin belanja ke mall tapi, mamanya meminta untuk membelikan beberapa bahan dapur yang kurang, makanya dia berada di supermarket yang sama.


"Apa itu istrinya Eric?" tanya Naura dalam hati sambil mengambil ponselnya di dalam tas dengan logo brand ternama itu.


Dia mengambil gambar Eric dan Dinda dengan banyak bahkan dia sempat memotret ketika Eric menggenggam tangan Dinda.


Setelah mengambil gambarnya Naura meninggalkan supermarket itu dengan belanjaannya.


Eric dan Dinda juga sudah membeli kebutuhan dapur sesudahnya mereka pulang ke rumah.


"Mas, jam berapa Mama dan Papa datang?" tanya Dinda sambil memasukkan semua sayuran dan buah-buahan ke dalam kulkas.


"Nanti jam delapan malam." Dinda membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya.


Selesai sholat isya berjamaah tadi Dinda langsung memasak untuk makan malam. Dan semua makan malam sudah siap di atas meja makan


Ting..tong...


"Itu pasti Mama sama Papa."


Dinda berjalan cepat ke arah pintu utama untuk membuka pintu tapi, langkahnya terhenti karena Eric.


"Tunggu, biar aku saja."


"Assalamualaikum?" teriak Mamanya dari luar pintu.


"Wa'alaikumsalam."


Setelah membuka pintu Eric langsung meraih tangan orang tuanya itu lalu mengambil tas dan paper bag yang di tenteng oleh Mamanya.


"Ayo masuk!"


"Dinda..." teriak Mamanya sambil berlari memeluk menantunya. "Mama.." ucap Dinda.


"Mama sama Papa laparkan? ayo makan Dinda sudah masak yang banyak tadi." ajak Dinda tak sabaran.

__ADS_1


"Iyya ayo Papa juga udah laper banget nihh.."


Semuanya berjalan ke arah meja makan yang sudah tersedia berbagai masakan kesukaan masing-masing.


Selesai makan Mama Eric langsung ke kamar yang sudah di siapkan Dinda untuk istirahat. Sedangkan Pak Hasan duduk berbincang mengenai perusahaan dengan Eric di ruang tengah.


"Bagaimana proyek yang di Singapura?" tanya pak Hasan.


"Lancar Pa.., mungkin bulan depan aku dengan Rian akan ke sana untuk mengecek perkembangan proyek."


"Yah itu bagus, alangkah baiknya jika kau pergi melihat perkembangannya."


"Beberapa hari yang lalu ada perusahaan pak Anton mengajukan suntikan dana tapi, Eric masih belum menyetujuinya."


"Bukannya perusahaan mereka sangat berhasil di LA?" tanya Pak Hasan bingung, pasalnya semenjak perang dingin antara Eric dan Leo, mereka juga sudah jarang berkomunikasi.


Ayah Leo yakni Pak Anton dan Pak Hasan juga merupakan sahabat yang sangat dekat. Begitu juga dengan ayah Rian, mereka bertiga telah berteman baik semenjak bangku kuliah.


"Entahlah Pah, Eric tidak mau gegabah langsung membantunya begitu saja."


"Yah kau benar. Ada yang ingin papa tanyakan padamu. Pernikahanmu sampai sekarang belum tercium oleh publik, apa kau tidak ada niatan mengumumkannya?"


"Besok Rian akan memberitahu pada reporter tentang ini."


"Papa masuk dulu ke kamar mau istirahat, badan papa sangat pegal." pamit ayahnya sebelum meninggalkan Eric sendiri memikirkan pernikahannya ke depan.


"Aku selalu merasa nyaman di dekatnya, bahkan dia dilihat pria lain saja emosiku rasanya terbakar, mungkin memang aku sudah mulai mencintainya." ujar Eric dalam hati lalu, menuju ke kamarnya untuk istirahat.


Keesokannya Bu Hasna dan Pak Hasan sudah siap dengan semua barangnya itik pulang ke mensionnya.


"Kita pulang dulu yah, lain kali kalian ke rumah untuk bermalam." ujar Bu Hasna yang sudah berada di dalam mobil.


"Iyya Ma, kapan-kapan kita ke sana nanti."


Setelah mobil mewah itu membawa orangtuanya Eric dan Dinda juga masuk ke dalam rumah.


"Mas, besok Dinda boleh nggak ke panti bermalam?" tanya Dinda dengan hati-hati.


"Hah? ada apa?" Eric menoleh melihat Dinda yang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.


"Mmhh, Dinda cuman kangen dengan keluarga di panti, adik-adik Dinda juga sudah lama memanggil Dinda untuk bermalam di sana Mas."


"Baiklah tapi, kita hanya menginap semalam saja."

__ADS_1


"Kita? mas juga ingin bermalam di sana?" tanya Dinda tak percaya.


"Yah, kenapa kau keberatan?"


"Ehh, tidak sama sekali Dinda justru senang." ucapnya sambil melebarkan senyumnya lalu menyusul Eric ke kamar.


Hari demi hari Eric maupun Dinda sudah semakin dekat layaknya sepasang suami-istri. Hanya saja belum ada ungkapan perasaan baik dari Dinda apalagi Eric. Meskipun publik sudah mengetahui jika Eric sudah menikah tapi, Eric belum memberitahu jika Dinda adalah istrinya. Hubungan mereka juga bisa dikatakan sempurna sebab, selain ungkapan perasaan mereka juga belum pernah melakukan hubungan suami-istri.


"Mas mau makan apa malam ini?" tanya Dinda yang masih berada di atas sajadahnya habis melaksanakan kegiatan sholat Maghrib.


"Apa saja, yang penting kau yang memasak." ucap Eric sambil mengelus kepala Dinda.


Dinda memasak dengan telaten di dapur dengan Eric yang menonton televisi di ruang tengah. Karena jenuh menunggu Dinda memasak Eric menghampiri Dinda di dapur yang tampak membelakanginya karena fokus dengan masakannya.


"Kapan selesainya Mas sudah sangat lapar." Eric melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Dinda memeluknya dari belakang.


"Tinggal ini Mas, kalau sudah mendidih sudah bisa kita makan."


"Hmm, baiklah." ucap Eric sambil menenggelamkan wajahnya di leher Dinda untuk mengirup aroma yang menjadi candunya beberapa hari ini.


"Mas, kamu ke sana saja nunggunya, kalau disini Dinda masaknya makin lama." Dinda yang mulai susah bergerak akibat Eric yang selalu mengikutinya dari belakang mengusir Eric dari belakangnya.


"Yah kan tinggal itu, kenapa makin lama?" Eric masih setia menenggelamkan wajahnya di leher Dinda membuat Dinda geli sendiri.


"Mas, Dinda susah geraknya, Dinda mau ambil garam aja susah bergerak karena Mas ada di belakang Dinda." Eric dengan terpaksa melepaskan pelukannya lalu melangkah meninggalkan istrinya yang masih gadis itu.


"Sudah siap. Mas mau makan apa?" tanya Dinda setelah meletakkan sayur bening di depan Eric.


"Ikan goreng saja." tunjuk Eric dengan kepalanya melihat ke arah ikan gorengnya.


"Ini, ada lagi?"


"Sambalnya?" tangan Dinda terulur mengambil sambal bawang kesukaan Eric.


"Ini saja dulu?"


"Iyya." ujarnya sambil menganggukkan kepalanya layaknya anak kecil.


Mereka makan dengan lahap, terutama Eric yang makannya seperti orang tiga hari tak pernah makan.


****


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️

__ADS_1


Sorry yahh kalau up-nya sering lama, soalnya lagi persiapan ujian final, do'a-in yah reader's ujiannya lancar.🙏🙏🙏


__ADS_2