Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Kekurangan Dana.


__ADS_3

"Di situ saja Mas!" tunjuk Dinda di rumah makan sederhana.


"Ini tempat langganan aku sama Sima, kami sering makan di sini." Eric hanya membulatkan bibirnya menanggapi Dinda.


Mereka makan di tempat makan sederhana itu walau Eric tidak terbiasa makan ditempat sederhana tapi, dia tidak ingin menguras isi dompet gadis di depannya yang makan dengan lahap.


"Kau suka sekali makan itu?" tunjuk Eric pada gado-gado yang sedang di suap Dinda.


"Ya, Dinda sangat suka." ucap Dinda dengan mulut penuh.


"Makan dulu yang di mulutmu lalu bicara." tegur Eric yang berhasil membuat Dinda nyegir.


Selesai makan Dinda membayar lalu mereka pulang kembali ke rumah.


Keesokan harinya. Eric akan berangkat ke kantor setelah selesai sarapan. Tapi, hari ini dia akan ke kantor pukul delapan tiga puluh berhubung dia juga baru ada meeting jam sepuluh jadi dia bisa bersantai sebentar di rumah.


"Kamu udah mau ke kantor?" tanya Eric ketika melihat Dinda turun dari lantai dua.


"Iyya Mas, ini Dinda udah siap!"


"Mau bareng aja?" tawar Eric.


"Nggak, kan mas ke kantornya jam delapan tiga puluh."


"Ya udah sekarang ayo ke kantor, Mas nggak jadi ke kantor jam delapan tiga puluh."


"Lah kenapa Mas? kok tiba-tiba mau ke kantor?" tanya Dinda bingung.


"Biar kita barengan perginya." ucap Eric sambil meraih jas-nya di atas sofa.


"Tapi, Dinda singgah di tempat biasanya aja ya Mas."


"Memang tidak bisa sampai di parkiran?" tanya Eric.


"Mas kan tahu hubungan kita tidak ada yang tahu, terus nanti kalau ketahuan bagaimana?" Eric terdiam, dia-lah yang membuat keadaan pernikahan ini semakin rumit.


"Ya udah ayo berangkat." Eric meraih tangan istrinya keluar rumah.


"Hati-hati saat menyebrang nanti!" nasihat Eric ketika Dinda meraih tangannya untuk bersalaman.


"Iyya Mas." Dinda keluar dari membuka mobil lalu segera ke kantor.


"Tunggu!!" tahan Eric sebelum Dinda benar-benar keluar dari mobil.


"Apa Mas?" tanya Dinda sambil menaikkan alisnya bingung.

__ADS_1


Eric mengangkat tangannya ke belakang kepala Dinda lalu menarik karet rambut warna hitam yang mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


"Mas!!"


"Jangan pernah pakai karet rambut saat di kantor!" tegur Eric sambil menatap matanya dalam-dalam.


"Tapi kenapa? banyak kok yang Dinda lihat mengikat rambutnya seperti tadi." bela Dinda karena, kemarin saja Lucy juga mengikat rambutnya.


"Tapi untukmu tidak boleh! Mata pria akan kurang ajar ke kamu nanti." ucap Eric yang terdengar cemburu membuat Dinda berbunga mendengarnya.


Cup.


Sebelum kembali ke posisinya semula Eric terlebih dulu mengecup bibir Dinda.


"Mas.., bagaimana kalau ada yang liat tadi?" ucap Dinda tidak terima.


"Tidak akan ada."


"Ish! Dinda pergi dulu." Dinda meninggalkan Eric dengan wajah yang bersemu merah.


"Sepertinya aku harus mengumumkan jika aku sudah menikah." ucap Eric pelan.


Di kantor Dinda tidak dibebankan banyak pekerjaan hari ini, mungkin karena pekerjaan yang biasanya belum terselesaikan tapi Dinda sudah menyelesaikannya lebih dulu.


"Bagaimanapun juga Pratama Group harus mau menyuntikkan dananya pada perusahaan kita, kalau tidak perusahaan kita akan bangkrut!" ucap ayah Leo yang dilanda emosi.


"Tapi Pa, mereka sepertinya tidak akan menyetujuinya karena dana yang kita butuhkan sangat banyak."


"Memang banyak tapi, bagi Pratama Group dana itu hanya sedikit." Leo menghela nafas panjang melihat keadaan perusahaannya.


Dia juga tidak bisa selalu memenuhi kebutuhan Naura yang hidupnya selalu ingin mewah.


"Bagaimana keluarga pacarmu itu, apa kau sudah bertemu?" tanya papanya.


"Belum pah."


"Segera bertemu dengannya dan minta bantuan pada papanya. Kalau bisa ajak keluarganya kerja di sini, kita juga kehilangan banyak karyawan karena gaji mereka juga terhambat."


"Iyya Pah, besok Leo akan ke sana."


Ngomong-ngomong keluarga Naura. Juna adiknya, pria yang masih menaksir Dinda itu sekarang sudah bergabung di perusahaan Leo.


Saat Leo berkunjung ke rumah Naura beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Juna. Juna memberitahu tengah ingin melamar kerja ke suatu perusahaan bidang produksi tapi, Leo lebih dulu memintanya untuk bergabung di perusahaannya saja. Juna pun menyetujuinya dengan senang hati.


*****

__ADS_1


Di panti asuhan, suasananya sangat sepi, anak-anak masih berada di sekolah, Pak Bahar juga masih berada di bengkel sehingga Bu Tini hanya sendiri berada di panti.


Karena semua pekerjaan telah selesai, makanan siang-pum sudah siap di atas meja makan, Bu Tini mengambil ponsel lalu menelfon Dinda. Sudah lama dia tidak mendengar suara Dinda, terakhir saat Dinda mengabarinya sudah mulai magang.


*Tuut..,tuut..tuut..


"Halo? Assalamualaikum Bu?" sapa Dinda di seberang sana.


"Halo nak, kamu apa kabar?"


"Baik Bu, ibu sama yang lainnya sehat-sehat saja kan di sana?" tanya Dinda.


"Kami Alhamdulillah sehat-sehat saja di sini. Ngomong-ngomong kamu kapan ke sini? adik-adik kamu selalu bertanya, 'kapan kak Dinda ke sini'."


"Iyya Bu, nanti kalau hari Sabtu Dinda juga rencana mau ke panti bermalam tapi, Dinda minta izin dulu sama mas Eric."


"Iyya nak, kalau mau keluar harus sepengetahuan suami, nggak boleh keluar tanpa izin suami, walaupun kamu mau ke sini tetep harus minta izin dulu." nasihat Bu Tini.


"Iyya Bu, nanti Dinda izin dulu."


"Ya udah kamu lanjut kerja saja, nanti kabarin ibu saja kalau mau ke sini." ucap Bu Tini sebelum mengakhiri panggilannya.


"Iyya Bu', assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam*."


Dinda meletakkan kembali ponselnya di atas meja lalu fokus kembali ke komputer di depannya.


Jam sudah menunjukkan jam empat tida puluh sore, Dinda baru pulang ke rumah, di susul Eric pulangnya jam lima sore.


"Mas, mau minum apa?" tanya Dinda menghampiri Eric yang memejamkan matanya di sofa karena kelelahan.


"Air Es saja." kebiasaan buruk Eric yang masih belum bisa diubahnya, sudah tahu tenggorokannya sakit tapi tetap saja minum minuman dingin.


"Tapi tenggorokan mas masih sakit, tuh suaranya saja masih serak!" tegur Dinda.


"Tapi Mas sangat haus, pengen yang dingin." rengek Eric seperti anak kecil.


"Nggak, Mas minum air putih biasa aja lalu nanti sudah mandi minum air hangat. Tunggu Dinda ambil airnya." Dinda ke dapur mengambil air putih di gelas yang biasa Eric gunakan.


"Terima kasih," Eric meminum airnya hingga habis.


"Mas sangat lelah yah?" tanya Dinda duduk di samping Eric.


"Iyya, pekerjaan di kantor sangat banyak tadi, bahkan sebagian mas akan kerjakan nanti setelah makan." Dinda tersenyum melihat Eric yang seperti mengadu pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2