Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Salah Paham.


__ADS_3

Setelah kelas selesai Dinda baru mengabari Juna untuk bertemu.


"Bisakah kita bertemu nanti?" terlihat sudah centang dua, tapi belum berubah warna.


Juna belum sempat membaca pesan yang masuk, karena dia masih ada kelas tambahan hari ini.


"Sim, temani aku nunggu seseorang di depan yah." pinta Dinda pada sahabatnya itu.


"Oke dehh nanti aku temenin." Sima mengacungkan kedua jempolnya.


*****


"Gua pulang duluan." Eric pamit pulang setelah rapatnya selesai, dia ingin pulang cepat hari ini karena dia mau menjemput Dinda.


"Kau pulang jam berapa?"


Ting...


Dinda melihat ponselnya, dia kira Juna yang mengirim pesan tapi nyatanya Eric yang mengirim pesan.


"Dinda sudah pulang, tapi masih nunggu seseorang."


"Tuan dari semalam sangat aneh." Dinda bingung sejak mereka ke rumah mertuanya, Eric selalu menunjukkan sikap yang berbeda dari yang sebelumnya.


"Siapa? ikutlah pulang dengan ku, aku sudah mau pulang juga."


Melihat pesannya dibalas dengan cepat, Dinda juga membalas pesan Eric dengan cepat.


"Tidak usah tuan, nanti Dinda pulang sendiri saja, sepertinya orang yang ku tunggu masih lama."


"Terserah kau saja." Eric melempar ponselnya ke kursi di sampingnya, dia agak kesal karena Dinda menolak tawarannya.


"Siapa yang dia tunggu sampai begitu pentingnya?"


Eric mengambil ponselnya kembali lalu menelfon suruhannya untuk mengintai Dinda.


Tuut...tuut...tuut...


"Halo! saya punya tugas untukmu."


"Halo. Apa itu Pak?"


"Tolong cari tahu siapa yang gadis itu tunggu di depan kampus." perintah Eric.


"Baik Pak, saya segera ke sana." jawab suruhannya dengan tegas.


"Gua akan liat, siapa yang Dinda tunggu sampai sepenting itu." ucap Eric setelah memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Eric keluar dari parkiran luas itu dengan keadaan hati yang kesal. Eric memang sangat jarang menggunakan jasa sopir, dia hanya menggunakan sopir jika tengah perjalanan jauh.


*****


"Si*l, kenapa gua baru liat, pasti dia udah nunggu lama di depan." Juna baru saja selesai dari kelas dan baru sempat melihat isi chat Dinda.


Juna memasukkan iPad-nya ke dalam tas ransel merek ternamanya, lalu berlari cepat keluar kelas menyusul Dinda.


"Hai! Udah lama nunggunya?" Juna langsung muncul tiba-tiba dari belakang Dinda dan Sima sambil ngos-ngosan.


"Enggak kok, tenang aja." Jawab Dinda.


"Kamu atur nafas dulu mendingan, lalu bicara." tegur Sima.


Juna sontak menarik nafas melalui hidung dan menghembuskan nafas melalui mulut berkali-kali.


"Udah. Kamu kenapa mau ketemuan di sini?" tanya Juna pada Dinda. Dinda tidak berada di samping Juna sekarang, karena saat Juna datang, Dinda langsung ke samping kanan Sima untuk menghindar.


"Ini." ucapnya sambil menyodorkan amplop berwarna coklat ke depan Juna.


"Apa ini?"


"Itu uang ganti rugi ponsel mu yang pecah. Maaf jika aku lambat bayarnya."


"Tidak usah diganti, lagian ini tidak mahal kok." Juna menolak uang itu, awalnya Juna hanya memancing perhatian Dinda menggunakan ponselnya yang pecah gara-gara Dinda.


"Tidak terima kasih, aku akan tetap bayar, ini ambillah." Dinda tetap bersih keras ingin memberikan uang itu pada Juna, sampai harus mengambil tangan Juna, lalu meletakkan amplop itu di atas tangannya.


Di tempat lain, sudah ada Eric yang seakan darahnya mendidih melihat foto pertama yang dikirim suruhannya.


"Hah, rupanya dia bertemu laki-laki itu yah, sepertinya laki-laki itu sangat penting untuknya." Eric hanya melihat foto saat Dinda menarik tangan Juna, lalu dia sudah melempar ponselnya ke tempat tidur, tanpa melihat foto selanjutnya.


"Aku bersifat baik padanya, tapi sepertinya dia semakin kurang ajar. Akan kuberikan kau pelajaran saat pulang." Eric masuk ke dalam kamar mandi membasuh wajahnya.


*****


"Din, aku pulang dulu yah." Sima memang tidak searah dengan rumah Dinda. Jadi meraka akan berpisah setelah di depan kampus.


"Iyya, dahh, assalamualaikum." Dinda juga melambaikan tangannya, baru naik ke dalam angkot.


Dinda akan singgah sebentar ke toko roti untuk meminta izin dengan teman-temannya. Saat di kampus, Dinda sudah memberitahu pada Bu Suzan, kalau dia akan izin beberapa hari, karena mertuanya sedang sakit.


"Assalamualaikum." Dinda sudah masuk ke toko roti.


"Wa'alaikumsalam. Eh tumben datangnya cepet, nggak kuliah emang?" tanya Risa.


"Kuliah kok, tapi emang cepet pulangnya."

__ADS_1


"Ohh."


"Aku cuman mau singgah beri tahu, kalau aku izin beberapa hari, karena Mama ku sakit." ucap Dinda. Dinda memang bilang 'Mama' bukan 'Mertua', karena di toko hanya Bu Suzan yang tahu kalau dia sudah menikah.


"Ohh, semoga cepat sembuh yah. Udah sana pulang jagain Mama, biar yang lain aku yang tanya kalau kamu izin beberapa hari." Risa yang notabennya tiga tahun lebih tua dibanding Dinda, sering memperlakukan Dinda seperti adiknya sendiri. Risa memang orangnya pengertian, tapi kadang mulutnya jika bicara tidak mempunyai rem.


"Ya udah, makasih yahh. Aku pergi dulu, assalamualaikum."


"Iyya, wa'alaikumsalam."


Dinda sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, tapi melihat ada penjual siomay langganannya, Dinda meminta ojol berhenti sebentar.


"Pak, singgah di penjual siomay sebentar." pinta Dinda sambil menepuk pundak bapak yang mengantarnya.


"Iyya neng." Bapaknya sudah singgah tepat di dekat penjual siomaynya.


"Pak, Beli sepuluh ribu yah."


"Oke Neng!" dengan gercep penjualnya sudah mencampur semua bahanya lalu memberikan pada Dinda.


"Ini neng."


"Makasih, ini uangnya Mang." Dinda menyerahkan uang pecahan 5 ribu sebanyak 2 lembar.


"Ayo pak jalan." Ucapnya setelah duduk sempurna di atas sepeda motor.


"Assalamualaikum." Dinda masuk ke dalam rumah besar itu, tampak suasananya sangat sepi.


"Mungkin Papa lagi nemenin Mama di kamar." Dinda meletakkan siomaynya di atas piring yang sudah diambilnya dari dapur.


"Aku ganti baju dulu deh." Dinda mengambil ranselnya lalu naik ke lantai atas.


"Assalamualaikum." Dinda membuka pelan-pelan pintu itu, Dinda pastiny sudah tahu kalau Eric sudah sampai dirumah lebih dulu.


Kamar tampak sepi, sepertinya tidak ada orang.


Dinda meletakkan tasnya, lalu mengambil pakaian gantinya dan menggantinya di kamar mandi.


Saat keluar, Dinda dikagetkan oleh Eric yang sudah berdiri di depan pintu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya.


"Tuan, kau mengangetkan saja." Dinda melewati Eric menuju ke sofa.


"Kau dari mana?" suara bariton Eric menggema di telinga Dinda yang sedang mengumpulkan bukunya di atas meja.


"Dari kampus, setelah itu ke toko roti sebentar." Ucapnya jujur.


"Kau menunggu siapa dikampus sampai begitu penting?"

__ADS_1


*****


Like, coment,aq beri gift dan vote guyss 🖤❤️.


__ADS_2