
Eric membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan paha Dinda sebagai bantal membuat tangan Dinda terangkat mengelus rambut lebat Eric.
"Mas capek banget." ucap Eric dengan mata yang terpejam.
"Mas mandi dulu lalu makan, setelah itu Dinda pijat." mata Eric terbuka mendengar tawaran Dinda.
"Kamu bisa pijat nggak nih?" ucap Eric dengan tatapan tak percaya.
"Astaghfirullah mas, mana mungkin Dinda tawarin mau memijat mas kalau Dindanya nggak bisa." ujar Dinda tak terima.
"Oke lahh.., mas mandi dulu lalu makan." Eric bangun meninggalkan Dinda ke kamar.
Hari semakin larut Eric sudah menyelesaikan kerjaannya. Tadi setelah makan dia langsung mengerjakan semua berkas yang dari kantor. Dia mengatakan pada Dinda jika ingin di pijat setelah semua pekerjaannya selesai dan Dinda menyetujuinya.
"Dinda!?" panggil Eric saat masuk ke kamar tapi tak menemukan keberadaan Dinda.
"Iyya..," jawab Dinda setelah keluar dari kamar mandi.
"Mas udah mau tidur?" tanya Dinda melihat Eric berdiri di dekat pintu kamar.
"Emhh." jawab Eric.
"Sini Dinda pijat!" Eric menghampirinya lalu berbaring di atas tempat tidur.
"Mas mau di pijat bagian mananya?" tanya Dinda.
Eric berbalik menjadi tengkurap karena ingin di pijat bagian punggungnya.
Dinda mulai memijatnya dengan sedikit megeraskan pijitannya, berhubung tubuh Eric yang tidak kecil.
"Sekarang kepala ku." perintah Eric setelah berguling lalu menaikkan kepalanya ke atas paha Dinda.
"Bagaimana Dinda mau memijat kepalamu Mas, kalau Mas menghadap ke perut Dinda." Eric memang menghadap ke perut Dinda, dia menenggelamkan wajahnya ke sana membuat sang empu merasa kegelian.
"Mas, jangan begitu, Dinda geli." Eric berhenti sejenak dari kegiatannya lalu menatap Dinda dari bawah.
"Tidak usah memijat kepalaku, aku sudah ingin tidur di sini." Eric kembali menenggelamkan wajahnya sambil menghirup aroma tubuh alami Dinda yang terasa candu baginya.
Dinda sendiri hanya bisa berusaha menahan gelinya sambil mengelus lembut rambut pria di pangkuannya itu.
Eric terbangun dari tidurnya, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.
"Astaga dia tidur duduk." ucap Eric setelah tersadar Dinda masih duduk bersandar di headboard sambil memangku kepalanya.
"Lehernya pasti akan sakit." Eric mengangkat Dinda untuk memperbaiki tidurnya.
Tangannya mengelus pipi mulus istri yang masih belum tahu perasaannya itu dengan lembut.
"Selamat malam." sebelum ikut tertidur di samping Dinda Eric terlebih dulu mengecup wajah Dinda, mulai dari kening, pipi hingga bibirnya.
__ADS_1
Keesokan harinya Dinda bangun lebih lambat dari sebelumnya. Mungkin karena tidurnya yang sangat nyenyak setelah Eric memperbaiki posisinya.
"Mas, maaf Dinda lambat bangun, jadi hanya bisa nyiapin roti bukan nasi goreng." Eric sudah jarang sarapan dengan roti semenjak hari dimana dia pertama kali makan nasi goreng buatan Dinda.
"Iyya nggak apa-apa, besok saja nasi gorengnya." Eric memakan roti selai di depannya dengan wajah malasnya.
"Kenapa? Mas tidak suka rotinya? kalau mau nunggu Dinda buatin sekarang nasi gorengnya gimana?" tawar Dinda karena melihat wajah Eric yang terlihat murung karena sarapan bukan dengan nasi goreng.
"Nggak usah nanti malah lambat kita ke kantor, ini saja tidak apa-apa." Dinda duduk di dekat samping kanan Eric lalu memakan makanannya.
Mereka memakan makanannya dengan tenang, lalu berangkat bersama ke kantor.
"Kenapa murung luu pagi-pagi?" ucap Rian yang menghampiri sahabatnya itu di ruangannya.
"Sarapan nggak makan nasi goreng." ucap Eric dengan pelan.
"Hahaha, lu udah kecanduan sama nasi gerong buatan Dinda yahh? makanya murung nggak sarapan pake nasi goreng?"
Eric terdiam sambil memainkan ponselnya.
"Ngomong-ngomong hubungan lu sama Dinda gimana?"
"Yah gitu-gitu aja."
"Nggak ada perasaan apa-apa di antara kalian?" Eric kembali terdiam.
"Iyya, gua juga berfikir seperti itu, mungkin besok kalau bisa berikan saja berita pernikahanku ini ke wartawan tapi, jangan memberitahu siapa istri gua."
"Baiklah, besok akan gua urus semuanya sama reporter."
Rian kembali ke ruangannya, sedangkan Eric melanjutkan kembali pekerjaannya.
Selesai sholat ashar, Eric melanjutkan sedikit pekerjaannya hingga ia mendengar ponselnya berdering.
Dert..dert...dert...
Eric meraih ponselnya yang tertera nama Mamanya.
"*Halo?"
"Halo.."
"Ric nanti Mama sama Papa udah pulang tapi, kita mau singgah ke rumah kamu yah."
"Ohh, Mama sama Papa baru mau balik. Singgah aja, kita ada di rumah kok."
"Iyya, besok Mama sama Papa baru pulang ke rumah."
"Iyya Ma.., mau Eric jemput?" tawar Eric.
__ADS_1
"Nggak usah, kan ada supir."
"Baiklah."
"Ya udah Mama tutup dulu telfonnya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam*."
Selesai menelfon dengan Mamanya, Eric segera memberikan pesan pada Dinda soal kedatangan orang tuanya nanti malam.
"Nanti, Mama dan Papa mau singgah nginep di rumah, kalau bahan makanan tidak ada nanti kita singgah belanja di supermarket."
Ting..
Dinda meraih ponselnya lalu membuka pesan Eric.
"Iyya Mas, Dinda udah mau selesai ini." balas Dinda.
Jam memang sudah menunjukkan waktu pulang, karyawan sudah mulai membersihkan meja kerjanya untuk bersiap pulang.
"Tapi bagaimana aku sama mas Eric mau barengan pulang? nanti ada yang lihat bagaimana?"
"Mas, Dinda duluan ke supermarket saja yah soalnya kalau kita pergi bersama nanti ada yang melihat.
Eric yang memang masih bermain dengan ponselnya langsung membuka isi chat Dinda.
"Yah, baiklah tunggu aku saja di sana."
Eric pergi mengambil jas-nya yang dia simpan di atas tempat tidur kamar khusus-nya, setelah itu dia meninggalkan ruangannya.
Sesampainya di supermarket terdekat, Dinda memilih sayuran yang disukai mertuanya itu dan beberapa jenis sayur lainnya.
"Sudah pilih semuanya?" ucap seseorang dari belakang tiba-tiba membuat Dinda terlonjat kaget.
"Ihh, Mas ngagetin ajaa, kalau Dinda meninggal gimana??" ucap Dinda dengan geram.
Eric tersenyum melihat Dinda. Eric memang sudah tahu jika Dinda yang tengah memilih sayuran karena, dia hafal warna kemeja yang dipakai Dinda ke kantor tadi pagi.
"Maaf, udah belum milihnya?" tanya Eric sambil melihat keranjang belanjaan Dinda yang baru terisi beberapa jenis sayuran.
"Belum, ini baru sayuran belum yang bumbu lainnya."
Mereka berkeliling sambil Dinda memilih bumbu dapur apa saja yang sudah hampir habis di rumah.
"Mau beli ini?" tunjuk Eric pada stan snack makanan ringan yang harganya membuat Dinda melotot.
"Nggak! ini aja, itu terlalu mahal." Tolak Dinda. "Ini harganya kalau di bandingin sama yang di warung bisa dua kali lipat."
"Ambil saja kalau suka, aku yang akan bayar." Eric meminta Dinda memilih snack yang dia suka.
__ADS_1