
Lama berpelukan di pesisir pantai, Dinda tersadar lebih dulu, sedangkan Eric masih mengelus punggung Dinda. Dinda segera melerai pelukan itu.
"M-ma-af Tuan." Dinda mundur setelah melerai pelukan itu, air matanya bahkan belum berhenti menetes dengan badannya yang masih gemetaran.
"Kembalilah ke hotel." Eric sadar baru saja dia memeluk gadis yang sangat di bencinya itu dengan sangat erat. Eric meminta Dinda kembali ke hotel.
"Terima kasih banyak Tuan sudah menolong Dinda." Dinda masih menundukkan wajahnya takut melihat Eric, Dinda masih mengingat jelas wajah yang menyeramkan itu saat memukul pria tadi.
"Hmm, aku hanya menolong mu bukan karena aku sudah tidak membencimu, tapi aku hanya tidak ingin melihat perempuan kotor habis di sentuh-sentuh oleh pria baj*ngan yang tinggal bersamaku." perkataan Eric kembali membuat Dinda yang sudah merasa kebencian Eric mulai memudar , karena Eric menolong bahkan menenangkan dan memeluknya.
Dinda kembali sadar dengan posisinya di mata pria yang sudah menolongnya itu.
"Kembalilah ke hotel sana!"perintah Eric ketus tapi berbanding terbalik dengan hatinya yang tidak tega melihat Dinda menangis.
Dinda mengangguk dan kembali ke hotel setelah mengusap air matanya. Sesampainya di dalam hotel Dinda kembali mandi, dia menggosok bagian jarinya sampai lengannya yang disentuh pria tadi dengan kasar.
Dinda merasa jijik dengan dirinya sendiri walaupun hanya bagian tangannya yang di sentuh, Dinda menangis tersedu-sedu di dalam sana. Eric yang sejak tadi membuntuti Dinda hingga masuk ke dalam kamar dapat mendengar suara tangisan itu.
Lima menit, sepuluh menit, bahkan sekarang sudah hampir lima belas menit Dinda belum keluar dari sana membuat Eric berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Hei, keluar cepat aku ingin masuk."ucap Eric di luar sana sebagai pancingan agar Dinda segera keluar.
Dinda mendengar teriakkan Eric di luar segera menghentikan kegiatannya yang masih mengguyur dirinya dibawah shower.
"Iya sebentar lagi."ucap Dinda, yang membuat Eric lega karena perempuan itu baik-baik saja, Eric hanya khawatir kalau perempuan itu kenapa-napa dia juga yang akan repot mengurusnya.
Dinda keluar sudah mengganti bajunya dengan rambutnya yang masih basah. Eric tau jika perempuan itu mandi lagi dan dapat di pastikan jika Dinda habis menangis, dilihat dari matanya yang sembab memerah.
"Kenapa lama sekali." tanya Eric sedikit membentak membuat Dinda terlonjat kaget karena suara bariton Eric.
"T-tadi Dinda hanya mandi saja , makanya lama."jawab Dinda.
"Kenapa mandi bisa selama itu, kau menghabiskan uang karena mandi terlalu lama." Eric bicara asal karena tidak ingin di kalah argumen oleh Dinda.
"Apa hubungannya mandi dengan uang?"tanya Dinda polos yang mulai menatap Eric dari jarak hampir satu meter.
"Karena air di baya , kau mandi pakai air bukan pakai batu!" lagi-lagi Eric membuat Dinda bingung dengan pernyataan konyolnya.
__ADS_1
"Memang jika bermalam di hotel airnya dibayar yah?" Dinda semakin bingung saja dengan Eric, sedangkan Eric langsung membalikkan badannya sambil menahan senyum mendengar pertanyaan polos Dinda tadi.
"Kenapa Tuan tidak menjawab pertanyaan ku?apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Dinda bertanya pada dirinya sendiri yang masih kebingungan.
"Sudah jangan berdiri di situ, kau menghalangi penglihatan ku."usir Eric yang sudah duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa dokumen yang dikirim Rian lewat email tadi pagi.
Dinda melangkah ke arah laci di samping tempat tidur mengambil buku dan pulpennya, dia melewati Eric yang masih menatap laptopnya dengan serius. Saat Dinda lewat didepannya dia sempat melirik sedikit.
Dinda duduk di kursi balkon dan mulai mengerjakan tugasnya, Dinda memang kuliah di universitas yang elit di Jakarta, tapi dia tetap menggunakan buku dan pulpen, berbeda dengan mahasiswa yang lain sudah menggunakan iPad untuk mencatat.
*****
Kediaman Keluarga Pratama.
"Papa udah telfon Eric atau Dinda?"tanya Bu Hasna saat selesai makan siang.
"Kenapa mau di telfon sih maa?" tanya Pak Hasan bingung, biasanya orang yang honeymoon itu tidak ingin di ganggu lah ini Istrinya malah ingin menelfon pengantin baru itu.
"Mama mau nanya kabar Dinda, Mama kangen."Bu Hasna memang sangat menyayangi Dinda sejak menjadi donatur tetap di Panti Asuhan yang dihuni Dinda.
"Apa tidak menggangu nelpon sekarang ma?"
"Yaa siapa tau, namanya juga anak muda."
"Udah deh paa, telfon saja nggak akan mengganggu kok."
"Iyya, Iyya ini baru, belum tersambung."
Tuut...tuut...tuut...
"Halo, assalamualaikum." salam pak Hasan.
"Wa'alaikumsalam pa, ada apa?"jawab Eric langsung to the point.
"Lah kok jawabnya gitu, Papa sama Mama nggak ganggu kaliankan?" tanya Bu' Hasna, Pak Hasan sejak menjawab salam tadi sudah meng-aktifkan tombol loudspeaker ponselnya.
"Nggak ma."
__ADS_1
"Terus Dinda mana, masih tidur yaah karena semalam?"tanya Bu' Hasna yang sangat ambigu itu.
"Kenapa semalam? Dinda ada di balkon luar sedang mengerjakan tugasnya mungkin." jawab Eric tidak mengerti dengan ucapan mamanya.
"Panggilkan Dinda dong, Mama mau bicara sekalian." perintah mamanya.
Eric berdiri menuju arah balkon dengan santai.
"Ada Mama yang ingin bicara." Dinda segera mengambil ponsel dari tangan Eric, Eric duduk di kursi sebelah Dinda dengan menyilangkan kakinya.
"Halo, Ma." panggil Dinda.
"Nak apa kabar kamu?"
"Baik Ma, Mama sendiri?"
"Mama baik sayang, Eric nggak ngapa-ngapain kamukan?kamu bisa jalankan?" Bu' Hasna masih memberikan pertanyaan yang ambigu , tentu saja Dinda tidak akan memahami pertanyaan itu.
"Dinda bisa jalan kok Ma' bahkan juga bisa lari." jawab Dinda yang membuat Eric tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat, Eric juga sudah mengerti arah pembahasan mamanya itu.
"Kenapa Mama menanyakan pertanyaan konyol seperti itu pada perempuan ini , mana bisa dia paham dengan hal itu."ucap Eric dalam hati.
"Dinda baik-baik saja?bisa lari? bagaimana bisa?" tanya Bu Hasna pada dirinya sendiri dengan dahi yang mengerut.
"Memang kenapa Ma?"Dinda mulai bertanya, Dinda memang tipe yang kepo-an jika sudah diberi tahu sesuatu dia akan selalu menanyakan sampai benar-benar mengerti.
"Tidak apa-apa , eemh Mama hanya bertanya siapa tau kamu kecapean habis naik pesawat sampai tidak bisa berjalan." jawab bu' Hasna ngasal yang penting Dinda tidak penasaran lagi.
"Memang ada orang sampai tidak bisa jalan gara-gara naik pesawat?" tanya Dinda polos yang membuat lawan bicaranya sampai menepuk jidatnya mendengar pertanyaan polos menantunya itu, Eric pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perempuan di depannya itu.
Eric sekarang tahu jika Dinda itu sebenarnya gadis polos yang masih sangat muda.
"Ahh sudahlah sayang, kamu istirahat saja yahh mama sama papa tutup dulu telfonnya, Assalamualaikum."
"Iyya ma, wa'alaikumsalam." Mama Eric sudah mematikan telfonnya dan Dinda menyerahkan kembali ponsel Eric.
*****
__ADS_1
like , coment and vote guyss 🖤❤️
ngetiknya sambil ketawa sendiri hahaha.