
Di seberang sana Rian sudah tertawa membayangkan wajah Eric yang memerah menahan marah.
"Jahaha, katanya bosen sama Dinda, di juga pernah bilang kalau nggak suka liat Dinda di dekatnya, tapi giliran Istrinya di goda marahnya sampe ubun-ubun."Rian tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Eric.
"Sepertinya sudah ada yang tumbuh di hati pria arogan tu." lanjut Rian sambil tertawa.
Eric melempar ponselnya di atas tempat tidur lalu membuka kemejanya bergegas mandi.
Sekarang sudah jam 23:10, Eric terbangun dari tidurnya karena haus , saat mengecek tumblrnya, isinya sudah habis. Eric sangat malas harus turun kebawah lagi untuk mengambil air, tapi dia juga sangat haus.
Tumblr Eric sudah terisi penuh dengan air, saat menuju ke atas Eric, melewati kamar Dinda yang terbuka sedikit. Dinda memang belum tidur karena dia mengecek kembali tugas proposalnya. Rasa penasaran kembali menyerang Eric, dia mengintip di celah pintu yang terbuka.
"Kenapa dia belum tidur?" Eric bisa melihat Dinda yang sedang duduk dilantai dengan buku di depannya.
Tok..tok..tok..
"Ekhm."Eric berdehem keras sambil mengetuk pintu membuat kaget Dinda di dalam kamar.
"Aaahhkk."Dinda menjerit sambil mencari selimut lalu menutupi tubuhnya. Dinda memang sangat penakut, bahkan jika tidur sendiri lampunya akan tetap menyala hingga pagi.
Saat membuka pintu itu Eric menahan senyum melihat Dinda ketakutan di balik selimut tipisnya itu.
"Hei!" panggil Eric keras, sedangkan Dinda sudah keringat dingin di balik selimutnya.
"Ya Allah tolong Dinda, aku sangat takut."Dinda sudah menangis dengan menutup mulutnya.
"Heii!!"Eric memanggilnya lagi karena dari tadi dia menunggu tidak ada respon oleh Dinda.
"Aku hanya berdua dengan tuan di rumah ini, mana mungkin aku meminta tolong padanya?"ucapnya dalam hati harus melakukan apa, lagi pula mana mungkin Eric mau menolongnya.
"Haii!!"kali ini Eric menyentuh selimut itu lalu menggerakkannya.
"Akkkhh...hiks..hikss..."Dinda menjerit kencang di iringi tangisannya.
"Heii?? kenapa kau menangis?" Eric yang heran sudah berjongkok sambil berusaha membuka selimut tipis itu.
"Tidak pergilah."Dinda mengusir orang yang diketahuinya siapa.
"Hai ini aku, kau kenapa??"Eric berhasil membuka selimut itu dengan paksa, ketika terbuka sudah tampak wajah yang penuh air mata sekaligus keringat dingin membuat Eric bingung.
"Ini aku, kau kenapa??" Eric menarik selimut.
Dinda membuka matanya perlahan mendengar suara Eric, lalu beralih menatap ke depan.
"Tuan??"Dinda hampir saja langsung memeluk Eric, untung saja kesadarannya kembali normal
__ADS_1
sehingga hanya memegang tangan Eric.
"Kau kenapa menangis?" tanyanya bingung karena tadi dia hanya mengetuk pintu dan berdehem, bukan marah-marah seperti biasanya.
"Tuan a-ada tadi ya- yang mengetuk pi-pintu, Dinda nggak tau siapa."Dinda mengadu dengan terbata-bata.
"Astaga.., jadi dia ketakutan karena suara ketukan pintunya?"Eric baru sadar jika dia mengetuk pintu tanpa memberi tahu siapa dia.
"Utu tadi.."belum Eric selesai bicara Dinda sudah memotong ucapannya.
"Itu hantu??"tangan Dinda sampai gemetaran ditambah keringat dingin.
"Bukan hantu, tapi yang mengetuk pintu tadi itu adalah aku." jujur Eric.
"Lalu kenapa tuan tidak bicara saat mengetuk pintu?"
"Karena.., tidak tahu aku hanya malas bicara."
Ketika sadar dengan posisinya sekarang Dinda melepas tangannya dari tangan Eric spontan.
"Maaf.."ucap Dinda.
"Kenapa kau belum tidur? ini sudah tengah malam." Eric baru menanyakan maksudnya masuk ke dalam kamar Dinda.
"Mengerjakan tugas." ujar Dinda sambil menunjuk buku-buku di depannya.
"Tidur sana, kau pikir begadang mengerjakan tugas tidak pakai listrik? ini semua di bayar." Eric menyuruh Dinda tidur dengan mengucapkan kata-kata yang pedas.
"Tapi Dinda tidak bisa tidur sendiri kalau lampunya menyala, jadi selama Dinda tinggal di sini lampunya terus menyala sampai pagi."
"Terserah kau yang penting tahu diri, besok kau harus bangun pagi-pagi untuk bekerja di sini." ucapan Eric sudah sangat melukai perasaan Dinda, dia yang tidak pernah dianggap istri oleh suaminya sendiri malah sekarang dijadikan asisten rumah tangga.
"Tapi tuan besok pagi saya ada kuliah jam sembilan, bisakan Dinda keluar?" izin Dinda.
"Asal pekerjaanmu sudah selesai pergilah dan ingat jika sudah selesai langsung pulang jangan malah keluyuran di luar." peringat Eric.
"Tapi aku mau ke toko roti dulu setelah dari kampus."ucap Dinda dalam hati.
"Iyya Tuan."
Eric baru ingin melangkah keluar dari kamar yang berukuran kecil itu, Dinda menahannya.
"Tuan mau ke mana?" tanya Dinda.
"Ya ke kamarku lah." jawabnya yang sudah berbalik lagi.
__ADS_1
"Ohh.."
Eric sudah meninggalkan kamar itu, lalu kembali ke kamarnya semula.
Setelah selesai sholat subuh, Dinda bergegas keluar kamar untuk membuat sarapan karena Dinda akan berangkat ke kampus jam sembilan pagi.
"Tuan Dinda mau berangkat dulu, assalamualaikum." ucapnya ketika melihat Eric di ruang tamu. Eric memang masih menunggu Rian dari tadi.
"Ehmm"
Saat Dinda berjalan keluar dia berpapasan dengan Rian yang sudah datang.
"Hai Dinda, mau ke mana?" sapa Eric terlebih dahulu.
"Hhh kak Rian, Dinda mau ke kampus."
"Oh, pantas baru pagi udah rapi banget." Rian menatapnya dengan senyuman yang manis. pemandangan itu tidak lepas dari penglihatan Eric yang sudah sangat menajam.
"Dinda pergi dulu kak, assalamualaikum." walau Dinda hanya tertunduk ketika bicara dengan Rian, tetap saja Eric tidak suka melihatnya.
"Wa'alaikumsalam".
Berhubung sekarang hari weekend Dinda hanya ke kampus untuk menyerahkan tugas proposalnya lalu ke toko roti bertemu Bu' Suzan.
"Apa yang mau di tanda tangani?"tanya Eric jutek.
"Ih baru juga gua sampe udah marah-marah aje."
"Gue mau ke ruangan gym, cepetan mana dokumennya?" Eric masih kesal dengan Rian setelah melihatnya berbincang dengan Dinda.
"Iya iya, sabar dong, ini!" Rian menyerahkan dokumen itu ke Eric.
"Eeh Ric, Dinda kuliah di mana?" tanya Rian.
"Kenapa lu mau tau hah?" Rian bertanya, Eric malah balik bertanya dengan sewot.
"Ih apa si lu, orang nanya juga."
"Hah, kampusnya jauh dari sini."
"Lah terus lu biarin dia pergi sendiri? dia naik ojek online sendiri ke tempat sejauh itu? gila lu nggak takut Dinda di apa-apain?" Rian bingung bisa-bisanya Eric biarin Istrinya naik ojek sampai ke tempat yang sejuah itu.
"Biarin aja, kalau mau di apa-apain bukan urusan gua" jawab Eric asal, padahal dia berpikir panjang, dia kembali teringat pada kejadian di dalam pesawat.
"Hati-hati aja lu, banyak laki-laki yang pikirannya tidak sama , tidak jarang dari mereka mau menjebak gadis yang di incarnya." nasihat Rian yang semakin membuat Eric gelisah.
__ADS_1
*****
like, coment and vote guyss. 🖤❤️