Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Haid.


__ADS_3

Selesai makan malam Dinda maupun Eric mengerjakan kesibukan masing-masing, Eric dengan laptopnya sedangkan Dinda yang berbenah diri di dalam kamar mandi.


"Selesai juga ini." Eric merapikan mejanya lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya.


"Udah selesai Mas?" tanya Dinda saat keluar dari kamar mandi tapi, dia sudah mendapatkan Eric yang berbaring di atas kasur.


"Mmh, sudah." Eric memerhatikan apa saja yang dilakukan Dinda, mulai dari mengecek ponselnya hingga saat Dinda memakai lotion yang beraroma vanila di tubuhnya.


Sebelum naik ke atas kasur Dinda mematikan lampu lalu menghidupkan lampu tidur di samping kiri dan kanan kasur.


"Sini!" Eric menepuk kasur di sampingnya menandakan ia memerintah Dinda cepat tidur di sampingnya.


Tapi, Dinda duduk dulu di atas kasur untuk membaca doa lalu merebahkan tubuhnya di samping Eric.


Saat Dinda ingin menghadap ke kanan Eric mencegahnya lalu menarik Dinda ke pelukannya.


"Kalau tidur itu biasakan jangan memunggungi suami." tegur Eric sambil mengelus punggung Dinda.


"Iyya Mas maaf Dinda lupa."


Eric baru berniat memejamkan matanya tapi, Dinda terus bergerak di dalam pelukannya membuat dirinya terusik.


"Kenapa bergerak terus?"


"Dinda sesak Mas." mendengar keluhan Dinda, Eric mengangkat tubuhnya dengan mudah hingga wajah Dinda sejajar dengan wajahnya.


"Mas meluk Dinda terlalu kencang." protes Dinda.


"Iyya maaf lain kali tidak lagi. Atur nafasku!" Dinda menghirup udara lalu menghembuskan dengan semangat.


Ditengah Dinda yang mengatur nafasnya Eric terus memperhatikannya, bibir itu menarik perhatiannya lagi dan lagi. Perlahan tangan Eric terangkat mengelus pipi Dinda sambil menariknya semakin mendekat ke arah wajahnya. Jangan kira Eric bisa menahan na*sunya ketika berdekatan dengan Dinda, tentu saja tidak, dia hanya berusaha untuk meredam n*fs*nya itu ketika melihat Dinda tidur di sampingnya. Eric adalah pria normal yang tidak bisa menahan n*fs*nya lebih lama


dan sepertinya dia akan meminta malam Dinda melaksanan kewajibannya sebagai seorang istri malam ini.


Bibir Eric mulai m*lum*t benda kenyal itu bergantian hingga membuat Dinda merasa sesak karena Eric tidak memberikannya cela untuk bernafas, ditambah Dinda yang masih terbilang pemula untuk hal ini.


"Mmpphh.." tangan Dinda memukul-mukul dada Eric agar pria itu segera melepas pangutannya.


"Maaf, hah..hah.." Eric juga tampaknya hampir kehabisan nafas tapi, bagaimana lagi dia terlalu men*km*ti bibir Dinda.


"Massh mau bunuh Dinda yahh?" omel Dinda.


"Maaf, mas tidak sengaja."

__ADS_1


Eric beralih mencium kening hingga semua wajah Dinda agar, gadis itu tidak marah lagi.


Dinda merasa takut karena ini pertama kalinya Eric bertingkah seperti ini, bahkan hembusan nafasnya juga terasa berat.


"Dindaa.." ucap Eric sambil menyatukan keningnya dengan suara beratnya.


"K-kenapa mas?" Dinda menatapnya dari bawah kendali Eric.


"Bisakah??" tanya Eric yang sangat ambigu di telinga Dinda.


"Bisa apa?" Dinda menarik wajahnya menjauh dari Eric lalu menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"I-itu.."


"Apa mas Dinda tidak mengerti." Dinda dengan tatapan penuh tanya dan polosnya itu semakin membuat Eric gemas sendiri.


"Bisakah Mas mengambil hak mas malam ini?" ujar Eric sambil mengelus pipi Dinda.


"Hak? hak apa? apa mas punya sesuatu di Dinda?" sungguh Eric rasanya ingin membanting sesuatu di dekatnya melihat kepolosan istrinya.


"Susahnya mempunyai istri yang masih dalam tahap dewasa, mengerti hal seperti itu saja tidak!" gerutu Eric dalam hati.


"Sudahlah.., kau tidur saja." Eric menjauh dari Dinda lalu tidur dengan membelakanginya.


"Mas.., beritahu Dinda dulu, mas minta hak apa? Dinda tidak mengerti." Dinda yang merasa bersalah mendekati Eric sambil menarik tangannya untuk berbalik ke arahnya kembali.


"Tidak!! Dinda ingin tahu dulu, mas jelaskan dulu, Dinda benar-benar tidak mengerti tentang hak itu." yang ada di pikiran Dinda, hak yang dimaksud Eric itu adalah berupa barang atau uang yang pernah Dinda pinjam.


"Tidak perlu tahu hak apa yang kumaksud." Eric juga sudah tidak mood membahas itu lagi, ditambah kepolosan Dinda membuat nafsu yang semula ada di ubun-ubunnya tiba-tiba teredam begitu saja.


"Mas Dinda mau tahu, jelaskan dulu sebentar." Eric yang sudah lelah mendengar rengekan Dinda akhirnya berbalik ke arahnya.


"Yang ku maksud hak itu adalah, hubungan SUAMI-ISTRI. Mas tadi meminta kau mela*y*niku malam ini tapi, kau tidak mengerti." Eric menekan pada kata Suami-istri agar Dinda mudah mengerti maksudnya.


Dinda sendiri yang sudah mengerti maksud Eric tiba-tiba wajahnya bersemu merah karena malu.


"Ohh., Dinda tidak tahu tadi mas. Lagian Dinda tidak bisa melakukan itu dulu Mas." Dinda duduk di tempatnya sambil menunduk merasa bersalah.


"Apa kau belum siap?" tanya Eric.


"Bukan Mas. T-tapi, Dinda memang sedang datang bulan." ucap Dinda tanpa melihat wajah Eric membuat Eric tersenyum melihatnya, dia kira Dinda akan menolaknya tapi, ternyata Dinda hanya dalam masa periode.


"Sampai kapan?"

__ADS_1


"Apanya?"


"Ck, hahh, itu masa haidmu berapa hari lagi?" ucap Eric yang terlihat mulai jengkel lagi.


"Tiga hari lagi, setelah itu Dinda baru mandi wajib."


"Hmm baiklah aku akan menunggu, sekarang tidurlah." Eric tersenyum melihat Dinda yang mengangguk, itu tandanya dia tidak ada penolakan.


Keesokan harinya, mereka berangkat ke kantor bersama meski mereka tidak bersama sampai di kantor karena, Dinda akan memaksa singgah lagi di perempatan jalan.


"Hati-hati saat menyebrang!" ucap Eric setelah Dinda mencium tangannya.


"Iyya Mas." balas Dinda yang agak terburu-buru.


Eric masih memperhatikan Dinda yang berjalan menuju kantor dengan buru-buru tapi tetap berhati-hati.


Sedangkan di kantor Dinda sudah di tunggu dari tadi oleh Sima, pasalnya dia ingin mengajak Dinda untuk pergi menonton film romantis keluaran terbaru di bioskop setelah pulang kantor.


"Din, kok tumben lambat datangnya?"


"Iyya nih, aku tadi bangun kesiangan."


"Yahh lain kali pasang alarm dong."


"Iyya semalam aku sangat lupa."


"Eeh nanti setelah pulang kantor kita pergi nonton yuk!" ajak Sima dengan sangat antusias.


"Nonton di mana?"


"Yah di mall lahh, masa aku ajak kamu nonton tv di rumahku."


"Jauh nggak?"


"Nggak kok, mall X yang dekat-dekat sini tapi, kita pulangnya setelah sholat isya."


"Lama dong kita di sana nanti. Aku izin dulu yah sama orang di rumah, nanti aku di cariin."


Dinda juga tidak yakin Eric akan mengizinkannya pergi karena pulangnya malam. Tapi, dia akan mencoba bicara pada Eric nanti.


"Iyya tanya dulu mereka, nanti pulangnya aku antar kok, nggak mungkinkan kamu pulang sendiri."


Dinda mengangguk lalu duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


*****


Like, coment beri gift dan vote guyss. 🖤❤️


__ADS_2