Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Meminta Nomor WhatsApp Dinda.


__ADS_3

"Kau yakin hanya ke kampus? tidak ada yang lain?" tanya Eric semakin memajukan wajahnya membuat Dinda menahan nafasnya.


"I-iyya.."Jawabnya dengan memundurkan kepalanya.


"Tuan, Dinda mau keluar dulu." Dinda mencoba melarikan diri dari Eric yang dari tadi tidak meninggalkan tempatnya.


Eric memegang tangan Dinda yang mencoba kabur.


"Kau belum menjawab pertanyaanku! jangan berani meninggalkan ruangan ini jika belum menjawab pertanyaanku." Eric malah menarik tangan Dinda lalu dihempaskan ke sofa.


"Jawab, kau dari mana setelah dari kampus? kau pulang dari kampus jam dua belas siang bukan? lalu kau sampai ke rumah setelah aku baru sampai juga. Kau dari mana saja keluyuran hah!" Eric mengeluarkan semua Uneg-uneg yang ada di otaknya.


Mendengar bentakan dan pertanyaan Eric membuat Dinda bingung menjawabnya.


"Bagaimana Tuan bisa tau aku pulang jam dua belas dari kampus? atau aku bilang saja yang sebenarnya?" Dinda menatap Eric yang berdiri di depannya.


Flashback on.


"Kau pantau terus dia, kemanapun dia pergi ikuti terus." Eric menelfon seseorang di seberang sana meminta untuk memantau pergerakan Dinda.


"Pria itu tadi menemui gadis itu Pak dan mengajaknya untuk berkenalan. Sepertinya gadis itu punya masalah dengan pria itu Pak."


"Hah? masalah apa lagi yang dibuatnya? cari tahu saja masalahnya." perintah Eric.


"Baik Pak."


"Dimana dia sekarang?" tanya Eric.


"Dia masih ada di kampus." lapor orang suruhannya.


Tuut...


Eric mematikan telponnya.


"Pria itu pasti selalu mengikuti Dinda." Eric sudah tahu beberapa hari yang lalu jika pria yang selalu memperhatikan Dinda di dalam pesawat ternyata satu kampus dengan Dinda.


"Ck, masalah apa yang ada diantara mereka?" Eric bertanya-tanya sendiri didalam ruangannya.


Ting...


Eric segera membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Siapa? penting banget langsung buka hp." Rian bertanya dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


"Jangan bicara sambil makan, muncrat nanti kemana-mana."


"Pak gadis itu pergi ke toko roti."


"Hah? ngapain dia ke toko roti?" ucap Eric dalam hati takut terdengar oleh Rian. Bisa-bisa Rian mengejeknya jika tahu dia menyewa seseorang untuk mengikuti Dinda.


"Pantau saja terus." balas Eric.


Flashback off.


Eric pergi mengambil kursinya, menarik ke depan Dinda lalu duduk di depannya, seperti Dinda akan di interogasi.


"Kau bisa menjelaskan pertanyaan ku tadi?" tanya Eric kembali.


"Hei!! aku tidak menyuruhmu untuk duduk lalu terdiam disini, aku meminta penjelasan." Eric membentak Dinda yang masih diam membisu di tempatnya.


"Itu, tadi dari panti Dinda ke kampus dulu." Dinda masih setia melihat kaki Eric.


"Jangan melihat kakiku, wajahku bukan di bawah!" Dinda merasa akan disidang dengan kasus yang sangat fatal, sampai wajahnya sangat pucat.


"Kau punya masalah apa dengan pria itu?" tanya Eric saat Dinda sudah mengangkat wajahnya.


"Pria yang mana?"


"Hah, tidak lupakan saja." Eric membatalkan niatnya yang ingin menanyakan tentang pria itu, dia yang akan mencari tahu tentang masalah itu sendiri nanti.


"Dinda ke toko roti Tuan." Dinda menjawab dengan jujur.


"Apa yang kau lakukan di toko roti sampai pulang hampir Maghrib?"


"Emhh, Dinda kerja di sana Tuan." Mendengar penuturan Dinda membuat Eric mengingat tuduhannya yang tidak benar pada Dinda.


"Oh, sejak kapan kau kerja disana?"


"Sudah lama Tuan, sejak lulus SMA Dinda ikut kerja di toko roti Bu Suzan."


"Sampai hari apa jadwalmu bekerja di sana?"


"Setiap hari." jawab Dinda.


"Kau bekerja sebagai apa di sana?" Eric menanyakan sampai ke akar-akarnya.


"Dinda bekerja sebagai pelayan, tapi sering membantu orang-orang yang ada di dapur juga."

__ADS_1


"Kau tidak malu bekerja seperti itu" Eric menatap Dinda sambil menelusuri badannya mulai ujung kaki hingga kepala, seolah menilai jijik pada Dinda. Dinda sadar akan arti tatapan itu.


"Tidak Tuan, Dinda sama sekali tidak malu, itu pekerjaan yang halal. Gaji Dinda saja dari bekerja sebagai pelayan sudah cukup membeli makanan untuk keluarga Dinda di panti." pernyataan yang berhasil membuat Eric lumayan kasihan dengan Dinda, walau hanya sedikit.


"Oh baiklah, tapi ingat kau tinggal disini harus membersihkan setiap sudut rumah dan melakukan pekerjaan yang semula menjadi pekerjaan Bi Sum, jadi atur waktumu dengan baik." Eric masih menyuruh Dinda tetap melakukan pekerjaan rumah meski sudah tahu jadwal Dinda lumayan padat, ditambah jarak rumah ke kampus tidak dekat pasti akan sangat sulit bagi Dinda mengerjakan semuanya.


"Iyya Tuan, Dinda masih ingat pekerjaan yang harus dilakukan." Dinda kembali menunduk.


"Dengar, jangan bilang aku tahu kau bekerja diluar, aku jadi meringankan pekerjaan mu, itu tidak akan terjadi, mengerti!!" ucap Eric sambil memajukan tubuhnya menatap wajah ayu itu.


"Iyya Tuan, tidak apa-apa, Dinda masih bisa kerjakan pekerjaannya kok." Dinda mengangkat kembali wajahnya, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Eric.


"Dinda sudah bisa keluar tuan?" tanya Dinda.


"Keluar!" ucap Eric.


Dinda berdiri dari hadapan Eric lalu keluar dari ruangan kerjanya Eric.


"Huft" Eric menyandarkan tubuhnya di kursi.


Ditempat lain, Juna bertemu seseorang.


"Kau sekelasnya Dinda kan?" tanya Juna pada pria yang diyakini sekelas dengan Dinda.


"Iyya Kak, memang kenapa?"


"Berikan aku nomor WhatsApp-nya." Juna lupa, tadi saat bertemu dikampus kenapa tidak sekalian meminta nomor Dinda. Walau bagaimanapun saat dia minta Dinda tidak akan memberikannya.


"Aku tidak punya nomornya Kak."


"Hah? kau satu kelas tapi tidak saling save kontak, bagaimana bisa?" Juna bingung, soalnya dia dengan semua teman sekelasnya saling save kontak masingmasing.


"Dinda memang jarang berinteraksi dengan kami, karena jika kelas selesai dia langsung pulang, tapi dia punya beberapa teman dikelas sih." pria itu bercerita tentang Dinda, semua yang diketahuinya.


"Coba minta di temannya itu, aku butuh kontaknya sekarang." Juna tidak menyerah begitu saja, sekarang dia meminta bantuan untuk meminta kontak Dinda di temannya yang lain.


"Iyya nanti Kak aku chat temanku yang lainnya."


"Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti? udah sekarang saja aku sangat butuh." Juna tetap bersih keras memaksa pria itu.


"Hah, Iyya tunggu sebentar ponselku habis baterainya."


"Ini pakai ponselku cepat." Juna menyodorkan ponsel mewahnya.

__ADS_1


"Memang aku menghafal nomor temanku itu? Mana bisa aku ingat nomor mereka. Sabar dulu sebentar lagi akan bisa nyala tuh hp." lama-lama teman sekelas Dinda emosi mendengar perintah Juna, yang seolah tidak akan hari esok untuk meminta nomor WhatsApp Dinda.


"Ck Iyya, tapi besok aku mau nomornya Dinda sudah ada." Juna meninggalkan pria itu di cafe setelah meletakkan uang untuk bayar makan dan minum mereka.


__ADS_2