Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Di Pecat!


__ADS_3

"Hmm.., enak dong lu pas malam itu, obatnya bereaksi saat Dinda sama lu." ejek Rian.


"Heh, itu bukan urusan lu, kerjaan lu cuman nyelidikin siapa yang mau menjebak Dinda." Eric sangat tahu arah pembicaraan sahabatnya itu, sudah pasti dia akan di ejek jika Rian tahu, malam itu tidak terjadi apa-apa.


"Iyya deh. Parah lu kalau sampe belum unboxing Dinda malam itu, udah kesempatan itu."


"Udah diem! perhatian saja rekaman CCTV-nya." Rian mengalihkan pandangannya lagi ke arah layar di depannya.


"Dia yang tadi membawa minuman untuk Dindakan?!" ucap Eric saat melihat perempuan yang memakai gaun yang sama.


"Iyya dia, sepertinya mereka ber-empat bersekongkol menjebak Dinda."


"Apa yang pria itu katakan?" tanya Eric mengenai kedua pria yang berada satu kamar dengan Dinda.


"Liat aja videonya!"


"Bicara!! siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" bentak ajudan Eric yang bertubuh kekar.


Melihat kedua pria itu tidak ada yang berbicara, pria itu melayangkan tinjunya pada pria itu.


"Oh kau tidak ingin berbicara? kuberikan kau pilihan bicara sekarang atau kau tidak akan pernah bisa berbicara lagi mulai dari sekarang?" ajudan itu menodongkan senjata tajam ke arah leher pria yang dari tadi hanya terdiam.


"I-iya gue bakal ngomong, tapi pindahin dulu pisaunya." pria itu sudah keringat dingin merasakan pisau itu hampir menembus kulitnya.


"Pilihan yang bagus."


"Sebenarnya kita di suruh oleh Lucy dan teman-temannya, karyawan di perusahaan Pratama Group. Dia menyuruh kita untuk menjebak gadis itu."


"Menjebak bagaimana?" tanya ajudan di dekat pintu.


"Mereka menyuruh untuk mem-foto gadis itu tel*nj*ng dengan gue agar terlihat seperti kami habis bercinta."


Eric mengepalkan tangannya lalu menutup laptop mahal di depannya dengan keras.


"Nanti temani gue ketemu sama tuh dua orang."


"Oke."


"Tolong panggil Lucy dan teman-temannya ke ruangan saya!" ucap Eric pada alat perekam telepon untuk sekretaris-nya.

__ADS_1


Di ruang divisi keuangan sendiri Lucy dan teman-temannya tengah berbincang mengenai masalah malam itu.


"Kenapa tuh cowok nggak ada kabar sampe sekarang? bahkan foto yang kita suruhkan juga nggak dia kirim." Lucy dari kemarin sudah sangat resah menunggu kabar pria yang disuruhnya, pasalnya semenjak malam itu dia tidak ada kabar sedikitpun.


"Iyya gue juga nunggu e-mailnya tapi nggak ada tuh dia kirim fotonya."


Mereka tidak tahu saja kalau ke-dua pria suruhannya itu sudah tertangkap oleh Eric dan Rian, mereka juga masih ada di dalam markas para ajudan Pratama Group.


"Permisi, kalian dipanggil Pak Eric ke ruangannya." ucap karyawan yang di suruh sekretaris Eric.


"Hah? kenapa pak Eric?" ucap Lucy heran, pasalnya CEO mereka hanya memanggil orang-orang penting dan para ketua di berbagai bidang ke ruangannya.


"Saya juga tidak tahu, saya hanya melaksanakan tugas saya."


"Baiklah, terima kasih."


Mereka ber-empat berjalan dengan rasa takut menyelimuti dirinya ke ruangan CEO.


"Lucy, kok perasaan gue nggak enak yah?" ucap Risa tiba-tiba.


"Ah, itu mah cuman perasaan lu aja, gue nggak kok." ucap Lucy yang masih terlihat santai.


Tok...tok...tok...


"Apa yang kau perbuat pada Dinda saat pesta malam itu?" ucap Eric to the poin, dia sudah tidak sabar memberikan pelajaran pada karyawati di depannya.


Wajah mereka langsung pucat saat mendengar nama Dinda di sebutkan.


"Emh, k-kita tidak melakukan apa-apa pada Dinda Pak!" Lucy menyangkal.


"Sungguh? lalu kenapa ada laporan jika Dinda ditemukan di kamar hotel dalam keadaan tidur dengan dua pria yang hampir melecehkannya?"


"K-kita tidak tahu Pak." giliran Risa yang menyangkal.


"Lalu kenapa kau yang memberikan Dinda jus? dia bisa sendiri pergi mengambil untuk dirinya sendiri, lagipula minumannya masih ada di gelasnya." ucap Rian dari belakang mereka membuat Lucy dan kawan-kawannya menoleh ke arah Rian.


Eric tidak ingin mengambil waktu yang lama, dia membuka laptop di depannya lalu memutar rekaman CCTV ruang dapur hotel yang menampilkan Risa memberikan obat pada minuman di depannya.


"Lihat! kau memasukkan apa ke minuman itu?" wajah Eric terlihat sangat menyeramkan saat ini, ditambah suaranya yang bagaikan basoka yang tengah di ledakkan.

__ADS_1


Mata Risa melebar melihat video yang diputar itu.


"I-itu saya hanya memberikan obat biasa Pak."


"Maksudmu obat biasa? obat tidur dan per*ngs*ng?" Risa menunduk mendengarnya.


"Jika kau tidak mengaku, akan saya pastikan kalian akan menyesal nanti." ancam Eric.


"B-baik, Iyya itu obat tidur dan per*ngs*ng." Lucy sangat takut mendengar ancaman Eric, CEO-nya itu sangat berkuasa jadi, sangat tidak mungkin dia tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkannya.


Rian memutar video CCTV saat Lucy dan teman-temannya membawa Dinda dengan keadaan tertidur ke dalam kamar hotel.


"Untuk apa kau membawanya ke dalam kamar?" tanya Eric dengan tangan sudah mengepal kuat.


Mereka menunduk mendengar pertanyaan Eric.


Brakk!


"Saya bertanya kenapa kau membawa-nya ke dalam kamar!?" tanya Eric di sertai pukulan keras pada meja kerjanya yang berbahan kaca. Sehingga, kaca mejanya retak akibat pukulannya.


Ke-empat perempuan itu sontak kaget disertai tremor pada tubuhnya. Jangankan Lucy dan teman-temannya, Rian juga ikut kaget mendengar suara pukulan Eric.


"Gua baru pertama kali liat Eric semarah ini, bahkan dulu saat dia memergoki Naura dan Leo dia tidak separah ini." ucap Rian dalam hati.


"Tidak ada yang ingin bicara? atau kalian sungguh tidak ingin bernafas keluar dari ruangan ini?!" ancam Eric.


"S-saya Pak, saya yang akan bicara." Risa yang membuka suara karena, jika Lucy atau yang lainnya ditunggu untuk berbicara, bisa-bisa mereka benar tidak akan melihat matahari lagi besok.


"K-kami membawa Dinda ke dalam kamar untuk mem-fotonya tidur bersama laki-laki Pak, a-agar dia bisa di pecat dari kantor ini." jelas Risa dengan terbata-bata.


"Kenapa kau sangat ingin dia keluar dari kantor ini?" tanya Rian yang sudah berdiri di depannya.


"K-karena Dinda, kami jarang mendapat tugas projek dan Dinda juga selalu di banggakan oleh pak David." kali ini teman di samping Lucy yang berbicara.


"Diam!! aku tak perlu alasan kalian, sekarang bereskan barang-barang kalian lalu tinggalkan kantor ini segera!" ucap Eric.


"Pak, jangan pecat saya pak, saya mohon!" ucap Lucy dengan wajah sedihnya.


"Tidak ada ampun bagi kalian, sekarang keluar!!"

__ADS_1


dengan berat hati mereka meninggalkan ruangan Eric.


"Dengar! tidak perlu mencari kerja lagi selama satu tahun ke depan karena, nama kalian sudah di blacklist dari semua perusahaan."


__ADS_2