Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Dinda Tidak Sehat.


__ADS_3

"Bi Sum kalau mau pulang ke rumah mama nggak papa kok, Dinda bisa sendirian di sini." ucap Dinda pada bi' Sum yang tengah membereskan piring bekas makan Dinda.


Sejak bangun dari tidurnya, Dinda merasa mual, bahkan kepalanya terasa berdenyut-denyut. Mungkin karena ia menangis semalaman, ditambah dia juga makan malam sebelum tidur.


"Bibi di suruh Bu Hasna ke sini sama Mang Diman buat nemenin non Dinda. Langian bi'Sum betah kok disini." ucap bi'Sum.


"Baiklah, Bi' Sum di rumah nggak usah capek-capek, istirahat saja yah. Dinda pergi dulu yah bi'."


"Yakin mau ke kantor, katanya tadi kepalanya sakit. Non kalau memang tidak enak badan, tidak usah di paksakan ke kantor." saat memasak sarapan Bi' Sum melihat Dinda sempat mual-mual, makanya ia mengingatkan Dinda pasal kesehatannya.


"Iyya tadi memang sakit, tapi sekarang udah mendingan Bi', mungkin karena semalam Dinda memang lupa makan malam lalu tidur, makanya pas bangun mual dan sakit kepala."


Setelah berpamitan, Dinda segera berangkat karena, ojek online-nya juga sudah di depan.


"Mas jangan lupa sarapan yah!!!"

__ADS_1


ketik Dinda lalu mengirimnya pada Eric.


Eric yang sedang memperhatikan Rian presentasi, mengalihkan perhatiannya ke arah ponselnya. Eric tersenyum saat melihat isi pesan Dinda, tiba-tiba ia sangat merindukan istrinya itu. Merindukan masakannya, caranya mengurus dan memberikan perhatian layaknya seorang ibu, dan ia sangat merindukan tubuh yang menjadi candu baginya.


Tanpa membalas pesannya, Eric langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku di balik jasnya. Di seberang sana, Dinda hanya menatap ponselnya dengan kosong, menanti balasan dari Eric.


"Apa semarah itu mas Eric, sampai-sampai membalas pesanku saja dia tidak mau." ujar Dinda dalam hati.


Hari-hari berlalu begitu saja, hingga tak terasa hari ini Eric maupun Rian, sudah hampir satu bulan berada di negara tetangga, yaitu Singapura. Perkembangan proyek Eric semakin membaik dan kabar baiknya lagi, tinggal menghitung hari proyek itu akan selesai. Sedangkan Dinda, dia hanya sibuk bekerja dan menyusun skripsinya, sampai tidak memikirkan masalah kesehatannya. Dinda sudah satu pekan menginap di panti, dia kesana karena merasa sangat kesepian, karena Bi' Sum juga pulang kampung sebab ada keluarganya yang meninggal.


"Nggak tau tuh Sim, mungkin masih lama." Dinda memang sudah jarang berkomunikasi dengan Eric, jika berkomunikasi, itupun hanya melalui pesan, bukan telfon. Eric juga tidak pernah memberitahu kapan ia akan pulang ke Indonesia, mereka berdua benar-benar terasa seperti orang asing.


"Kok kamu nggak tahu sih? emang pak Eric nggak ngasih tahu kamu kapan dia pulang?" Tanya Sima kembali dengan suara yang begitu pelan dan Dinda hanya menggeleng.


"Kamu sama pak Eric lagi bertengkar yah?" dengan cepat Dinda menggeleng menjawab pertanyaan Dinda.

__ADS_1


Saat jam istirahat tiba, para karyawan satu-persatu meninggalkan tempatnya untuk pergi makan siang. Melihat ruangan sudah tersisa dia dengan Dinda, Sima menghampiri Dinda di meja kerjanya.


"Din, ayo makan dulu." Ajak Sima.


"Kamu duluan aja, aku mau nyelesaiin ini dulu." Jawab Dinda.


"Din, kerja dengan giat itu memang bagus, tapi kamu perhatikan jugalah kesehatan kamu. Lihat wajahmu! itu sangat pucat." Sima memang melihat Dinda beberapa hari terakhir mual-mual, bahkan Dinda pernah pingsan saat ia meminta untuk di temani. Untungnya saja saat itu Dinda cepat siuman, belum sempat Sima memanggil dokter, tapi Dinda sudah sadarkan diri.


"Baiklah, ayo!" ucap Dinda sambil merapikan mejanya.


"Akhir-akhir ini kamu terlihat tidak baik-baik saja Din, kalau kamu ada masalah atau yg lainnya, kamukan bisa cerita ke aku." ujar Sima yang prihatin dengan kesehatan Dinda.


"Nggak kok Sim, mungkin aku hanya sedikit kelelahan karena selalu begadang buat ngerjaiin skripsi."


"Hufft.., baiklah jika kamu belum siap menceritakannya tidak apa-apa, ayo kita pergi makan dulu lalu sholat."

__ADS_1


__ADS_2