Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Jujur pada Sima.


__ADS_3

Untung saja hari ini hari Sabtu, jadi Dinda bisa istirahat tanpa memikirkan untuk bangun cepat ke kantor. Eric juga masih sibuk di dapur, dari tadi dia belum bisa menyelesaikan masakan yang akan di buatnya itu, meskipun hanya ingin membuat nasi goreng biasa, tapi Eric memasaknya seperti sedang memasak rendang sangking lamanya.


Sudah jam 7 pagi, alarm jam berbunyi otomatis sehingga Dinda bangun dibuatnya.


"Mas Eric masih di dapur? kok belum kembali." Dinda melihat di penjuru kamar, tapi orang di carinya itu belum menampakkan diri. Akhirnya Dinda mencoba menyusul Eric di dapur.


"Ohh..stt.." Dinda mendesis menahan peri di area sensitifnya dan mulai melangkah dengan hati-hati ke dapur.


"Ck, kenapa nasinya selalu hangus sihh!!" gumam Eric.


"Apinya kebesaran Mass.." ucap Dinda yang melangkah dengan hati-hati ke arah Eric.


"Ehh.., kenapa kesini? kamu udah lapar yahh?" Eric menghampiri Dinda lalu tanpa aba-aba dia mengangkat Dinda lalu meletakkannya di atas meja kitchen set mewah itu.


"Astaga mas, turunkan Dinda!!" ucap Dinda dengan kaget.


"Nggak usah, kamu di situ saja liatin aku masak." Eric masih berdiri di depan Dinda sambil mengecup bibir Dinda.


"Biar Dinda aja yang masak mas. Kamu dari tadi mau masak tapi belum selesai-selesai."


"Hehehe, Iyya sih tadi memang mau masak, kan ada Bi' Sum yang bantuin, tapi Bi Sum nggak ke sini hari ini."


"Kenapa Mas?"


"Mang Diman demam, jadi Bi' Sum jagain dulu Mang Diman." Dinda membulatkan bibirnya sambil mengangguk paham.


"Sekarang turunin Dinda, supaya kita cepat makan. Dinda udah sangat lapar mas, dari tadi malam."


"Baiklah kalau begitu, tapi kamu bisa berdiri tidak?"


"Ya bisalah mas, Dinda aja dari kamar kok ini." Akhirnya Eric menurunkan Dinda dengan mudahnya di depan kompor.


"Mau di ambilkan apa? biar mas yang ambilkan, kau di sini saja berdiri." ucap Eric yang mengerti keadaan Dinda.


Selesai sarapan mereka kembali ke dalam kamar untuk bersantai. Eric benar-benar mengurung Dinda seharian ini, tanpa membuatnya keluar untuk melakukan apapun, termasuk memasak. Eric hanya memesan makanan siang dan malam dari luar, karena Dinda sudah tidak mempunyai tenaga untuk turun memasak. Semua ini ulah Eric yang setelah sarapan malah membawa Dinda ke kamar lalu meminta jatah kembali.

__ADS_1


"Sayang?? ayo kita makan malam, lalu tidur kembali." Eric membangunkan Dinda di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya.


"Mmhh..Dinda nggak lapar mas, tapi Dinda capek." ucap Dinda setelah membuka matanya dengan sempurna.


"Iyya mas tahu, tapi makan dulu lalu kembali tidur, tadi siang kamu nggak makan, nanti sakit."


Dinda duduk dengan bersandar di headboard, lalu Eric membawa nampan yang berisi makanan yang sudah di pesannya.


"Buka dulu selimutnya!" perintah Eric yang membuat Dinda membulatkan matanya.


"Dinda nggak pakai apapun Mas." Eric tertawa sambil menggelengkan kepalanya, lalu ke lemari mengambil kaos oblong oversize yang biasa dikenakan Dinda.


"Ini, pakai dulu." Dinda menerima baju itu, lalu memakainya. Tapi Eric sebelum memakainya, dia terlebih dahulu menyuruh Eric untuk berbalik memunggunginya.


"Sudah?"


"Iyya."


"Makanlah dulu, lalu istirahat."


Flashback on.


*Jam makan siang telah tiba, tapi bukannya ke kantin untuk makan, Sima malah menarik Dinda ke dapur kantor untuk menyita cerita Dinda. Jika jam istirahat, dapur akan akan sepi, makanya Sima mengajak Dinda ke sana.


"Ceritakan sekarang!" ucap Sima dengan penuh tekanan tapi masih dengan nada rendah.


"Iyya, sabar dong! ini aku lagi ambil kursi." sangking buru-burunya, Dinda bahkan belum duduk dengan benar di kursinya, tapi sudah dimintai penjelasan.


"Nah sudah dudukkan?! cerita cepat!" Dinda hanya bisa menghela nafasnya melihat Sima yang seperti orang yang akan ketinggalan pesawat.


"Kau mau bertanya yang mana?"


"Haissh, kau ini. Tentu saja aku bertanya hubunganmu dengan pak Eric, kenapa dia menjemputmu malam itu? Dan, kenapa kau tidak memanggilnya dengan sebutan 'Pak'? Kau malah memanggilnya dengan sebutan 'Mas'?" Sima mengeluarkan semua pertanyaan yang sudah menghantuinya beberapa hari terakhir ini.


" Sebenarnya hubunganku dengan pak Eric bukan hanya atasan dan bawahan." ucap Dinda dengan menundukkan pandangannya, dia juga akan mengatakan yang sebenarnya pada Sima, dia yakin Sima akan bisa menjaga rahasianya dengan baik.

__ADS_1


"Terus apa?" tanya Sima dengan antusiasnya.


"Tapi Sim, aku mohon jangan sampai ada yang tahu yahh!? hanya kamu yang aku beritahu di kantor ini."


"Iyya aku janji, memang kau tidak percaya denganku?" Dinda menggeleng cepat membuat Sima tersenyum.


"Aku dengan pak Eric sebenarnya sudah menikah, kami itu Suami-istri."


"APA??!!" ucap Sima yang sangat syok hingga tanpa sadar suaranya sangat besar.


"Ssttt..Sima jangan ribut!" ucap Dinda sambil membekap mulut Sima yang masih syok berat.


"Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang Sim, kalau mau di ceritakan bisa-bisa kita bermalam di sini. Tapi Sim, jangan tanya siapapun yahh, karena pak Eric tidak ingin mempublikasikan pernikahan ini."


ujar Dinda sekali lagi.


"Tapi, kita semua sudah tahu kalau pak Eric itu sudah menikah, hanya saja dia memang tidak memberitahu siapa istrinya itu."


"Makanya Sim, aku berpikir mungkin Mas Eric belum siap mengakui ku sebagai istrinya."


"Dinn, kalian menikah karena saling mencintai-kan?" tanya Sima memastikan, tapi Dinda menjawabnya dengan gelengan pelan.


"Kita di jodohkan Sim." Sima bisa berspekulasi bahwa pernikahan Dinda itu mungkin tidak sepeti pernikahan pada umumnya, karena dari cerita Dinda, tampaknya CEO-nya itu memang tidak siap memperkenalkan Dinda sebagai istrinya.


"Udah-udah, ayo kita makan, nanti saja lagi ceritanya." Sima mengalihkan topik karena melihat wajah Dinda yang tampak sedih, dia juga tidak ingin bertanya lebih dalam tentang kehidupan rumah tangga sahabatnya itu.


Flashback off*


"Din, kamu pulang sendiri?" tanya Sima menghampiri Dinda menggunakan kursi kerjanya lagi.


"Iyyalah Sim, masa pulang sama kamu, kan tempat kita beda arah." Dinda tampak membereskan meja kerjanya, lalu memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas.


"Ya udah, ayo kita keluar."

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari gedung mewah itu, Sima pulang menggunakan motornya dan Dinda pulang menggunakan ojek online. Sebelumnya Dinda sudah mengatakan pada Eric akan pulang menggunakan ojek online saja, berhubung hari ini Eric katanya akan lembur dengan Rian, jadi Dinda tidak ingin mengganggu pekerjaan Eric dengan meminta mengantarkannya pulang.


__ADS_2