Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Kepanikan Eric 2


__ADS_3

Saat berada di perjalanan, Eric juga tak hentinya menelfon Dinda kembali, tapi hasilnya tetap nihil, Dinda tak menjawab panggilannya.


"Sungguh, Dinda kau adalah wanita pertama yang membuatku sampai se-khawatir ini, mama saja tidak pernah membuatku khawatir seperti saat ini." ucap Eric dalam hati.


"Kalau kau tidak ada di rumah Mama Papa, aku harus mencarimu dimana lagi?" Ucap Eric tanpa memikirkan sedikitpun jika Dinda berada di Panti Asuhan.


Perjalanan yang biasanya harus ditempuh sekitar kurang lebih satu jam, namun saat ini Eric hanya menempuhnya sekitar kurang lebih tiga puluh menit. Setelah sampai, dengan langkah kaki lebarnya, Eric menuju pintu utama, lalu mengtuknya dengan tidak sabaran.


"Assalamualaikum, Maa.., Pa..., buka pintunya." teriak Eric sambil menggedor-gedor pintu yang berwarna putih itu. Eric melihat jamnya yang menunjukkan jam sebelas lewat tiga puluh lima menit, waktu dimana semua orang sudah tidur nyenyak.


"Ma.. Pa.. buka pintunya!!!" ketika sibuk menggedor pintu, Eric mengambil ponselnya lalu menelfon Mamanya.


Drt...drt...drt...( Sambil bunyi nada deringnya.)


Cukup sekali Eric menelfonnya, karena tidak butuh waktu yang lama bagi Bu Hasna menjawab telfonnya.


"Eric? Kenapa menelfon tengah malam begini?" ujar Bu Hasna lalu menjawab panggilan Eric.

__ADS_1


"Halo?"


"Halo Ma! Ma, Eric ada di depan, buka pintunya cepat!"


"Hah? Kamu udah pulang?"


"Iyya Ma, cepat buka dulu pintunya!"


"Iyya, tunggu-tunggu." setelah memutus telfonnya, Bu Hasna segera bergegas menuju lantai dasar untuk membukakan pintu untuk putranya.


Dengan tergesa-gesa Bu Hasna menuruni tangga rumah mewah itu karena ikut panik mendengar putranya yang kepanikan.


"Hah? Dinda tidak ke sini, terakhir dia datang pekan lalu ke sini." ucap Bu Hasna yang tidak tahu menahu juga soal menantunya yang tidak tinggal di kediamannya sendiri.


"Apa? Tapi Dinda juga tidak ada di rumah Ma." Eric ayang dari tadi sudah panik, bertambah panik lagi saat mengetahui istrinya tidak ada di rumah orang tuanya.


"Eric kamu jangan bercanda yah, Mama nggak suka!" ucap Bu Hasna marah.

__ADS_1


"Ma, apa sekarang Eric terlihat bercanda? Mana mungkin Eric mau bercanda soal Dinda." Eric sudah memelas di depan Mamanya, di benar-benar sangat khawatir karena belum bertemu sang istri.


"Turus kemana Dinda, bangaimana bisa dia tidak ada di rumah?"


"Eric? Kamu sudah pulang?" Dari arah tangga, sang Papa datang karena tidak menemukan Bu Hasna di sampingnya, ditambah ada suara bising dibawah.


"Pa, Papa. Dinda tidak ada di rumah! Bagaimana ini? Dimana putriku berada ya Allah." Tangis Bu Hasna sudah pecah di pelukan pak Hasan.


"Eric ada apa ini? Jelaskan maksud Mama kamu."


"Jadi tadi saat Eric pulang, Eric langsung ke rumah. Saat sampai rumah dalam keadaan gelap, Eric pikir Dinda sudah tidur, tapi saat Eric cari di kamar dia tidak ada, bahkan Eric sudah berkeliling ke semua kamar, tapi tetap saja tidak menemukan Dinda." Jelas Eric dengan detail.


" Jika Dinda tidak ada di rumahmu, tidak ada juga disini, berarti ada kemungkinan besar dia berada di Panti Asuhan, karena Dinda tidak akan kemana-mana dia orangnya penakut dari kecil, dan tidak akan nyaman tidur di rumah orang lain." Ujar pak Hasan dengan bijaksana, karena dia tahu sifat Dinda dari kecil.


Eric seakan mendapat cahaya mendengar ucapan sang Papa, langsung bergegas ingin menuju ke panti asuhan.


"Ma, Pa. Eric ke panti asuhan dulu kalau begitu untuk memastikan Dinda ada di sana atau tidak." setelah itu Eric meninggalkan kediaman mewah orang tuanya menuju ke panti asuhan untuk menemui sang istri.

__ADS_1


"Aku yakin kamu ada di sana Sayang!" ucap Eric yakin dalam hati.


__ADS_2