
Eric duduk di balkon dengan secangkir teh hangat menemani dinginnya udara malam. Sedangkan Dinda berada di dalam karena tempat biasanya ditempati nongkrong malah di tempati Eric, ia di kalah cepat oleh Eric menempati tempat itu.
"Lu dimana?" isi chat Eric pada Rian.
Eric ingin meminta Rian memesankan tiket pesawat ke Jakarta, bukan karena Eric malas memesannya, karena memang semua karyawan maupun CEO memiliki jatah tiket pesawat keluar kota maupun negeri.
Eric juga berencana pulang dengan tanpa diketahui oleh papa dan mamanya, jika mereka tahu pasti akan diceramahi lagi walaupun Eric sudah memiliki alasan untuk pulang cepat.
"Menurut lu gua ada di mana lagi? gua lembur gara-gara berkas sia*an yang lu tinggalin." Eric hanya tersenyum walau tak dilihat Rian.
"Hahaha, udah besok aja di terusin tuh kerjaan, pulang sana." usir Eric.
"Nanggung dikit lagi." balas Rian.
"Eeh,gue mau minta tolong bentar."
"Hah , apa lagi? kalau nggak aneh-aneh gue nggak mau bantu."Eric memang pernah minta bantuan pada Rian yang konyol bahkan sering, dia pernah meminta Rian keluar malam hanya untuk membelikan kucing Eric makanan, padahal makanan kucing itu masih cukup sampai pagi.
"Nggak aneh-aneh kok, tenang aja. Gua mau minta lu pesanin dua tiket ke Jakarta besok."
"Hah? bukannya kalian di sana satu pekan yah? lah ini baru tiga hari." Rian bingung pasalnya Eric bilang di sana satu pekan, ini baru tiga hari setelah mereka pergi.
"Nggak jadi ada hal yang urgent yang harus di urus di Jakarta, perempuan itu ada ujian final pekan depan."
"Pekan depan masih lama, kenapa mau pulang besok."
"Entahlah, dia sendiri yang ingin cepat pulang, jadi kalau ketahuan papa sama mama pulang cepat, kan ada ujian finalnya sebagai alasan."
"Terserah lu deh, Iyya nanti gua pesanin."
"Okok, kabarin secepatnya kalau udah di pesan."
"Iya,iya."
Akhirnya sesi chatting-nya selesai setalah Rian banyak menanyakan sesuatu pada Eric. Sekarang Eric bingung lagi harus mengerjakan apa,tidak ada yang bisa dikerjakan hanya duduk,makan,dan tidur.
Di dalam kamar sendiri Dinda sedang membaca novel yang yang sudah dibaca berkali-kali, dia tidak pernah membeli buku lagi setelah menikah karena ia tidak mendapatkan penghasilan lagi dari toko roti Bu Suzan.
Bicara soal Bu Suzan, Dinda belum mengabarinya tentang apakah Dinda masih ingin bekerja di toko. Terakhir dia bicara dengan beliau sehari setelah pernikahannya.
Dinda berdiri mengambil ponselnya di atas meja rias. Dia mencari nomor Bu Suzan di kontaknya dan segera meneleponnya.
__ADS_1
Tuut... tuut.... tuut
"Halo, yah siapa?"ucap Bu Suzan setelah mengangkatnya dan langsung menekan tombol loudspeaker di seberang sana.
"Halo assalamualaikum Bu' , ini Dinda."ucap Dinda, tumben sekali Bu Suzan tidak tahu siapa yang meneleponnya, biasanya dia selalu memerhatikan siapa yang meneleponnya.
"ohh Dinda ini kamu? kenapa baru menelfon sekarang?" Bu Suzan memang sedang mencuci piring bekas makan tadi bersama suaminya.
"Bu Suzan lagi sibuk yah? kalau sibuk nanti saja Dinda nelfonnya." Dinda bisa mendengar jelas suara piring dan sendok berdentuman.
"Eeh nggak Nak, Ibu hanya mencuci piring ini udah mau selesai kok, tinggal satu piring lagi." Bu Suzan mengencangkan volume suaranya.
"Ya sudah Dinda tunggu." Dinda hanya menunggu sekitar lima menit sampai Bu Suzan selesai cuci piring.
"Halo Dinda?"
"Iyya Bu', udah selesai?"
"Iyya udah, eeh kamu lagi di Bali yah?" Bu Suzan memang pernah menelepon Bu Tini untuk menanyakan Dinda yang tidak masuk kerja, dia memang tidak menanyakan langsung pada Dinda, ia takut mengganggu.
"Ehmm.., Iyya Bu' , Dinda di Bali, maaf yah Dinda baru kabarin sekarang." Dinda sangat lupa mengabari Bu Suzan jika ia ke Bali, Dinda juga lupa menambah izin, izinnya hanya 5 hari dan itu telah selsai pada saat dia berangkat ke Bali.
"Tidak apa-apa kamu mungkin sibuk, jadi lupa ngabarin." ucap Bu Suzan memaklumi keadaan Dinda.
"Kamu udah minta izin belum sama suami kamu buat kerja?" tanya Bu Suzan karena Keluarga suami Dinda itu adalah Keluarga terpandang, jadi mungkin mereka akan melarang Dinda untuk bekerja lagi.
"Iyya Bu, Dinda boleh kerja kok."ucapnya bohong, Eric tau Dinda bekerja saja tidak bagaimana mau minta izin.
"Yaa sudah kamu boleh lanjut kerja kok, setelah pulang dari Bali kamu boleh lanjut lagi."
"Makasih ya Bu' , Ibu masih ngizinin Dinda kerja lagi walaupun Dinda sudah izin lama banget, pasti yang lainnya kewalahan menghadapi pelanggan." Dinda sangat menyesal bisa-bisanya dia lupa mengabari tentang kelanjutan izinnya.
"Iyya nggak apa-apa kok, santai aja, semuanya bisa ditangani dengan baik kamu nikmati saja honeymoonnya oke?"
"Iyya Bu'. ya sudah Dinda tutup dulu telponnya, assalamualaikum."
"Iyya, wa'alaikumsalam."
Dinda sudah lega, akhirnya masalah pekerjaannya di toko sudah selesai, untung saja Bu Suzan bukan orang yang pemarah seperti Bos yang lainnya.
Di balkon sudah ada Eric yang menunggu kabar sahabatnya itu. Sudah jam sepuluh malam tapi Rian belum mengabari tentang tiket pesawat yang ingin di pesannya.
__ADS_1
"Eeh , udah belum? lama banget." Eric memang tipe orang yang tidak sabaran, semuanya harus cepat dilakukan selagi masih bisa.
"Gua udah dapat tapi penerbangan malam hari dan kursinya nggak ada yang terpisah."saat Dinda menelfon tadi, Eric mengabari Rian lagi bahwa dia ingin memesan kursi yang terpisah dia tidak mau duduk berdampingan dengan Dinda.
"Cari penerbangan sekarang susah, karena cuaca juga nggak mendukung, cuman itu yang gua dapet, penebangan malam dan kursinya untuk dua orang nggak ada yang terpisah." Rian sudah mengecek semua jadwal penerbangan pesawat elit, tapi dia hanya menemukan pesawat penerbangan malam.
"Lu udah cek semua? siapa tau ada yang kursi terpisah. kalau soal jadwal penerbangan gua nggak apa-apa."
"Nggak ada, cuman itu, ada yang gua temuin tapi penerbangannya bukan besok, lu kan mau pulangnya besok kan?"
Eric berpikir jika bukan penerbangan besok, dia akan lebih lama lagi di sini, lagi pula hanya beberapa jam duduk berdampingan dengan perempuan itu di dalam pesawat.
"Ya sudah pesan aja yang itu , biarin aja bukan kursi terpisah yang penting pulangnya besok, gua disini beneran bosen banget."
"Ya udah gue pesan yah untuk dua orang."
"Iyya."
Beberapa menit kemudian Rian sudah mengirim tiket pesawat secara online ke Eric.
"Oke makasih." isi chat Eric.
"Ya."
Eric masuk ke dalam kamar, semenjak di Bali dia akan tidur lebih awal, jika di Jakarta biasanya akan tidur jam dua belas malam tapi di sini jam sepuluh dia sudah tidur.
"Hai, besok malam kita akan pulang, siapkan barang-barang mu." ucap Eric saat melewati Dinda di sofa .
"Kenapa bukan pagi?"
"Kalau kau mau pulang pagi, pulang saja sendiri dan bayar sendiri."
"Ehh nggak kok Dinda mau pulang malam juga tidak apa-apa."ucap Dinda cepat.
Eric sudah merebahkan badannya di atas tempat tidur empuk itu.
"Matikan lampunya cepat!"teriak Eric memerintah Dinda yang masih bengong.
"I-iyya." Dinda segera mengambil selimut dan mematikan lampu segera.
*****
__ADS_1
like, coment and vote guyss 🖤❤️