
"Pulangnya jam berapa?" tanya Eric saat mereka sudah sampai di depan kampus.
"Seperti biasa Dinda pulang jam 4 sore."
"Ohh.."
"Dinda pergi dulu Mas, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." sebelum keluar mobil Dinda sudah salim terlebih dahulu dengan Eric.
Dinda sudah masuk ke dalam kampus, tapi sebelum ke kelas dia dan Sima sudah janjian masuk kelas bareng.
"Maaf terlambat, aku lambat bangun tadi."
"Astaga, makanya pasang alarm."
"Udah, tapi tetap aja nggak mempan." Dinda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Sima.
"Din, kapan nih kita pergi ngelamar kerja?"
"Oh Iyya, bagaimana kalau besok atau lusa?" Dinda hampir lupa soal magangnya.
"Besok aja deh, lebih cepat lebih baik."
"Oke deh, mudah-mudahan keterima."
"Amiin."
Keduanya masuk ke dalam kelas, karena dosennya juga sudah datang.
*****
"Apa aku ke rumah aja yah. Nggak enak banget sendiri di sini." Naura berencana mengunjungi rumah orang tuanya malam ini, dia sangat kesepian sendiri di apartemen.
"Pergi ajalah, kalaupun mama masih ngomel biarin aja." tak bisa dipungkiri bahwa Naura sangat merindukan keluarganya, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu.
Di kantor tepatnya lantai 6 Eric tengah menandatangani semua berkas yang dibawa sekretaris-nya setelah rapat.
"Ini udah jam 4, berarti Dinda udah mau pulang dong kalau begitu." Eric menghentikan aktivitasnya, lalu meraih ponselnya.
"Ini sudah jam 3, kamu sudah mau pulang?" Eric menekan tanda panah warna hijau di samping isi pesannya, tanda sudah mengirim pesannya.
Eric menunggu beberapa menit tapi tidak ada tanda Dinda akan membalasnya, jangankan membalasnya, pesannya di baca saja belum.
"Mungkin dia masih sibuk bekerja. Tapi, dimana letak toko roti tempatnya bekerja?"
"Kirimkan secepatnya lokasi toko roti tempat Dinda bekerja!" Eric masih belum tahu dimana toko roti Dinda bekerja, semenjak dia tahu pria yang di pesawat satu kampus dengan Dinda, Eric semakin tidak ingin kehilangan jejak Dinda, kemanapun Dinda pergi akan selalu ada yang memantaunya.
__ADS_1
Eric sadar dia itu layaknya seorang suami yang overprotektif dengan istrinya, walau Eric masih belum bisa menebak isi hatinya.
"Baik pak." melihat pesan bosnya sangat penting, pak Han segera melacak keberadaan Dinda. Pak Han sudah melacak keberadaan Dinda menggunakan GPS, karena Eric sudah memberikan nomor Dinda jadi, dengan teknologi canggih pak Han sangat mudah mencari keberadaan Dinda.
"Jalan Kartini No.23."
"Oke." Eric langsung membaca alamat yang dikirim pak Han.
Eric memang belum mengaktifkan GPS untuk selalu melacak keberadaan Dinda, dia akan mulai mengaktifkan GPS agar mudah memantau Dinda.
Eric mulai menuju lokasi yang ditunjukkan oleh google maps yang di tampilkan oleh ponsel canggihnya. Tak lama kemudian Eric sudah ada di depan toko roti yang sesuai oleh lokasi yang tertera.
Eric memarkirkan mobilnya agak jauh dari toko roti agar Dinda tidak mengetahui keberadaannya. Setelah mobilnya terparkir dengan baik, Eric masuk ke dalam toko, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dinda.
"Kenapa dia tidak kelihatan?" Eric duduk di sudut ruangan sambil melihat-lihat menu berbagai jenis roti.
"Mau pesan apa pak?" tanya salah satu pelayan yang menghampirinya.
"Crumpet-nya 2." jenis roti kesukaan Eric teskturnya lebih lembab dan sering disajikan dengan krim padat seperti mentega. Roti ini berasal dari negara Inggris.
"Iyya pak, mohon di tunggu sebentar." baru pelayan itu akan pergi, tapi Eric keburu menahannya.
"Tunggu, Dinda bekerja di sini?"
"Oh Dinda? Iyya pak dia bekerja di sini."
"Dinda membatu orang-orang di dapur pak, mereka kewalahan jadi meminta bantuan Dinda."
"Oh, tolong nanti yang membawa rotinya Dinda yah."
"Baik pak."
Pelayan tadi adalah Risa, dia sudah ke dapur meminta roti yang dipesan Eric, sekaligus meminta Dinda membawakan makanan pelanggan tadi.
"Din, ini yah meja 13 tolong antar, dia meminta kamu yang antar tadi." Risa menyerahkan nampan yang berisi roti dan minuman yang dipesan Eric.
"Kenapa harus aku?"
"Entahlah, tapi dia ingin kamu yang antar. Udah sana pelanggannya menunggu lama tuh." Risa mendorong bahu Dinda keluar dari dapur.
"Pak ini pesanannya. Selamat menikmati." Dinda memang belum tahu jika pelanggan di depannya adalah Eric karena, posisi duduk Eric sekarang sedang memunggungi Dinda.
Dinda meletakkan piring yang berisi roti crumpet dan segelas Ice americano. Saat Dinda melangkah pergi Eric menghentikannya.
"Tunggu!" Dinda berbalik memperhatikan pelanggan di depannya sedang memunggunginya.
"Iyya pak, anda butuh sesuatu?"
__ADS_1
"Bisa kau temani saya sebentar?"
"Tapi saya masih ada kerjaan, lalu saya mau buru-buru pulang Pak."
"Sebentar saja.." Eric tersenyum mendengar penolakan Dinda, itu berarti Dinda tidak mudah di terpancing jika ada yang menggodanya.
"M-maaf Pak, sepertinya itu tidak baik." Dinda ingin pergi karena mulai risih dengan sikap pria di depannya, tapi justru Eric tengah tersenyum puas mendengar Dinda yang sepertinya tidak nyaman dengan ucapannya.
"Hei, tunggu dulu." Eric mencekal pergelangan tangan Dinda, melihat tangannya disentuh sembarangan Dinda menarik paksa tangannya.
"Dasar tidak sopan!" untung saja sudah banyak pelanggan yang pulang, jika tidak sudah pasti semua pasang mata akan tertuju pada mereka.
"Berani sekali anda menyentuh sembara..." Dinda belum menyelesaikan ucapannya, tapi dia sudah sangat terkejut saat pelanggan itu berbalik.
"Kenapa? kaget yah?" Eric tersenyum ke arah Dinda.
"K-Kenapa Mas bisa di sini?" tanya Dinda sambil memelankan suaranya.
"Sekalian menjemputmu kan aku lewat sini." mata Dinda mengawasi sekitarnya, dia takut akan ada orang yang melihat mereka berdua disitu.
"Mas pulanglah!" usir Dinda.
"Kenapa aku disini ingin membeli, tenang saja aku tidak minta gratis kok."
"Nanti ada yang melihat kita Mas. Mas pulang aja dulu, nanti Dinda menyusul."
"Hemm, baiklah aku akan menunggu di mobil kau bersiaplah lalu kita pulang." Eric memandang Dinda dari ujung kaki hingga ujung rambut, memang Dinda hanya menggunakan pakaian kasual dengan dilapisi apron, tapi Dinda tetap terlihat cantik.
Ditambah dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi sehingga menampilkan lehernya yang jenjang nan putih mulus.
"Iyya." Dinda masuk ke dapur untuk membungkus roti dan minuman yang terlanjur sudah di pesan dan di bayar Eric.
"Ris aku pulang yah, aku lagi buru-buru."
"Iyya, hati-hati." Dinda belum sempat mendengar balasan Risa, tapi dia keburu lari keluar toko.
"Sepertinya sangat buru-buru."
Dinda mencari dimana Eric memarkirkan mobilnya, rupanya di samping toko, melihatnya Dinda berlari ke arah mobil karena takut ada yang melihatnya.
"Ayo Mas." Eric memperhatikan Dinda dari samping, dia terlihat sangat ketakutan jika berada diluar bersama Eric.
"Kenapa kau sangat takut kita dilihat banyak orang?"
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1