Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Udang Rebus.


__ADS_3

"Kenapa berbalik?" Eric bertanya di dekat telinga Dinda.


Dinda sendiri hanya menutup mata sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tas ranselnya, suara bariton Eric membuat bulu kuduk Dinda berdiri.


"Hei! berbalik lah, aku tidak akan memakanmu." Eric menjauhkan kembali wajahnya dari teliga Dinda.


Dinda berbalik dengan pelan sembari membuka matanya perlahan. Eric hanya diam memandang Dinda sambil bertelanjang dada, menampakkan badannya yang atletis.


Menyadari Eric masih belum memakai bajunya Dinda berlari dari hadapan Eric menuju sofa yang biasa dia tempati untuk tidur.


"Tuan pakai bajumu, atau pergilah ke kamar mandi kalau mau tidak pakai baju." Dinda baru saja mengusir Eric dari hadapannya membuat pria itu membulatkan matanya tidak percaya.


"Kau mengusirku? kau rupanya mulai berani yah, sekarang." Eric memajukan badannya sampai menghimpit Dinda di sofa.


"B-bukan seperti itu Tuan, Dinda c-cuman tidak pernah melihat pria tidak pakai baju." Dinda juga semakin memundurkan badannya hingga tanpa sadar dia langsung terduduk di sofa, sementara Eric bukannya berhenti menghimpit Dinda, dia malah semakin maju.


"Maka biasakan dirimu melihat pria tanpa menggunakan baju, bukannya kau mempunyai suami." sungguh, ini baru pertama kali terdengar di telinga Dinda, Eric baru saja mengakui dirinya sebagai suami Dinda.


"T-tapi jika di rumah, kita tidak satu kamar, jadi Dinda tidak terbiasa Tuan." Dinda berusaha mengalihkan pandangannya, karena sedari tadi Eric memandangnya begitu intens.


Eric hanya bisa menahan senyumnya melihat Dinda risih dengan posisi seperti ini. Eric kembali menjahili Dinda dengan memajukan wajahnya, sampai wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti meter.


"T-tuan, d-Dinda mau melihat Mama dulu." Dinda baru akan mengambil ancang-ancang untuk kabur, Eric malah menarik tangannya sampai Dinda terhempas kembali ke sofa empuk itu semula dengan posisi berbaring.


"Kau mau ke mana?" Eric sangat puas melihat ekspresi ketakutan Dinda. Dari tadi dia memandang Dinda biasa saja, tapi melihat b*bir merah muda alami yang berbentuk hati milik Dinda, membuat iman Eric seketika goyah.


Dinda berusaha bangun lalu mendorong tubuh pria yang menguncinya, tapi itu hanya sia-sia, karena tenaga Eric berkali-kali lipat dibandingkan tenaga Dinda yang tak seberapa.


"T-tuan, Dinda mau ke kamar Mama." pinta Dinda sambil memberanikan diri melihat mata elang Eric.


"Mama masih tidur." lain halnya dengan Dinda, mata Eric malah masih tertuju pada bibir menggoda iman itu.


Eric sudah tidak bisa menahan gejolak di dalam tubuhnya untuk mencicipi bibir Dinda, hingga tanpa sadar Eric langsung meny*sor bi*ir itu menggunakan bi*irnya. Eric memejamkan matanya menikmati bibir Dinda, sedangkan Dinda jangan di tanya kagetnya seperti apa.


"Sumpah! bi*irnya sangat manis." Eric mulai menggerakkan bi*irnya melu*at secara bergantian bi*ir yang selalu menarik perhatiannya. Dinda tidak bisa memberontak lagi, karena Eric sudah mencekal kedua tangannya ke atas kepalanya.


"hmpph" Dinda mengerakkan kepalanya ke kanan-kiri, dia benar-benar sudah mau kehilangan nafasnya, untung saja Eric mengerti dan langsung melepaskan ciu*annya.


"huuft...huuft...huft." Dinda menghirup udara sebanyak yang bisa dia gapai. Begitu juga dengan Eric, hanya saja Eric sambil tersenyum sedangkan Dinda tidak.

__ADS_1


"Tuan l-lepaskan tangan Dinda, sakit." Dinda meminta dengan lembut.


Eric menyadari jika dia mencekal tangan Dinda begitu kuat, dia menarik kedua tangan itu ke depan wajahnya sambil diciumnya bekas cekalannya secara bergantian.


"Maaf, apa sangat sakit?" Eric benar-benar mengeluarkan kata yang selama ini tidak pernah diucapkan ke perempuan lain, selain Mamanya.


"T-tidak, cuman terasa perih." ucap Dinda.


"T-tuan? kenapa kau melakukannya?" bukannya Dinda menolak tindakan Eric barusan, karena bagaimanapun dia seorang istri, jadi dia sadar apa yang dilakukannya barusan memang pantas mereka lakukan sebagai suami-istri. Tapi, Dinda hanya aneh saja, kenapa Eric tiba-tiba menciumnya sedangkan Eric sudah berapa kali mengatakan tidak menyukainya.


"Apa kau tidak suka?" tanyanya balik.


"Tuan, Dinda mau ke toilet." Dinda mendorong tubuh Eric sedikit memaksa.


Eric hanya diam membisu mengingat adegan yang dilakukannya bersama Dinda. Eric sama sekali tidak menyesal melakukan itu, dia juga sudah bersepakat dengan hatinya untuk mulai menerima Dinda di hidupnya. Walau, pada nyatanya Dinda memang sudah memiliki tempat khusus di hati Eric, hanya saja Eric tidak menyadari hal itu.


Di dalam toilet, Dinda memandang dirinya di pantulan cermin sambil menyentuh bib*rnya.


"Kenapa Tuan melakukan itu? apa karena kita di rumah papa?"


Dinda masih belum bisa menetralkan detak jantungnya. Sebenarnya sejak perta bertemu Eric malam itu, Dinda sudah menyimpan perasaan itu dalam-dalam. Tapi, saat malam pertama mereka, Eric menuduhnya yang tidak-tidak, bahkan Eric tidak sudi satu kamar dengannya. Dindapun jadi sadar diri dengan statusnya.


"Pa, Eric dengan Dinda sudah datang?" Pak Hasan mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang masih terbaring.


"Eh, Iyya Ma, mereka ada di kamarnya. Tunggu Papa panggil."


Tok...tok...tok...


"Kenapa Pah?" tanya Eric setelah membuka pintu.


"Mama cari kalian tuh. Sana temui Mama, Dindanya mana?"


"Di kamar mandi."


"Nanti kalau Dinda udah keluar, ajak sekalian." pak Hasan meninggalkan Eric, lalu kembali ke kamarnya."


Dinda keluar dari toilet dengan wajah yang basah, dia lupa membawa handuk, jadinya kelihatan seperti habis mandi.


"Mama sudah bangun, ayo ke sana." ajak Eric.

__ADS_1


"Tuan duluan saja."


"Kenapa?"


"Emh, Dinda mau mengerjakan sesuatu dulu." Eric mengernyitkan dahinya.


"Apa?" tanya Eric penasaran sambil mendekat ke arah Dinda.


"Tuan tidak perlu tahu."


"Memang kau mau melakukan apa?"


"Tuan pergi saja temui Mama dulu."


"Aku bertanya kau mau apa, bukan menyuruhku pergi." karena Eric yang semakin mendekat Dinda juga semakin menghindar.


"Tuan tidak perlu tahu, ini rahasia."


Dinda mengambil tasnya lalu segera berlari ke arah toilet kembali.


"Heh kau! aku bertanya jangan kabur." Eric hanya bisa menggapai ujung baju kaos oblong Dinda untuk mengehentikannya.


"Tuan, lepaskan bajuku, nanti robek." Dinda menarik bajunya dari arah berbeda.


"Tidak, sebelum kau bilang mau mengerjakan apa."


"Ish, Tuan ini laki-laki jadi tidak perlu tahu." sungguh rasa penasaran Eric sudah ada di ubun-ubun mendengar jika laki-laki tidak perlu tahu.


"Kau mau katakan atau mau aku melakukan hal tadi? hmm?" Eric sekarang menangkap tangan Dinda yang menarik bajunya.


"Iyya Iyya Dinda bilang."


"Bagus, kau mau apa?"


"Dinda mau ganti pembalut. Sudah, lepaskan tangan Dinda." Eric hanya menahan senyum melihat wajah Dinda yang merah bak udang rebus, sangking merahnya menahan malu.


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️.

__ADS_1


__ADS_2