Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Mulai Posesif.


__ADS_3

Tak terasa hari ini usia pernikahan Eric dan Dinda sudah menginjak satu bulan, tidak ada perkembangan sama seperti biasa mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Eric yang akhir-akhir ini selalu pulang larut malam karena menyelesaikan berkas proyek bersama Rian. Sedangkan Dinda juga semakin sibuk karena sekarang dia tengah mencari tempat magang.


Mereka jarang berinteraksi, Eric pulang dengan keadaan rumah sudah gelap. Dia juga juga tidak makan malam di rumah, terkadang dia makan di kantor bersama Rian.


Saat Eric turun mengambil air, dia selalu menutup pintu kamar Dinda yang tidak pernah tertutup rapat.


"Dia itu kenapa tidak pernah menutup pintunya dengan rapat, lampu kamarnya juga tidak pernah di matikan. Hah dasar bocil!" Eric selalu mematikan lampu kamar Dinda lalu tak lupa menutup pintunya.


Tapi kali ini dia masuk melihat gadis itu sebentar.


"Wajahnya tampak sangat lelah, apa dia baru tidur?" Setelah melihat Dinda, Eric melihat meja Dinda yang penuh dengan buku, Dinda juga tidur dengan buku di tangannya.


Mata Eric tertuju pada surat lamaran kerja, saat membukanya dia melihat nama perusahaan yang dituju ialah perusahaannya, Eric berbalik melihat Dinda yang masih terlelap.


"Dia mau magang? apa dia tidak tahu perusahaan yang ditujunya itu adalah perusahaan yang ku tempati?" Eric baru tahu jika Dinda tidak tahu perusahaannya, seandainya Dinda tahu mungkin dia tidak akan melamar kerja di sana.


"Hah, biarkan saja dia bekerja dikantor yang sama, aku bisa memantaunya terus." Eric menyimpan kembali surat itu di atas meja kecil Dinda.


Eric berjalan ke arah Dinda lalu mengambil buku yang ada di tangannya.


Sebelum keluar Eric mematikan lampu lalu keluar kamar.


Matahari terbit begitu cerah, cahayanya masuk melalui tirai langsung mengenai wajah Eric. Setelah sholat subuh, Eric melanjutkan kembali tidurnya, badannya terasa remuk karena tidur di atas sofa dengan gaya tidur tidak normal.


"Aghh.." Eric merenggangkan ototnya yang terasa kaku.


"Sudah jam tujuh??" Eric membulatkan matanya melihat jam dinding.


"Kenapa tidak ada yang membangunkan ku? Ck." Eric melangkah keluar mencari Dinda.


"Dindaaa.." ini pertama kalinya Eric menyebut nama Dinda dihadapan orangnya langsung.


"Dindaa.." Eric membuka kamar Dinda tapi tak menemukan sang pemilik kamar.


"Ck, kemana dia, jangan bilang dia sudah ke kampus lagi. Dinda!!" Eric berputar di dalam rumah mencari Dinda.


Dia lupa ke taman belakang yang memang jauh dari jangkauan ruang tengah.

__ADS_1


"Disitu rupanya kau." Eric menghampiri Dinda yang tengah menyiram bunga dan beberapa tanaman herbal yang telah dia tanam saat baru datang ke rumah ini.


"Heii!!" Dinda terkejut mendengar bentakan Eric sampai tak sadar selang air yang dipegangnya mengarah ke wajah Eric.


"Astagaa Tuan, maaf, maaf Dinda nggak sengaja." Dinda berlari mendekati Eric yang sudah basah kuyup sampai tak bersuara. Dia mengusap-usap wajah Eric yang basah dengan tangannya, Eric hanya menatapnya tajam seolah ingin menerkamnya.


"Tuan marah?" tanya Dinda polos berhasil membuat Eric menaikkan kedua alisnya sambil melotot.


"Menurutmu bagaimana?" Eric bertanya sambil melihat wajah Dinda yang sudah sangat panik.


"Tuan marah yahh, Tuan sih ngagetin Dinda tadi." ucap Dinda menyalahkan Eric.


"Oh kau menyalahkanku hah?? siapa suruh aku panggil dari tadi kau tidak menyahut! Kau punya telinga untuk mendengar dan punya mulut untuk menjawab, lalu kau tidak menggunakan itu." Eric tentu saja tidak ingin disalahkan, walau sebenarnya dialah yang salah yang datang-datang langsung berteriak.


"Dinda tidak mendengar apa-apa Tuan, lagian bagaimana bisa Dinda mendengarnya jika Dinda disini lalu tuan di dalam berteriak." bela Dinda.


Eric terdiam mendengar belaan Dinda, dia memang yang salah tapi tidak mungkin dia mengaku jika dia yang salah.


"Aahhh, sudahlah kau ini hanya bisa membuat tensi darahku naik!!" Dinda pergi mematikan keran air, Eric sendiri membuntuti Dinda.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku? ini sudah jam berapa, aku belum ke kantor.!" Eric masih belum sadar jika hari ini adalah hari Minggu.


"Iyya tapi jika jam tujuh kau masih belum melihatku pergi ke kantor berarti aku masih tidur, apa kau tidak punya inisiatif sendiri untuk membangunkan orang agar tidak terlambat ke kantor?" Eric mengomel sambil terus mengikuti


Dinda yang menggulung selang air.


"Memang Tuan ke kantor hari ini?" Dinda berbalik melihat Eric yang tak berhenti mengikutinya.


"Mana mungkin aku marah-marah sekarang jika tidak ingin ke kantor karena terlambat." ucapnya.


"T-tapi hari ini.."


"Apa? kau lupa membangunkan ku hah?" Eric memotong ucap Dinda.


"Tuan, Dinda mau bicara dulu." Eric terdiam.


"Apa? kau mau bilang apa??"


"Kenapa tuan mau ke kantor, kan ini hari Minggu." Eric terdiam sambil menganga mendengar Dinda bilang hari Minggu.

__ADS_1


"Tuaann?" Dinda mendekati Eric mengintip dari samping wajah Eric yang kebingungan, Dinda hanya bisa menahan tawanya melihat pria yang selalu marah-marah itu menganga.


Eric melihat Dinda lalu segera meninggalkan Dinda.


"Si*l, ck kenapa aku bisa lupa kalau hari ini Minggu." Eric masuk ke kamarnya sambil memukul-mukul kecil jidatnya.


"Sangat memalukan sekali. Pasti dia sedang menertawakan ku saat ini." Eric menghempaskan tubuhnya di atas kasur lalu menutup wajahnya dengan bantal menahan malu.


Ting..tong...


Dinda berlari membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum." ucap Rian saat Dinda sudah membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam, ehh Kak Rian, masuk Kak." Dinda mempersilahkan Rian masuk dengan sopan.


"Makasihh, Eric ada nggak?" tanya Rian setelah duduk di sofa mewah ruang tamu.


"Ada kak, tunggu sebentar yah Dinda panggil." Dinda segera naik ke atas memanggil Eric.


Tok...tok...tok...


"Tuan ada Kak Rian di bawah!" Eric bangun mendadak mendengar teriakan Dinda.


"Siapa yang datang?" tanya Eric saat sudah membuka pintu.


"Kak Rian."


"Tidak usah bilang Kak segala, tidak perlu." tegur Eric.


"Iyya Tuan, Dinda ke bawah dulu buat minuman." Dinda pamit ingin turun tapi Eric melarangnya.


"Heii, tidak usah buat minum, kau masuk ke dalam tunggu aku selesai mandi lalu kau turun." Eric menarik mendorong tubuh Dinda masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya rapat-rapat.


"Tuan tidak enak kalau ada tamu, lalu tidak ada orang." ucap Dinda.


"Nanti juga ada Bi' Sum, kau ini mau sekali berduaan dengan laki-laki di bawah hah?" Eric marah saat Dinda meminta ingin turun.


"Bukan seperti itu tuan, Dinda hanya ingin buat minum lalu ke kamar lagi."

__ADS_1


"Tunggu di sini saja, atau kau mau ku kurung disini sebelum Rian pergi?" tawaran Eric yang terdengar sangat posesif.


__ADS_2