Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Hanya Balas Budi.


__ADS_3

Eric meletakkan kembali ponselnya.


"Tuan istirahat saja lagi." Dinda ingin berdiri meninggalkan Eric agar istirahat tapi Eric menghalanginya lagi.


"Kau mau ke mana?" Eric masih bersandar di bantal yang Dinda simpan di belakang Eric.


"Hanya ke balkon saja." jawab Dinda.


"Disini saja sampai aku tertidur kembali."Eric mengucapkan sambil bersiap berbaring kembali. Eric jika sakit tidak suka ditinggalkan sendirian di dalam kamar, dia tidak akan bisa tidur.


"Baiklah tuan." Dinda menunggu Eric hingga terlelap, setelah melihat Eric sudah menutup matanya, Dinda berinisiatif menarik selimut itu sampai hanya kepala Eric yang tersisa. Eric bisa merasakan semua perhatian yang diberikan oleh Dinda, karena Eric belum tidur.


"Dia sama seperti mama saat mengurusku jika sakit." ucap Eric dalam hati.


Eric sudah tidur dengan damai, melihat itu Dinda berjalan membersihkan meja yang diatasnya berserakan macam-macam obat yang dibuatkan untuk Eric, namun dengan berbagai bujukan Eric hanya minum satu tablet saja, itupun diminum dengan banyak drama. Dinda membersihkan kamar lalu bergegas mandi sebentar.


Dinda duduk di lantai dan bersandar tempat tidur yang di tempati Eric sambil membaca novel yang terakhir di bacanya, takutnya nanti Eric bangun dan menginginkan bantuan.


"Apa aku tanya Mama sama Papa, kalau Tuan Eric sakit?"Dinda berpikir akan memberi kabar mertuanya itu, bagaimanapun sekarang putranya sedang sakit.


Eric yang semula tidur memunggungi Dinda telah berganti posisi menghadap Dinda, perlahan Eric membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah kepala berambut hitam berkilau perempuan yang memunggunginya yang di yakini adalah Dinda. Eric memerhatikan Dinda di cermin depannya yang terpantul bayangan Dinda.


Dinda menutup buku yang dibacanya dan menyandarkan kepalanya, dia masih tiba-tiba mengantuk, mengingat semalam dia begadang karena menjaga Eric yang sakit.


"Sepertinya dia mengantuk." Eric dapat melihat dengan jelas kantung mata Dinda yang menghitam.


Dinda benar-benar tertidur sambil duduk di lantai dengan kepala yang bersandar menyamping, saat bangun pasti lehernya akan sakit melihat cara tidurnya yang tidak bener. Eric sendiri sudah menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, ia berjalan mendekati Dinda yang tertidur. Eric menunggu sekitar lima menit untuk membuat Dinda nyenyak dulu, lalu ia mendekati Dinda dan mengangkat tubuh itu ala bridal style, ia membaringkan Dinda dengan sangat hati-hati di atas kasur itu.


"Sepertinya dia sangat nyenyak, padahal dia baru tidur baru sekitar sepuluh menit yang lalu."Eric memperhatikan Dinda dari jarak yang sangat dekat, ia memperhatikan seluruh wajah yang cantik dan menarik itu.


Eric bahkan sangat betah memperhatikan wajah itu sampai-sampai dia tersenyum sendiri melihatnya.

__ADS_1


"Ck, kenapa malah memperhatikannya."Eric menarik tubuhnya yang semula maju memperhatikan Dinda.


Setelah minum obat yang diberikan Dinda beberapa saat yang lalu, tubuh Eric mulai membaik, dia bahkan sudah bisa menggerakkan semua badannya yang semula sangat kaku.


Haachiww...


Terdengar suara Eric yang masih bersin dengan hidung yang memerah. Eric duduk di sofa tunggal, dia ingin tidur tapi Dinda masih berada di atas kasur.


"Nggak mungkin juga gua tidur berdua di sana, nanti kalau dia bangun malah menemukan ku di sampingnya bisa-bisa dia berpikir macam-macam."


Ting..


Notifikasi masuk di ponsel Eric di atas meja samping tempat tidur, Eric berjalan mengambilnya lalu ke tempat semula.


"Lu masih sakit?mau gua jemput nggak?" Rian berniat akan menjemput Eric di Bali, karena berpikir Dinda akan kesusahan membantu Eric yang sedang sakit ditambah badan Eric yang atletis itu akan susah untuk Dinda membantu dengan badan mungilnya.


"Nggak usah gua bisa kok l, ini juga gua udah enakan." balas Eric.


"Badan gua nggak sebesar itu! lagi pula gua udah mulai membaik."Eric selalu kesal dengan sahabatnya itu, disaat serius Rian malah bercanda giliran Eric yang bercanda dia malah emosi kayak emak-emak.


"Siapa yang rawat?kan nggak ada Tante Hasna di sana?"


"Perempuan itu yang ngerawat gua semalam, dia juga yang pergi beli obat saat malam." Eric mengatakan semua tanpa menutupi jika Dinda yang merawatnya.


"Ekhmm, bosen sama sumpek liat dia? sekarang malah di rawat sama istri. kayaknya udah mulai luluh deh lu ama bini lu." Rian bisa menebak wajah Eric di sana seperti apa, pasti sangat kesal dengan ejekannya lagi.


"Diem deh lu, gue nggak luluh sama sekali, gua masih belum menerimanya dengan baik. Lagian gua udah balas budi ke dia." Eric membantu Dinda tadi karena ingin membalas budi yang semalam Dinda merawatnya.


"Balas budi dengan apa?"tanya Rian.


"Gua pindahin dia ke kasur, dia tidur dilantai buat jagain gua."

__ADS_1


"Tunggu-tunggu jangan bilang lu berdua nggak pernah tidur se-ranjang?" Rian berpikir, tidak mungkin Dinda tidur di lantai jika pernah tidur berdua dengan Eric di kasur.


"Emang nggak pernah , bahkan di rumah gua sama dia nggak sekamar." Eric menjawab dengan entengnya.


"Astaga tega lu, bagaimana pun perempuan itu Istri lu, kenapa malah jadi kayak ART sih?" tanya Rian heran.


"Istri sih Istri, tapi tetap aje gue nggak suka."


"Lu nggak pernah nyoba buat beradaptasi sih, jadinya lu selalu kesel liat dia terus, coba aja lu buka hati buat nerima dia, bisa kok pasti." Rian memberi Eric saran, tapi Eric tidak mau menjalaninya karena dia memang yakin tidak akan bisa mencintai perempuan itu.


"Nggak bakalan bisa, gua nggak akan pernah mencintai tuh perempuan, tampangnya aja yang polos tapi sangat pintar merayu mama sama papa agar dapat uang." Eric masih menyangka jika Dinda itu hanya mau menerima perjodohan ini karena harta yang dimiliki keluarga Pratama.


"Ehh jangan gitu gimana kalau dia nggak gitu, nyesel lu."


"Nggak bakal."


Eric melempar ponselnya di sofa sebelahnya, dia sebenarnya juga tidak percaya jika Dinda itu hanya memandang hartanya saja, tapi pikiran itu dibuangnya lagi.


"Dia memang pandai membuat orang kasihan padanya, makanya mama sama Papa bisa memilihnya." ucap Eric dalam hati.


Mengingat belaan Rian tadi padanya membuat emosinya naik kembali. Eric sampai berjalan mendekati Dinda untuk membangunkannya.


"Hei bangun kau."Erik mengguncang bahu Dinda yang masih nyenyak tidur.


"Hei kebo' bangun, aku mau tidur di kasur."Eric menambah guncangan sampai-sampai Dinda terbangun dengan kaget.


"Bagun cepat, minggir dari sana, aku mau tidur." Dinda yang baru menetralkan jiwanya hanya bisa berdiri dan pergi dari hadapan Eric.


*****


Like, coment and vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


Sorry baru up , soalnya kemarin ada tiga tugas mana deadlinenya mepet semua lagi , jadi nggak sempat update.


__ADS_2