Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Rumah Baru.


__ADS_3

Pukul 19.30 Eric baru pulang dari kantor, hari ini sangat melelahkan baginya, banyak berkas menumpuk yang harus ia tanda tangani sebab dia tidak ke kantor selama dua hari sebelum pernikahannya.


Eric masuk ke dalam rumah tapi tidak menemukan orang diruang tengah, jadi ia memutuskan masuk ke dalam kamar.


"Bereskan barang mu, kita pergi sekarang." perintah Eric tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Dinda yang sedang melipat mukenanya kaget.


"Eeh , Mas sudah datang?"Dinda langsung menuju depan Eric, dia hendak mengambil tangan Eric tapi lelaki itu langsung pergi dari hadapannya.


Dinda hanya bisa mematung di perlakukan seperti tadi, sungguh dari semalam Eric tidak memperlakukan Dinda selayaknya seorang Istri, jangankan Istri bahkan dia tidak dianggap ada di depan Eric.


"Semua barangnya sudah siap Mas."ucap Dinda di belakang Eric. Eric mengambil beberapa barang dan menyisahkan sebagian untuk Dinda bawa.


"Cepat turun kita segera pergi."Eric berlalu di depan Dinda tanpa melihat sedikit saja.


Keduanya sudah sampai di bawah, mereka langsung di sambut oleh Mama dan Papanya.


"Loh Eric kamu udah datang?"tanya Mamanya.


"Iyya Ma baru aja kok sampainya, tadi pas Eric datang nggak ada orang ya udah Eric langsung ke kamar saja."jawab Eric.


"Kalian nggak makan dulu? nanti saja pulangnya setelah makan malam." permintaan mamanya tapi Eric yah Eric, sangat keras kepala, jika keputusannya ingin pulang sekarang maka dia akan pulang sekarang tidak akan berubah jadwal.


"Enggak Ma, kita langsung saja nanti Eric telpon Mang Diman buat beliin makan di rumah."keputusan Eric sudah bulat dan Dinda hanya mengikut saja.


"Ya sudah hati-hati kalian di jalan, nggak usah ngebut-ngebut." nasihat Mamanya.


"Iyya Ma."balas Eric dengan malas.


Eric menyalami orang tuanya disusul Dinda di belakangnya.


"Sayang, kapan-kapan ke sini lagi yah."ucap mamanya sambil membelai rambut halus Dinda.


"Iyya Ma."jawab Dinda.


"Eric, Dinda kalau sudah sampai telpon kami segera."Papanya baru angkat suara setelah mereka selesai bersalaman.


"Iyya Pah." jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


"Assalamualaikum Mah, Pah"Dinda mengucap salam , setelah itu naik ke mobil Eric.


Di perjalanan menuju rumah baru mereka, Eric maupun Dinda tidak pernah mengeluarkan suara. Eric yang tetap fokus melihat jalanan dan Dinda yang hanya melihat di samping jendela.


Sekitar satu jam lebih mereka menempuh perjalanan dari orang tua Eric. Saat di depan pagar, sudah ada Mang Diman yang membukakan pagar. Eric keluar dari mobil terlebih dahulu, langsung masuk ke dalam rumah tanpa membawa barang-barangnya, itu semua adalah pekerjaan Mang Diman.


"Non ini Istrinya Den Eric yah?" tanya Mang Diman tiba-tiba di belakang Dinda.


"Iyya Mang, kenalin saya Dinda."jawab Dinda dengan mengulurkan tangannya di depan Mang Diman.


"Enggak Non, tangan Mang kotor" Mang Diman tidak enak harus bersalaman dengan nyonya di rumah ini.


"Nggak apa-apa Mang."Dinda mengambil tangan mang Diman lalu di saliminya , Mang Diman tentu saja dibuat terkejut oleh perlakuan Dinda barusan.


"Pak, bawa barangnya Den Eric, lalu kita pulang." ucap Bi Sum yang menghampiri Suaminya.


"Eeh ini Non Dinda yah??"Tanaya Bi Sum sambil tersenyum.


"Iyya Bi', kenalin saya Dinda." Dinda sudah menjulurkan tangannya untuk bersalaman dan langsung di sambut hangat oleh Bi Sum .


Mang Diman juga masuk membawa koper dan barang-barang yang ada di mobil ke dalam rumah.


"Mang, kamar Mas Eric di mana?" tanya Dinda yang penasaran karena banyak kamar di rumah yang dua lantai itu.


"Mari Non ikut saya, saya juga mau bawa koper ini ke kamar Den Eric."ajak mang Diman .


Mang Diman dan Dinda sampai ke depan kamar Eric.


"Mang biar Dinda saja yang bawa kopernya masuk, Mang Diman istirahat saja dulu."Dinda tidak tega melihat Mang Diman yang sudah tua itu harus begadang karena menunggu mereka di rumah.


"Iyya non, saya pamit dulu, assalamualaikum."pamit Mang Diman pulang, dan dijawab Dinda segera.


tok.. tok.. tok..


Dinda mengetuk pintu di depannya, walau sebenarnya tanpa diketuk pun Dinda sudah boleh langsung masuk.


"Kenapa?"Tanya Eric saat membuka pintu.

__ADS_1


"Dinda mau masuk mas, mau nyusun barang-barang."jawab Dinda.


"Barang siapa yang ingin kau susun?" ucap Eric berkata dingin.


"Barang kita mas."Dinda tidak berani menatap mata elang itu, dia hanya melihat lantai sambil menjawab.


"Kita??hah.., di sini hanya kamar ku saja, kamar mu ada di samping dapur, lagi pula tidak usah menyusun barang k, aku tidak suka barang ku di sentuh oleh orang yang ku benci." lagi-lagi Eric mengucapkan kata-kata yang tidak diserap baik oleh otaknya.


Dinda mematung mendengar ucapan Eric, dia menyetujui perjodohan ini juga demi orang tuanya dan panti.


"Kenapa mas sangat membenci Dinda?" Dinda bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.


"Karena kau memanfaatkan perjodohan ini bukan?, kau mau menikah dengan ku agar uang tanah panti asuhan yang kau tinggali dibayar oleh Papa. benar bukan?"Eric bertanya sambil memperhatikan Dinda yang tertunduk.


Tentu saja bukan karena hal itu, Eric tidak tahu jika orang tuanya selalu mengintai Dinda dari sejak umur Dinda 15 tahun, karena Dinda selalu menarik perhatian dengan kebaikannya.


"Bukan seperti itu Mas, Dinda tidak berniat memanfaatkan perjodohan ini."ucap Dinda disertai air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.


"Sudahlah, tidak usah membahas itu, walaupun kau tidak mempunyai niatan seperti itu, tetap saja aku membenci mu,"


"Dan yahh.., jangan memanggilku dengan sebutan Mas mu itu , aku tidak sudi." sambung Eric , dia langsung mengambil salah satu koper di depannya dan masuk ke dalam kamar.


Dinda sudah tidak bisa menahan air matanya, untung saja dia menangis ketika Eric masuk ke dalam kamarnya.


Saat Dinda membuka kamar di samping dapur, dia sudah tau jika kamar itu untuk ART di rumah ini, tapi kamar ini saja lebih dari cukup bagi Dinda.


Dinda telah selesai mengemasi barang-barangnya dan membersihkan kamar yang dia tinggali sekarang.


Keluar kamar Dinda memeriksa bahan-bahan yang ada di dapur untuk di masak besok. Kulkas besar itu sudah terisi bahan makanan, semuanya lengkap, mulai dari daging, sayuran, buah-buahan, sampai cemilan pun sudah ada.


Hampir saja Dinda memasak malam ini, untung saja dia mengingat jika Eric bilang di rumah papa tadi akan menyuruh Mang Diman membeli makanan. dan benar saja sudah ada makanan di atas meja yang tersedia dua porsi.


Tapi salah satu makanan itu sudah ada bekasnya, mungkin Eric sudah makan. Dinda mulai makan dengan lahap karena sejak dari rumah papa perutnya sudah bergemuruh untuk di isi.


*****


like , coment and vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2