
"Hari ini kau mau ke kampus?" tanya Eric yang sudah lengkap dengan pakaian kantornya.
"Iyya Tuan, tapi sebentar saja, setelah itu baru pulang." Dinda berencana hari ini akan menemui Juna untuk membayar hutangnya, dia tidak mau berurusan panjang dengan seniornya itu.
"Kau tidak bekerja?" Eric dari tadi bertanya sambil memakai dasinya, tapi terlintas di pikirannya lagi untuk mengerjai Dinda.
"Ck, kau bisa menolongku sebentar?" Eric mulai melancarkan aksinya.
"Apa?"
"Pakaikan dasiku, tanganku tiba-tiba keram."
"Kenapa bisa keram, tadi baik-baik saja tangannya." ucap Dinda dalam hati sambil terus memandang tangan sambil memakai ranselnya.
"Kenapa diam? kau tidak bisa memakaikan dasi atau tidak mau ku suruh?" akhirnya Dinda mendekat juga di dekat Eric.
"Tuan turunkan sedikit badanmu." pinta Dinda, maklum tinggi Dinda hanya sebatas dada Eric.
"Hah dasar pendek!" Eric menurunkan sedikit badannya untuk mensejajarkan dengan tingginya dengan Dinda.
Dinda meraih dasinya, lalu mencoba memasangnya dengan baik. Dinda akhir-akhir ini sering belajar memasang dasi, itu semua berkat Sima, karena jika Sima makan dia akan meminta tolong pada Dinda untuk memakaikan dasi.
"Kau belajar memakai dasi dari mana?" tanya Eric iseng.
"Dari teman." ucap Dinda yang tengah fokus memakaikannya dasi.
"Hah, siapa?"
"Yah teman Dindalah."
"Laki-laki?"
"Selesai!" Dinda baru akan berbalik tapi Eric menahannya.
"Hei aku bertanya, temanmu itu laki-laki atau bukan?" Eric merasakan panas di hatinya jika Dinda belajar memakai dasi dari temannya ternyata.
"Perempuan tapi tomboy, jadinya kayak laki-laki yang Dinda pakaikan dasi." Eric menghembuskan nafasnya lega.
"Kau pergi ke kampus ikut dengan ku."
"Tidak usah, kan biasanya juga Dinda pergi sendiri." tolak Dinda.
"Heh, ini disini ada Papa dan Mama, kau mau mereka melihat kita tidak pergi bersama?"
"Oh Iyya, Dinda lupa." Dinda nyengir sambil melirik Eric.
"Ayo turun."
Dinda sebelumnya sudah menyiapkan semua sarapan di atas meja sekaligus bubur untuk Mama mertuanya di kamar. Tapi, Bu Hasna belum mau makan, katanya nanti kalau jam delapan.
__ADS_1
Setelah sarapan Eric dan Dinda berangkat bersama.
"Tuan, di dekat lampu merah itu saja Dinda singgah." tunjuk Dinda pada lampu merah tidak jauh dari mobilnya.
"Kenapa tidak sampai depan kampusmu?" tanya Eric.
"Emh, Dinda biasanya ke kampus menggunakan ojek atau angkot, nanti kalau ada yang melihat Dinda di antar pakai mobil.."
"Kenapa?" Dinda belum menyelesaikan ucapannya tapi Eric sudah memotongnya.
"Nanti ada yang berpikir yang tidak-tidak pada Dinda." Dinda sebenarnya takut kejadian saat dia masih mahasiswa baru, dia pernah di-bully satu kampus karena menumpang pada mobil mewah tetangganya di panti.
Para mahasiswa tahu Dinda itu adalah mahasiswi jalur Bidikmisi, bisa dikatakan hanya orang-orang tertentu yang mendapat Bidikmisi. Sementara rata-rata mahasiswa di kampus tersebut adalah kalangan atas, mengingat kampus itu adalah kampus swasta ternama.
"Kenapa mereka berpikir seperti itu, memang ada yang salah kalau kau pergi menggunakan mobil?"
"Tentu saja salah."
"Tidak usah singgah, disana sangat panas, sekalian saja, lagian juga aku akan melewati kampusmu." Eric tetap kukuh akan mengantarnya sampai depan kampus.
"Tuan terima kasih sudah memberikan tumpangan." mereka sudah sampai di depan kampus, Dinda sebenarnya agak ragu untuk keluar, karena sudah banyak pasang mata mahasiswa lain yang melihat mobil di tumpanginya.
"Emh, sana keluar nanti kau terlambat." ucap Eric tanpa melihat Dinda.
"Assalamualaikum." Dinda sudah menutup pintu mobil Eric lalu mulai melangkah masuk ke dalam kampus.
Saat Dinda mau masuk kelasnya, dia dicegat oleh beberapa teman sekelasnya.
"Hai! numpang sama siapa lagi?" tanya gadis yang memakai pakaian branded bersama para teman satu circlenya.
"Hai! sama keluarga." jawab Dinda tetap ramah.
"Wow, enak dong, pake mobil mewah terus, nggak panas-panasan lagi pake ojek." ejek teman di belakangnya.
Posisi Dinda sekarang seperti penjahat yang sedang dikepung.
"Oh lo pasti tinggal di rumahnya juga kan, lumayan menikmati fasilitas mewah."
"Atau jangan-jangan di rumah itu ada cowok yang Lo incar?"
"Hahaha..." satu gang itu sangat suka mem-bully Dinda, apa saja yang dilakukan Dinda yang menurut mereka pantas untuk di hina, akan mereka bully.
"Apapun yang kulakukan di rumahnya, itu bukan urusan kalian! permisi!" Dinda menerobos mereka yang menghalangi jalannya.
Kali ini Dinda tidak lagi diam jika di olok-olok begitu saja, menurutnya sekali-kali harus melewati mereka, karena kalau tidak mereka akan semakin memperlakukannya dengan tidak pantas.
"What?? dia sudah mulai berani loh." ucap salah satu dari mereka.
*****
__ADS_1
"Apa ada jadwal yang padat hari ini?" tanya Eric.
"Nggak ada, lu cuman perlu tanda tangani semua berkas itu." Rian menunjuk berkas di atas meja.
"Baguslah."
"Lu mau pulang cepat?" tanya Rian.
"Iyya, soalnya Mamakan lagi sakit."
"Jadi lu bermalam di rumah nyokap?"
"Iyya, semalam gua sama Dinda ke sana."
"Ehh, Dinda belum ngelamar kerja tuh, gua udah tanya bagian HRD kalau Dinda melamar langsung terima aja."
"Entahlah, tapi sepertinya dia sedang mempersiapkan berkasnya lagi."
"Kok lu tau, dia nyiapin berkas? jangan-jangan lu simpan CCTV di kamar Dinda yah?" Rian mulai curiga dengan Eric, karena akhir-akhir ini dia selalu bercerita tentang Dinda.
"Nggaklah, gua kan sementara satu kamar dengan dia kalau di rumah nyokap."
"Satu kamar berarti satu tempat tidur dong?"
"Menurut lu?" tanya Eric balik sambil berjalan menghampiri Rian di sofa.
"Lu beneran udah tidur bareng?" tanya Rian antusias.
"Ya, perdana semalam."
"Gila lu, tahan banget, istri cantik tapi baru satu kali tidur bareng? kalau gua punya istri kayak Dinda, mungkin udah gua kurung terus di dalam kamar." bantal di belakang Eric seketika melayang dan mendarat dengan tepat di wajah Rian.
"Kenapa Weh?"
"Beda yahh, Dinda itu istri gua, jangan asal ngomong kayak gitu!" ucap Eric emosi.
"Ohh jadi ceritanya udah ngakuin istri yah, bagus dehh.." ejek Eric.
"Udah, mendingan lu kembali ke ruangan lu deh, dan ingat tanya Lulu bawain ke sini berkas yang gua minta." usir Eric.
"Iyya ini juga udah mau minggat. Suaminya Dinda.." Rian keluar segera sebelum Eric melempar benda yang lain ke wajahnya.
Saat Rian sudah keluar, Eric sama sekali tidak marah mendengar ucapan terakhir Rian, dia justru senyum-senyum sendiri. Apalagi semalam dia sudah mencicipi bibir yang selalu menghantuinya.
"Hah, kenapa bisa semanis itu?" otak Eric sudah sangat sulit diarahkan dari Dinda, dia bahkan ingin tahu lebih dalam lagi tentang Dinda.
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️.
__ADS_1