
"Mas, minggir dulu dari atas sana, Dinda susah nafasnya." ucap Dinda yang mulai ngos-ngosan.
Eric menyingkir lalu menarik Dinda agar duduk menyandar di headboard tempat tidur.
Eric terus menatap Dinda yang mengatur nafasnya dengan lucu.
"Apa sangat sesak?" Eric mengelus bagian tubuh depan Dinda tanpa sadar sambil tersenyum.
Sadar Eric sudah menyentuh bagian tubuh yang tidak pernah disentuh orang lain, Dinda mengambil bantal di samping lalu memeluk dengan erat.
"Mas! jangan sentuh-sentuh yang itu." ucap Dinda sangat malu.
"Yang mana? Mas tidak menyentuh yang aneh-aneh kok." Eric pura-pura tidak mengerti arah pembahasan Dinda.
"Itunya Dinda, mas sentuh tadi." Dinda membalik tubuhnya membelakangi Eric untuk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu.
"Apa? Apa yang ku sentuh?"
"Mas pikir aja sendiri!" untuk pertama kalinya Eric mendengar Dinda berkata tinggi padanya, membuat dirinya tidak menyangka.
"Kok ngomongnya gitu sih? Sini balik dulu kita ngomong baik-baik." Ucap Eric membujuk istrinya.
Dinda berbalik dengan berlinang air mata.
"Kenapa menangis?" Eric memajukan badannya agar lebih dekat lagi dengan Dinda.
"Maaf Dinda ngomongnya seperti itu." Eric tersenyum lalu mengangguk tanda dia memaafkan Dinda.
"Lalu kamu menangis karena itu?" Dinda menggeleng cepat.
"Bukan!"
"Lalu?"
"Mas pegang ininya Dinda tadi, itu tidak ada yang pernah menyentuhnya." ucap Dinda menunjuk d*danya dengan air mata menetes tanpa henti.
"Maaf, Mas nggak sengaja tadi. Lagian itu nggak apa-apa kok, kan udah sah." Eric menaik-naikkan alisnya.
"Mas seperti om-om kalau kayak gitu." ucap Dinda spontan membaut Eric membulatkan matanya.
"Aku masih 26 tahun yah, itu masih muda." Eric tidak terima ucapan Dinda.
"Seperti inilah jika punya istri yang masih dalam pertumbuhan dewasa, rasanya seperti mengurus adik sendiri." ucap Eric dalam hati.
Eric menatap Dinda yang menghapus air matanya seperti anak kecil, membuat ia tersenyum melihat tingkah gadis yang sudah berlabuh dihatinya.
Eric sebenarnya ingin mengatakan perasaannya tapi, gengsi dan malunya terlalu tinggi untuk mengucapkannya terlebih dulu.
__ADS_1
Saat bersama Naura saja, dia sangat jarang mengucapkan kata cinta, hanya sekali dia mengungkapkannya. Bahkan, yang mengatakan cinta pertama adalah Naura bukan dirinya.
"Tidur, ini sudah sangat larut." Eric menarik selimut lalu menutupi tubuhnya dan juga Dinda.
Dinda merebahkan tubuhnya di samping Eric, lalu tidur terlentang.
*****
Hari ini sudah menginjak satu bulan Dinda bergabung di Pratama Group, mereka juga sama-sama disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Eric kadang keluar kota bersama Rian dan Dinda yang semakin disibukkan oleh pekerjaannya.
Hubungan mereka juga masih terbilang tidak ada kemajuan dan kemunduran, hubungan mereka tetap jalan ditempat. Terkadang Dinda menunggu Eric kembali dari luar kota di malam hari tapi, Eric baru pulang saat subuh. Hal itu yang membuat interaksi mereka semakin berkurang.
"Eeh Din, katanya besok malam ada pesta ulang tahun Pak Eric di Hotel Golden." kabar yang di umumkan kemarin, Eric akan menggelar pesta ulang tahunnya yang ke 27 tahun dengan meriah.
"Iyya aku udah dengar juga kok."
"Kita pakai gaun apa yah? Temani aku nanti yah ke butik cari gaun." Sima yang memang termasuk golongan orang berada jadi gampang ingin membeli sesuatu yang di inginkan.
"Oke nanti aku temani."
Jam pulang tiba, Dinda menemani Sima ke toko butik langganannya.
"Wahh, butiknya gede banget Sim." ucap Dinda takjub melihat bangunan megah di depannya.
"Iyya, rancangan desainer di sini juga kualitasnya sangat terjamin. Ayo masuk!" Sima menarik tangan sahabatnya ke dalam.
Semua gaun yang berwarna malam di keluarkan dengan berbagai gaya dan tentu saja rancangan para desainer ternama.
"Din, bantu aku cari yang cocok sini! Aku nggak terlalu tau soal yang begini." Panggil Sima karena, Dinda hanya diam melihat Sima dengan berbagai gaun indah di depannya.
"Iyya."
"Din, gimana yang ini?" Sima keluar dari ruang ganti dan menunjukkannya pada sahabatnya. Tapi, gaunnya terlihat aneh jika dilihat.
"Nggak Sim, itu aneh. Coba yang ini." Dinda menyerahkan gaun pilihannya itu.
Setelah keluar, Dinda terkesima melihat Sima yang begitu cantik menggunakan gaun yang dipilihnya.
Gaun yang simpel tapi sangat elegan. Terlihat sangat cocok jika digunakan oleh Sima.
"Itu aja, cocok banget, cantik kalau kamu yang pakai."
"Yang bener?" ucap Sima tak percaya.
"Iyya itu cocok banget."
"Ya udah Mba saya ambil yang ini yah."
__ADS_1
"Din kamu nggak pilih gaun juga?" tanya Sima.
"Emh enggak Sim, aku pakai apa aja nanti yang ada di rumah."
"Udah pilih aja, biar aku yang bayarin."
"Nggak Sim, terima kasih, tapi beneran aku nggak butuh banget kok gaun."
"Iyya tapi, ini party besar jadi pasti semua yang bekerja di bawah Pratama Group pasti akan datang."
"Nggak Sim, lain kali aja aku belinya." Dinda sebenarnya sempat berpikir ingin membeli juga tapi, setelah melihat harga gaunnya, dia mengurungkan niatnya untuk membeli gaun.
"Oke, kalau nggak mau beli, aku bawain besok gaun aku, kamu nggak boleh nolak kali ini."
"Hhh, baiklah terserah kamu aja Sim, aku cuman bisa pakai."
Setelah selesai menemani Sima, Dinda juga sudah kembali ke rumah.
"Assalamualaikum.." Dinda masuk ke dalam rumah.
Dinda langsung mandi dan merebahkan sebentar badannya karena, hari ini terasa sangat panjang.
Selesai sholat Maghrib Dinda keluar untuk masak makan malam. Eric juga belum datang, biasanya jam 21:00 dia baru datang.
"Heii, Dinda?" Eric baru datang dari kantor tapi, dia langsung melihat Dinda yang ketiduran di sofa menunggunya.
"Hei, bangun kenapa tidur di sini? ayo ke kamar." Eric membangunkan Dinda dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Emhh, Mas udah pulang?" tanya Dinda.
"Iyya, baru aja, ayo ke kamar." ucap Eric yang masih berdiri di depan Dinda.
"Mas udah makan?" tanya Dinda lagi.
"Aku udah makan di kantor tadi. Jadi, lain kali tidak usah masak malam." Eric melihat makanan yang ada di atas meja makan, semua makanan kesukaannya.
"Iyya maaf Mas, Dinda pikir Mas akan pulang lebih awal tadi jadi, Dinda masak banyak."
"Emh, aku ke kamar dulu." Eric meninggalkan Dinda yang masih duduk memandangi masakan yang sudah dibuatnya susah payah.
Dinda sempat berharap Eric tetap memakan masakannya meski hanya sedikit, tanda dia menghargai masakan Dinda. Tapi, itu semua tidak Eric lakukan.
Dinda baru makan malam di jam yang sudah larut, dia tadi berpikir akan makan malam bersama Eric jadi dia masak yang banyak.
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1