
Gaji yang diterima Dinda akan diberikan sebagian pada Ibunya untuk membantu pembayaran sekolah adiknya. Uang yang diberikan Dinda tidak seberapa, karena adik-adiknya membutuhkan biaya yang banyak untuk uang sekolah.
"Yang ini untuk memperbaiki ponsel senior itu." Dinda menyisihkan sebagian untuk memperbaiki ponsel Juna yang retak akibat dirinya.
Sekarang Dinda sudah ada di rumah, saat dia datang tidak hanya Bi Sum dan Mang Diman yang ada di rumah. Eric hari ini sepertinya lembur, karena setelah sholat isya Dinda menunggu Eric untuk makan malam, tapi dia tidak muncul sama sekali.
"Apa aku telfon Tuan saja? dia pulang jam berapa, aku takut disini sendiri." Dinda tadi ketakutan karena suara hujan deras ditambah dia sendiri di rumah yang sangat besar.
"Bi' Sum juga udah pulang dari tadi."
"Tapi bagaimana aku bisa menelfon nya, aku tidak punya nomornya." Dinda bingung harus mencari nomor Eric dimana, tidak mungkin juga dia menelpon mertuanya untuk meminta nomor Eric, bisa-bisa mereka curiga nanti.
"Siapa tahu diruangan Tuan ada nomornya." Dinda menuju ruang kerja untuk mencari nomor Eric.
"Mungkin ini." Dinda membawa kartu nama yang tertera nama Eric didalamnya.
Dert...dert...dert...
"Halo?" jawab Eric sambil menandatangani berkas yang dikerjakan Rian tadi.
"Halo, Tuan ini Dinda." Eric menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Eh kenapa menelfon? dimana kau dapat nomorku?" tanya Eric, dia tidak pernah memberikan nomornya pada Eric, dia juga tidak pernah menelepon Dinda.
"Kapan Tuan pulang, ini sudah malam." Eric mengerutkan keningnya mendengar yang seolah menyuruhnya pulang cepat.
"Sebentar lagi." jawabnya singkat.
Duarrr...
Suara petir menggelegar membuat Dinda kaget mendengarnya. Listrik padam tiba-tiba, sepertinya akibat dari petir tadi.
"Akhhh. Tuan pulanglah cepat." Eric kaget mendengar jeritan Dinda yang sangat nyaring.
"Kau kenapa??" Eric berdiri dari kursinya mengambil kunci mobil dan jas-nya di dalam kamar khusus nya.
"Tuan, listriknya padam. Cepat pulang Dinda sendiri di sini." Eric baru ingat jika Dinda itu sangat penakut.
"Iyya aku sudah mau pulang ini." ucap Eric sambil buru-buru membereskan mejanya.
"Tuan jangan matikan ponselnya, Dinda takut!" Dinda sekarang masih berdiri di dalam dapur sambil menelpon.
__ADS_1
"Iya iya sabar aku baru mau masuk ke dalam mobil ini." ucap Eric menenangkan Dinda yang ketakutan.
"Disitu ada senter?" Eric sudah menjalankan mobilnya sejak lima menit yang lalu.
"Hanya ponsel." Dinda sekarang menunggu Eric di meja dapur.
Dirumah sebesar itu tidak mungkin tidak memiliki genset, hanya saja Dinda tidak tahu dimana letak genset itu, ditambah dia tidak tahu sama sekali menyalakannya.
"Tuan, kau di sana?" tanya Dinda lagi yang tidak mendengar suara Eric, karena sejak tadi Eric masih fokus menyetir.
Eric melajukan mobilnya begitu cepat membelah derasnya hujan dimalam hari. Entah kenapa dia begitu khawatir mendengar jeritan Dinda tadi.
"Iyya aku masih di sini." jawab Eric tapi tetap fokus ke depan.
Keheningan melanda keduanya, Dinda menutup matanya sambil tertunduk di atas kedua tangannya.
30 menit kemudian, Eric sudah tiba di depan rumah, dia melangkah masuk terburu-buru ke dalam rumah.
"Dinda? kau dimana!?" teriak Eric. Saat sudah tiba di depan rumah, Eric juga sudah mematikan sambungan telponnya.
"Tuan, Dinda di dapur!" Dinda ikut berteriak mendengar suara Eric.
"Heii, kau tidak apa-apa?" tanya Eric ketika sudah ada di hadapan Dinda.
Ada rasa lega di hati Eric saat melihat Dinda baik-baik saja.
"Lalu kenapa kau berteriak tadi?" tanya Eric sambil menarik tangan Dinda tanpa sadar menuju sofa ruang tengah, dengan bantuan flash HP-nya.
"Tadi ada suara petir, lalu tiba-tiba listriknya padam." adu Dinda.
"Tidak ada orang disini, Bi Sum dan Mang Diman sudah pulang sejak tadi, Tuan juga lambat pulangnya." Dinda seakan-akan sedang memarahi Eric.
"Aku banyak pekerjaan di kantor, jadi harus lembur." ini pertama kalinya mereka mengobrol layaknya suami-istri.
Eric mendudukkan Dinda di sofa lalu ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa Tuan tidak kerjakan di rumah saja?" tanya Dinda.
"Tidak bisa, kalau di kantor ada Rian yang membantuku,"
"Dimana kau dapat nomorku?" sambung Eric, saat tersadar jika Dinda yang pertama menelfon nya.
__ADS_1
"Emh, itu tadi Dinda masuk di ruang kerja tuan, Dinda sudah bingung harus menelfon siapa. Maaf Tuan." Dinda tertunduk di samping Eric.
"Tidak apa-apa." Dinda menoleh ke samping melihat Eric yang menatapnya dengan intens.
"Tuan tidak marah?" sejak beberapa hari terakhir, Dinda bisa merasakan sifat Eric yang mulai menerima Dinda. Dia juga sudah jarang memarahi Dinda seperti biasanya.
"Tidak!" entah setan dari mana yang membisik Eric untuk melihat bibir merah muda alami yang berbentuk hati milik Dinda. Rasanya Eric ingin mencicipi rasa bibir itu.
"Tuan?" panggil Dinda saat melihat Eric melamun.
"Tuan!!?" Dinda memanggilnya lebih kencang, karena Eric masih setia memandangi bibir Dinda.
"I-iyya? kenapa? kau bilang apa tadi?" Eric menetralkan kembali pikirannya yang sudah kemana-mana karena pengaruh bibir itu, walaupun pencerahan sangat minim tapi Eric sangat menikmati pemandangan bibir itu.
"Kapan lampunya menyala? ini sudah sangat lama." tanya Dinda yang sudah dipastikan Eric tidak tahu jawaban itu.
"Mana aku tahu! tapi sepertinya masih lama karena hujan belum reda."
"Tuan tidak tahu menyalakan genset? bukannya benda itu ada disini?" tanya Dinda, siapa tau Eric bisa menyalakannya.
"Aku tidak tahu menyalakannya." Eric berbohong kalau tidak tahu menyalakan genset, padahal Eric yang mengajari Mang Diman menyalakan mesin itu. Tapi entah mengapa Eric suka suasana sekarang berdua dengan Dinda, gelap dan hening.
"Yah, Dinda pikir Tuan tahu."
"Memang kau mau ngerjain apa sekarang?" tanya Eric.
"Dinda sudah mengantuk Tuan, tapi Dinda takut tidur kalau gelap seperti ini."
"Tidur saja, tidak akan ada yang menculikmu sekarang." perintah Eric.
"Tapi Tuan sudah mau ke kamar, jadi Dinda sepertinya tidak akan tidur sampai lampu menyala kembali."
"Aku tidak akan ke kamar, kau tidur saja di situ nanti kubangunkan kalau sudah nyala."
Jika Dinda yang mau tidur, dia tidak akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Selang beberapa menit, Eric sudah mendengar dengkuran halus Dinda.
Eric menoleh melihat Dinda dengan gaya tidur yang bisa dikatakan menggoda iman bagi kaum Adam.
"Ck, kenapa tidur dengan bentuk seperti itu sih! untung saja yang melihatnya aku, bagaimana jika mata pria yang kelaparan melihatnya?" Eric mengomeli Dinda yang sedang tidur.
Eric mendekat lalu mengangkat tubuh Dinda ke arah sofa yang lebih panjang.
__ADS_1
*****
Like, coment beri gift dan vote guyss 🖤❤️