Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, hari ini Eric berencana akan kembali ke mensionnya dengan membawa istrinya.


"Semuanya udah siap?" tanya Eric pada Dinda.


"Sudah mas." jawab Dinda


Jam Empat sore, Eric dan Dinda sudah meninggalkan panti. Sebelumnya Eric sudah menurunkan semua oleh-oleh yang ia bawa dari Singapura untuk semua orang di panti. Melihat semua oleh-oleh yang dibawa oleh Eric, membuat semua anak-anak kegirangan mengambilnya.


"Mas, kita langsung ke rumah?" Tanya Dinda pelan saat mobil sudah melaju meninggalkan rumah panti.


"Kita ke mension Papa dan mama dulu, setelah itu baru pulang." Jawab Eric.


"Ohh.." ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Tadi mama menelfon, katanya sebelum pulang ke rumah, kita mampir dulu katanya. Dia udah lama nggak liat kamu." Dinda menunduk mendengar ucapan Eric, dia sangat sedih karena jarang berkunjung ke rumah mertua yang sangat menyayanginya layaknya putri kandungnya sendiri.


"Maaf mas, Dinda jarang berkunjung ke rumah mama."


"Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa sayang." ucap Eric menenangkan istrinya dengan mengambil tangan kanan Dinda lalu mengecupnya.


"Mas liat ke depan!" Tegur Dinda karena Eric mengecup tangannya sambil menatap dirinya.


Setelah melewati beberapa menit, akhirnya mereka sampai di mension Pak Hasan dengan selamat.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


"Pah, itu pasti mereka sudah datang." ucap Bu Hasna dengan antusias.


"Iyya tunggu!" teriak Bu Hasna sambil berlari kecil ke arah pintu untuk membukanya.


"Wa'alaikumusalam!" ujar Bu Hasna saat membuka pintu.


"Dinda! Mama kangen sayang." Bu Hasna langsung memeluk menantunya dengan saat erat.


"Dinda juga ma." Dinda membalas pelukan mertuanya.


"Udah dulu pelukannya, ayo masuk!" ucap Eric di samping Dinda.


"Aduh, sampe lupa ajak masuk. Ayo!" Bu Hasna menarik tangan menantunya, tanpa memperdulikan putra tunggalnya yang berdiri mematung.


"Assalamualaikum pah!" sapa Dinda lalu meraih tangan pak Hasan untuk di salimi.


"Wa'alaikumusalam nak."


Eric membawa semua oleh-oleh yang ia beli di Singapura kemarin ke dalam rumah. Kemarin ia sudah lupa memberikan oleh-oleh itu sangking paniknya mencari Dinda.


"Kalian akan bermalamkan? Mama sudah masak yang banyak untuk kalian." hari ini bu Hasna tidak membiarkan Bibi' yang memasak, karena menantu dan putranya akan berkunjung jadi dia sendiri yang memasak semuanya.


"Mmh, Dinda mengikut saja mah sama mas Eric." ucap Dinda yang melihat ke arah sang suami.

__ADS_1


"Tapi Eric besok pagi-pagi mau ke kantor mah."


"Kan bisa berangkatnya dari sini, kalau mau berangkat yah berangkat saja, Dinda tingg saja dulu disini, nanti setelah pulang baru jemput di sini." Saran Bu Hasna.


"Baju kamu juga banyak tuh di dalam kamar."


"Baiklah, kami bermalam saja, besok baru pulang." keputusan Eric membuat Bu Hasna sangat senang.


"Yasudah, naiklah dulu bersih-bersih lalu turun ke sini kita makan bersama."


"Iyya mah." Dinda mengikuti Eric menuju ke kamar mereka dengan pelan, entah mengapa dia akhir-akhir ini selalu cepat merasa lelah dan pusing.


"Kenapa sayang?" tanya Eric saat sudah sampai di dalam kamar.


"Kenapa wajahnya pucat?" tanya Eric sambil menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Dinda yang duduk di ujung kasur.


"Tidak apa-apa, Dinda tidak sakit kok." ucap Dinda.


"Capek yah?"


"Iyya." ucap Dinda.


"Yah udah istirahat dulu yah, nanti kalau mau sholat baru bangun." Eric menidurkan Dinda


lalu menyelimutinya.

__ADS_1


Hai Readers!!! Maaf banget yahh udah jarang update akhir-akhir ini, soalnya lagi sibuk banget di kampus, awal bulan Desember juga lagi fokus sama ujian final. Nanti di usahain yah bakal update lagi!!!


__ADS_2