
Mobil mewah Eric melaju dengan kecepatan tinggi membelah derasnya hujan malam ini, untungnya saja jalanan sudah sepi jadi Eric leluasa melaju dengan cepat. Sekitar empat puluh lima menit kemudian, Eric sampai dengan selamat di depan rumah panti asuhan.
Dengan langkah lebar dan cepat Eric lari ke depan pintu rumah sederhana itu.
"Assalamualaikum!! Pak, Bu..!?" Belum ada jawaban sama sekali.
Entah mengapa malam ini air minum di dalam kamar pak Bahar habis, lalu bu Tini ke dapur untuk mengambil air minum.
"Assalamu'alaikum!! pak, bu...!?"
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" Ucap bu Tini terheran-heran tapi belum melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Apa semua orang sudah tidur?" Eric mengambil ponselnya di dalam saku untuk menelfon pak Bahar tapi pak Bahar tidak menjawab telfonnya.
"Ck... Assalamu'alaikum!!" Eric tak menyerah mengetuk pintu itu, hingga pada akhirnya muncullah Bu Tini dari balik pintu.
__ADS_1
"Wa'alaikumusalam... eh nak Eric!" Bu Tini terkejut mendapat Eric yang ternyata dari tadi mengetuk pintu.
"Bu', Dinda adakan di dalam?" Tanya Eric to the poin dengan wajah seriusnya.
"Oh Dinda, iyya nak dia ada di kamarnya." ujar Bu Tini.
Perasaan Eric langsung terasa nyaman dan detak jantungnya kembali normal setelah mendengar Dinda ada di dalam.
"Ayo nak masuk dulu, di luar dingin." Ucap Bu Tini mempersilahkan Eric masuk ke dalam.
"Bu' saya bisa ke kamar Dinda dulu." izin Eric terlebih dahulu yang mendapat anggukan dari Bu Tini.
Langkah demi langkah Eric lalu hingga sampai di depan kamar Dinda. Dengan pelan Eric memutar kenop pintu berwarna coklat itu, lalu yang pertama dalam penglihatan Eric nampak ada wanitanya yang sangat ia rindukan tengah tertidur di atas kursi dengan bertumpu di atas buku dan kertas sambil melipat kedua tangannya. Eric mendekatinya secara perlahan, saat sampai di samping Dinda, dia menurunkan badannya agar sejajar dengan Dinda.
"Sayang..." Tangannya terangkat mengelus pipi Dinda yang terlihat berbeda dari terakhir kali dia melihatnya. Tidak ada pergerakan dari Dinda, yang dia dengar hanya dengkuran halus dari bibirnya. "Kenapa pipinya tampak tidak berisi lagi?" ucap Eric dalam hati sambil terus mengelusnya. Eric mulai mengangkat tubuh Dinda dengan perlahan, dia tidak tega melihat istrinya tidur dengan gaya seperti itu.
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati Eric meletakkan tubuh mungil istrinya di atas kasur yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan kasur empuk yang ada di rumahnya. "Enghh..." lenguh Dinda dalam tidurnya karena merasa tidurnya mulai terusik. "Ssstt..." Eric menenangkan Dinda sambil mengelus rambut istrinya yang tampak kelelahan.
"Kenapa kamu terlihat kurus sayang? Apa kamu tidak merawat dirimu dengan baik?" Berbagai pertanyaan mulai menyerang pikiran Eric, dia menyesal pernah mengabaikan telfon istrinya dengan sengaja saat di Singapura, mungkin saja saat itu Dinda hanya ingin bertanya sesuatu, tapi ia malah mengabaikannya.
"Maaf sayang karena belum mengatakan perasaan mas yang sesungguhnya padamu, besok mas akan memberitahumu, supaya kamu tidak merasa kepikiran lagi." Ucap Eric lalu mencium kening Dinda lama, setalah itu dia mencium seluruh wajah istrinya, sungguh dia sangat merindukan wanitanya ini.
Merasa ada yang aneh pada wajahnya, Dinda membuka matanya dengan perlahan karena sangat terusik atas perlakuan suaminya.
"Ngghh..." Dinda membuka matanya dengan sempurna, alangkah kagetnya ia saat melihat wajah suaminya di sampingnya sambil menatapnya dengan senyum manisnya.
"Kenapa bangun? Tidurlah kembali." ujarnya sambil mengelus pipi Dinda. Tapi tatapan Dinda masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekitar satu menit dia menatap Eric, tiba-tiba dia membalikkan badannya memunggungi Eric sambil menangis.
"Hei! Kenapa berbalik!?" tanya Eric yang heran melihat Dinda yang berbalik dan menangis.
"Aku mimpi lagi... hiks...hiks..." Eric mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dinda.
__ADS_1
"Kenapa mas Eric selalu datang ke mimpi Dinda!?" ujar Dinda dengan lirih berhasil membuat hati Eric benar-benar sakit melihat istrinya, kenapa dia bisa begitu bodoh mengabaikan istrinya satu bulan terakhir ini? sampai-sampai istrinya terbawa mimpi dan terlebih lagi berat badannya yang sangat turun drastis.
"Sayang..."bujuk Eric sambil mengelus lengan Dinda.