
"Assalamualaikum." Dinda masuk ke dalam rumah sederhana itu, rumah dia tumbuh bersama saudara.
"Kakak!!" adik-adiknya di panti berlari memeluk Dinda, bahkan Dinda hampir jatuh karena mereka.
"Dek, pelan-pelan dong." Dinda berjongkok merentangkan tangannya agar dipeluk adik-adiknya.
"Kakak kenapa baru dateng?" tanya gadis kecil berusia sembilan tahun.
"Kak bermalam lama disinikan?"
"Kakak nggak sayang kita lagi yahh?"
"Iyya kakak lama banget, Lina kangen nasi goreng kakak tauu." mereka semua menyerang Dinda dengan pertanyaan.
"Diam semuanya. pertanyaannya satu-satu dong, kakak jadi bingung jawab yang mana dulu ini." Dinda mengangkat tangannya untuk menghentikan kehebohan adik-adiknya.
"Maaf kak." ucap mereka bersamaan.
"Nanti aja kita ceritanya yah, kakak mau liat Ina dulu." Dinda bangkit lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang berisi banyak tempat tidur bertingkat.
Dinda melihat Bu Tini duduk di samping Ina yang tidur terlentang.
"Assalamualaikum." Bu Tini berbalik.
"Dinda, kamu jadi datang Nak?" Bu Tini langsung menghampiri Dinda lalu memeluknya.
"Iyya Bu."
"Ibu kangen banget sama kamu Nak." Dinda dapat merasakan pelukan ibunya sangat erat menandakan ia benar merindukan Putrinya.
"Dinda juga Bu."
"Ehh Ibu, Ina udah minum obat belum?" tanya Dinda setelah melepas pelukannya.
"Belum Nak, makannya saja cuman tiga sendok." jawab Bu Tini.
"Ina..?" panggil Dinda yang sudah duduk di samping Ina.
Gadis kecil itu perlahan membuka matanya mendengar suara kakak yang dia rindukan beberapa hari ini.
"Kakak.." Ina bangun lalu memeluk Dinda dengan erat.
"Kakak Ina kangen banget." Dinda mengelus punggung kecil itu dengan lembut.
"Iyya kakak juga kangen sama Ina." Ina masih mengalungkan tangannya di leher Dinda, sehingga Dinda dapat merasakan badan Ina yang terasa sangat panas.
"Ina, kenapa belum makan obat hmm?" Dinda melepas tangan mungil itu dari lehernya.
__ADS_1
"Ina nggak suka, rasanya pahit!" Ina menjawab lalu kembali memeluk Dinda.
"Ihh, nggak boleh gitu, makan obat dulu yahh, lalu nanti tidurnya sambil kakak peluk." Dinda membujuk Ina lagi dengan tawaran memeluknya sambil tidur.
"Kakak janji?" Ina melepas pelukannya lalu mengajukan jari kelingkingnya depan Dinda.
"Janji!"
"Iyya Ina mau minum obat." akhirnya Ina meminum obat yang diberikan Dinda.
"Ina baring dulu yah, Kakak mau simpan barang dulu." ucapnya setelah membaringkan Ina.
*****
Eric sudah sampai di rumah, saat memasuki rumah tadi rumah terasa sangat sepi.
"Huuft.." Eric menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
Eric melamun mengingat ucapannya saat Dinda minta izin ke panti beberapa saat yang lalu.
"Aku selalu menuduhnya mengincar harta Keluargaku, tapi aku belum melihatnya dia berfoya-foya selama di sini." ucap Eric bingung.
Terhitung usia pernikahan mereka baru menginjak dua Minggu tapi Eric masih belum pernah memberikan sepeser uang ke Dinda. Dinda juga tidak pernah meminta uang ke Eric, karena merasa tidak akan enak jika meminta uang sementara Eric selalu menuduhnya mengincar harta.
"Hahaha, aku hampir dikelabui, mungkin saja dia tidak meminta uangku tapi selalu meminta uang ke Mama atau Papa," Eric berspekulasi bahwa Dinda itu tetaplah gadis yang memanfaatkan pernikahannya.
"Hah, sudahlah untuk apa memikirkannya, lebih baik aku tidur."
Eric melangkah menuju tangga, tapi sebelum itu dia mengambil air putih di dapur terlebih dahulu. Saat ingin kembali ke kamar, Eric melirik pintu kamar Dinda yang tidak tertutup.
"Ck, mentang-mentang bukan dia yang bayar listrik, malah seenaknya tidak matikan lampunya." Eric masuk ke kamar sempit itu ingin mematikan lampu.
Sebelum menekan sakelar lampu, dia melihat meja belajar duduk di samping tempat tidur tipis, terdapat foto Keluarga Dinda di Panti Asuhan.
"Semuanya tampak bahagia meski bukan saudara kandung." itulah kalimat yang ada di pikiran Eric.
Eric memang menyukai anak-anak tapi dia tidak memiliki saudara, karena itulah Eric selalu kesepian di rumahnya. Tidak punya teman bermain di rumah.
Eric mengamati sekeliling kamar itu, menurutnya sangat sempit dan terbatas. Dia mematikan lampunya lalu menutup pintunya rapat.
*****
"Ibu kenapa belum tidur?" Dinda melihat Ibunya yang duduk termenung di sofa ruang tamu.
"Ehh Dinda, kenapa tidak tidur menemani Ina? tanya Bu Tini.
"Dinda mau ambil air untuk mengompres badan Ina Bu." Dinda meninggalnya Ina di kamar yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Ibu kenapa belum tidur? ini sudah larut."
"Ibu belum mengantuk Nak, kamu tidur sana nanti Ina cari kamu lagi." usir Bu Tini.
"Ibu mikirin apa? pasti bukan masalah sepele yang Ibu pikir." tebak Dinda.
"Enggak Dinda, Ibukan memang nggak bisa tidur lebih awal." ucap Ibunya.
"Bu Dinda nggak percaya, Ibu cerita kalau punya masalah." Dinda menyentuh tangan Ibunya.
"Nak, kalaupun Ibu banyak pikiran itu pasti tentang saudara kalian di panti. Kamu tidak perlu tahu, kamu fokus saja dengan rumah tangga dan kuliahmu Nak." ucap Bu Tini.
"Kenapa Dinda nggak boleh tahu? Ibu udah nggak anggap Dinda anaknya Ibu yah?" Dinda tiba-tiba sedih mendengar ucapan Ibunya.
"Hei, jangan ngomong gitu, kamu tetap anak Ibu. Memang bukan Ibu' yang melahirkan kalian semua tapi Ibu' sanggup memberikan nyawa Ibu' jika itu untuk kalian." Bu Tini tidak bisa menahan air matanya mengucapkan kata-kata itu.
"Lalu kenapa Ibu nggak mau cerita ke Dinda, bisa saja Dinda bantu masalahnya Bu."
"Apa ini tentang pembayaran sekolah mereka." tebak Dinda tepat sasaran.
"Bukan masalah besar Nak, Ibu' dan Bapak bisa mengatasi masalah ini." jujur Bu Tini.
"Ibu mengharap uang bengkel? itu tidak akan cukup Bu, Dinda akan bantu yahh."
"Nak jangan minta uang pada Nak Eric, nanti mereka berpikir jika kita memanfaatkan harta mereka, Ibu' nggak akan setuju jika kamu mau meminta pada Keluarga Suamimu.” Tolak Bu Tini.
"Bu', memang siapa yang mau minta ke mereka, uang yang Dinda tawarkan itu dari hasil bekerja dari toko roti."
"Memang kamu masih kerja di sana?" Bu Tini baru tahu kalau Dinda masih bekerja sebagai pelayan di toko roti Bu Suzan.
"Iyya Bu, Dinda masih kerja, lumayan buat bantu-bantu pemasukan."
"Suamimu tidak melarangmu?" tanya Bu Tini membuat Dinda bingung menjawabnya.
"Ehm, i-iyya Bu dia ngasih Dinda izin kok." ucapnya bohong padahal Eric tidak tahu sama sekali Dinda bekerja.
"Kamu kesusahan dong kerjanya Nak, kan toko jauh dari rumahmu."
"Itu dia Bu, Dinda harus lebih giat kerjanya, supaya bisa beli motor buat kerjanya gampang."
"Amiin, yang terpenting kuliah kamu lancar Nak."
"Iyya Bu, pasti!" ucap Dinda.
*****
Like, coment and vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1