Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Cara Eric Menggagalkan Rencana Juna.


__ADS_3

Setelah rapat dengan dewan direksi, Juna keluar dari ruangan lalu menuju ke arah kantin, tapi dia sengaja berjalan pelan karena ingin menunggu Dinda juga.


"Kenapa dia belum terlihat?" Juna sudah hampir masuk ke arah kantin, dia berencana akan menunggu Dinda di dalam kantin saja.


Ting...


Setelah merasakan getaran ponsel yang berada di dalam saku celananya, Juna langsung mengambil ponselnya, karena dia menyangka itu adalah pesan dari Dinda.


08**********


"Tidak usah menunggu Dinda di kantin, dia tidak akan datang. Pulanglah!!!"


Juna mengernyitkan alisnya melihat isi pesan itu, terlihat juga nomor tersebut tidak ia kenal.


"Mungkin saja ini nomor sahabat Dinda yang garang itu, karena dia tidak menyukai jika gua mendekati Dinda." tapi Juna akan tetap menunggu Dinda, karena semalam Dinda sudah me-read isi chatnya.


Eric di ruangannya tengah tersenyum setelah melihat dua ceklis itu sudah berubah menjadi warna biru. "Tunggulah sampai p*nt*tmu itu panas bahkan sekalian gosong, karena istriku tidak akan datang." ujar Eric dengan senyum sinisnya.


Flashback on.


"Sayang, bekal untukku mana?" Tanya Juna dari arah ruang tengah setelah menyelesaikan makannya.


"Mas yakin mau bawa bekal? emang nggak malu?" Tanya Dinda balik, karena ini pertama kalinya Eric ingin membawa bekal dari rumah, jadi Dinda agak ragu jika Eric membawa bekal, jangan sampai Hal itu menjadi omongan para karyawan.


"Buat apa malu, lagian mas ingin makan siang dengan nasi goreng yang tadi." Eric menghampiri Dinda yang masih menyiapkan bekal akan dibawa Eric nanti.


"Baiklah. Dinda bawakan juga nasi dengan ayam juga, takutnya nanti nasi gorengnya basi kalau udah siang." pasalnya nasi goreng itu Dinda buat saat jam enam pagi tadi, setelah sholat subuh dia langsung ke dapur untuk memasak.


"Iyya bawakan saja, semuanya mas akan makan."


"Nanti tidak adakan yang mengejek mas kalau bawa bekal ke kantor? nanti mereka bilang kalau seorang CEO bawa bekal ke kantor." Dinda berbalik memunggungi kitchen set untuk melihat Eric yang berdiri di belakangnya.


"Kalau ada yang bilang seperti itu, nanti dia akan ku suruh membuat surat pengunduran diri!" ujar Eric lalu mencuri cium*n pada bibir Dinda.

__ADS_1


"Mass!" ujar Dinda dengan kesal sebelum berbalik mengerjakan tugasnya.


"Sayang nanti kamu ke ruangan aku yahh, aku mau di suap."


"Hah? tapikan mas biasanya makan siang dengan kak Rian, lagian kalau Dinda ke ruangan mas akan susah, banyak orang yang melihat."


"Tidak akan ada yang melihat, nanti aku minta Lina untuk memenaggilmu ke ruanganku, nah sekalian kita makan siang di ruanganku nanti." Dinda hanya mengangguk mendengar ide Eric.


"Mudah-mudahan tidak ada yang melihat nanti."


Flashback Off


Sekarang ini Eric tengah menunggu kedatangan sang istri, dia sudah memberitahu Lina untuk memanggilkan Dinda dari beberapa menit yang lalu.


Tok...tok...tok...


Setelah mengetuk pintu, Dinda dengan pelan membuka pintu lalu menutupnya dengan rapat.


"Mas??" mata Dinda tertuju pada pintu ruangan khusus yang tertutup itu, "Mungkin mas Eric ada di dalam." Dinda melangkah ke arah pintu lalu masuk setelah mengetuknya terlebih dulu.


Baru sekitar tiga langkah, tiba-tiba dari arah belakang sudah ada badan yang tinggi tegap tengah memeluknya dengan erat.


"Kenapa lama sekali hmm??" ujar Eric.


"Astagfirullah mas, kamu ngagetin aja. Dinda lama karena nungguin orang-orang ke kantin dulu."


Eric membalikkan tubuh Dinda menghadap ke arahnya, di tatapnya mata yang berwarna hazel itu dengan dalam. "Kenapa mas?" ujar Dinda yang sambil menatap balik Eric.


"Nggak, pengen liatin kamu aja."


Selama Lima menit, Eric masih betah melihat wajah Dinda, sampai-sampai membuat Dinda malu sendiri.


"Mas nanti waktu istirahatnya habis."

__ADS_1


"Huft, padahal mas masih betah liatin kamu." gombal Eric membuat Dinda tersenyum malu.


"Udah sholat dhuhur?" Tanya Eric.


"Sudah mas, sebelum ke sini Dinda udah sholat di mushollah."


"Padahal mas nungguin kamu, biar kita sholat berjamaah di sini." ujar Eric pura-pura sedih.


"Maaf mas." ucap Dinda sambil mengelus rambut Eric yang terlihat sedih, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya.


"Mas sholat aja dulu, sambil Dinda siapin makanannya. Oh iyya bekalnya mana mas?" Dinda mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut, tapi tidak menemukan kotak bekalnya.


"Ada di luar, tunggu mas ambilkan dulu."


Setelah Eric mengambil bekal di luar lalu sholat dhuhur, dia duduk di samping Dinda yang sudah menyiapkan makanan di atas meja.


"Sudah? Mas mau makan apa?"


"Nasi gorengnya nggak basi kan?"


"Udah mau basi mas, sebaiknya nggak usah di makan, nanti mas sakit perut. Mas makan ayam dengan nasi saja yah!?" ujar Dinda yang memang takut Eric sakit perut karena memberinya makanan yang hampir basi.


"Baiklah, ini cukup untuk kita berdua kok."


"Bismillahirahmanirahim." ucap Dinda sebelum menyiapkan sesendok nasi dan lauk ke mulut Eric.


"Kamu juga makan sayang."


"Mas saja dulu, nanti kalau mas udah kentang Dinda baru makan nanti."


"Kamu mau makan sisa?" Tanya Eric heran.


"Kenapa enggak, ini sisa mas kok, Dinda nggak jijik." ucap Dinda sambil menyup Eric.

__ADS_1


__ADS_2