
Dinda terdiam mendengar pertanyaan Eric.
"Bukannya Mas tidak mau pernikahan kita ter-publish, kalau kita berjalan berdua bisa-bisa akan ketahuan, karena banyak yang kenal Mas." hari Eric agak tercubit mendengar penuturan Dinda.
"Iyya, aku lupa." Eric menjalankan mobilnya dengan mood yang tidak baik.
Hanya butuh beberapa menit, mereka sampai di rumah. Di perjalanan mereka tidak banyak mengobrol.
"Mas, ayo makan!" panggil Dinda dari dapur.
Tidak ada jawaban dari Eric, dia hanya langsung ke meja makan. Dinda merasakan perubahan sikap Eric sejak pulang dari toko roti, mungkin Dinda salah bicara, sampai Eric marah padanya.
Mereka makan dalam diam dan tenang.
Selesai makan Dinda langsung mencuci semua piring dan gelas yang sudah terpakai, lalu segera menyusul Eric di dalam kamar.
Eric masih bermain dengan ponsel canggihnya tanpa menoleh melihat Dinda masuk ke kamar, Dinda juga tidak tahu apa yang dilakukan Eric.
Sebelum tidur Dinda ke kamar mandi mengganti pakaian dan bersih-bersih, dia ingin mengecek persiapannya besok untuk melamar kerja.
Dinda keluar menggunakan pakaian tidur berlengan pendek dengan rambut di ikat tinggi ala idol K-Pop.
"Mas, Dinda besok pulangnya agak telat yah." Eric menatap Dinda didepannya.
"Kenapa dia sangat suka mengikat rambutnya seperti itu?" ucap Eric dalam hati memperhatikan rambut Dinda, Eric risih melihatnya bukan karena tidak suka, tapi karena pandangan matanya selalu tertuju pada leher jenjangnya.
"Kenapa?"
"Emh, Dinda mau pergi melamar kerja Mas."
"Berarti dia akan ke kantor besok." ucap Eric dalam hati.
"Duduk!" Eric menepuk di sampingnya.
Dinda duduk di dekat Eric.
"Mas, Dinda mau bertanya." Dinda memberikan diri bertanya, kenapa Eric tidak seperti biasanya.
"Apa?" ucap Eric dengan nada dinginnya.
"Mas kenapa?"
"Aku kenapa?"
"Mas marah ya, soal tadi sore."
__ADS_1
Eric bukannya marah hanya saja dia agak kesal Dinda sepeti tidak mau terlihat berjalan berduanya.
Tapi, kenapa Eric ingin marah, bukannya ini yang dia inginkan? pernikahannya tidak ter-publish oleh masyarakat.
"Tidak." ucapnya bohong.
"Tapi, kenapa mas diam-diam?"
"Tidak, aku hanya ingin diam saja." lagi-lagi Eric menyangkal.
"Benarkah? tapi, Dinda pikir Mas marah soal yang di toko roti." Dinda masih terus memandang Eric dari samping.
"Hem, Iyya aku sedikit kesal saja." Eric mengakuinya jika dia agak kesal dengan persoalan tadi.
"Maaf Mas, Dinda cuman takut ada yang melihat Mas di sana." Eric menoleh melihat Dinda yang menunduk di sampingnya.
"Biarkan saja jika ada yang melihatnya." ujar Eric.
"Memang Mas nggak malu kalau ada yang melihat kita!?" Dinda tidak ingin diterbangkan lagi karena Eric tidak masalah jika mereka terlihat bersama, bagaimanapun Dinda juga tahu kalau Eric itu adalah orang terpandang di kota bahkan di wilayah tersebut.
"Untuk apa malu?"
Dinda tidak menjawab sama sekali.
"Mas nggak malu kalau nanti ada teman Mas melihat kita, Dinda cuman orang biasa."
Dinda takut jika nama Eric yang bersih langsung tercemar karena jalan dengan orang biasa, dimana Eric hanya sering bergaul dengan orang-orang penting.
"Tidak, aku tidak malu."
"Tapi pernikahan kita memang sudah terlanjur tidak ter-publish Mas." sampai sekarang memang Eric belum mem-publish soal pernikahannya kepada semua bawahannya di kantor.
"Mungkin memang baik jika pernikahan ini tidak ter-publish."
Jdar...
Dinda bagai tersambar petir mendengar penuturan Eric. Dinda hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.
"Terserah Mas saja, Dinda hanya mengikut." Eric memperhatikan Dinda yang terlihat berkaca-kaca, hanya saja Dinda mencoba menahannya agar air matanya tidak menetes.
Eric meraih tangan Dinda untuk di genggamnya, tangan Dinda terasa dingin seketika saat Eric menggenggamnya.
"Maaf jika aku sering menyakitimu selama ini. Dan maaf masih belum bisa mengungkapkan pernikahan kita pada dunia, aku masih belum bisa yakin kalau aku sudah mencintaimu." pertahanan Dinda sudah runtuh, air matanya menetes begitu saja mendengar Eric.
"Beginikah rasanya mencintai suami sendiri, tapi dia tidak menerimamu. Rasanya sangat sakit ya Allah." ucapnya dalam hati, jika sekarang Dinda tidak ada di hadapan Eric mungkin Dinda sudah menangis dengan keras.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas." Dinda menarik tangannya dari genggaman Eric, lalu mengusap air matanya yang tidak mau berhenti.
Dinda memang jika dibentak sedikit saja bisa menangis, ia sangat cengeng dari dulu.
Hati Eric sakit melihat air mata itu mengalir, dia yakin pasti karena ucapannya barusan. Tapi, kenapa hati dan mulutnya mengatakan hal yang berbeda?
"Ayo tidur, ini sudah malam." ajak Eric.
"Mas duluan saja, Dinda mau melihat berkas yang akan Dinda bawa besok." Dinda meninggalkan Eric di sofa, lalu mengambil meja kecilnya di sudut ruangan.
Eric mengangguk lalu meninggalkan Dinda yang fokus menyusun berkas-berkasnya.
"Berarti dia akan ke kantor besok." Eric bersandar di headboard tempat tidur, lalu mengambil ponselnya mengabari Rian tentang Dinda.
"Besok Dinda akan ke kantor buat ngelamar kerja." setelah pesannya terkirim, Eric meletakkan ponselnya di nakas.
"Mas, kalau mau matikan lampunya, matikan saja." Dinda berbalik memberitahu Eric yang masih setia memandangnya.
"Iyya, jangan terlalu larut tidurnya." ingat Eric lalu mematikan lampu menyalakan lampu tidur. Sebenarnya Eric belum mengantuk, entah kenapa dia rasanya ingin menghapus air mata Dinda lalu menariknya ke dalam pelukannya.
Dinda juga tidak terlalu fokus pada berkas di depannya, memang dia tengah menyusun berkas tapi otaknya masih mengingat perkataan Eric.
Jika mengingatnya lagi, mata Dinda langsung berkaca-kaca, Dinda melihat ke atas untuk menahan air matanya agar tidak menetes, tapi tetap saja itu tidak berpengaruh.
Khemm...
Eric berdehem membuat Dinda menghapus jejak air matanya. Dia memasukkan berkasnya ke dalam map lalu menyusul Eric ke tempat tidur.
Eric tidur terlentang, tapi sebenarnya dia belum tidur, dia menunggu Dinda selesai dengan urusannya.
Dinda tidur memunggungi Eric, tapi dia juga tidak bisa tidur.
"Kau belum tidur?" Eric tahu Dinda belum tidur sama sekali, begitu pula dengannya.
"Heem, belum Mas." Eric balik menghadap ke Dinda.
"Kenapa belum tidur?"
"Dinda nggak tahu, belum mengantuk saja."
Eric mendekatkan badannya ke Dinda, lalu tangannya ia selipkan antara bantal dan kepala Dinda, sehingga Dinda tidur di atas lengan Eric.
Dinda terkejut dengan apa yang dilakukan Eric padanya, Dinda mau berbalik tapi Eric keburu mengunci Dinda dengan memeluk perutnya yang rata.
*****
__ADS_1
Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️