Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Eric Mendadak Sakit.


__ADS_3

Matahari sudah terbit dari timur, tapi Eric belum bangun juga, setalah sholat subuh Eric melanjutkan tidurnya, ia merasa tidak enak badan bahkan semalam dia juga tidak tidur nyenyak karena selalu bersin.


"Kenapa tuan belum bangun juga, apa dia baik-baik saja?"semalam Dinda mendengar Eric bersin, jadi dia pergi ke mini market terdekat untuk membeli madu dan obat pilek. Setelahnya dia mengambil air hangat di dapur hotel dan mencampurkannya dengan madu tadi.


Flashback on.


Haachiww...haachiww... haachiww..


Dinda terbangun akibat suara bising bersin Eric, bahkan Eric tidak bersin sekali dua kali, tapi ini bukan bersin yang normal.


Dinda menatap Eric dari bawah, Eric memang terlihat tidak sehat.


"Tuan? Tuan kenapa?" tanya Dinda yang menghampiri Eric di kasur, tapi tidak sampai duduk di dekat Eric.


"Menurutmu aku kenapa hah? dari tadi aku bersin terus, tidak mungkin aku baik-baik saja." jawab Eric dengan ketus dengan sesekali bersin lagi.


"Ohh maaf, sepertinya tuan masuk angin karena tadi semalam tuan duduk di balkon terus."udara malam hari di Bali memang sangat dingin.


"Bagaimana jika Dinda pergi beli obat dulu saja di bawah tuan."izin Dinda dan Eric hanya menjawabnya dengan berdehem.


Dinda bangun mengambil kardigan oversize dan memakai celana training panjang, ia segera pergi membeli apa yang diperlukan.


tidak butuh waktu yang lama Dinda sudah membeli semua, kerena mereka memang tinggal di lantai dua.


"Tuan? Dinda sudah beli semua, tuan mau minum yang mana dulu?"tanya Dinda memperlihatkan jenis obat-obatannya.


"Yang madu itu saja dulu." Eric memilih meminum air hangat dan madu itu, jika tidak ada perubahan nanti disusul dengan obat. Dari kecil Eric sangat malas meminum obat, terutama obat yang pahit, menurutnya lebih baik di suntik dari pada minum obat.


"Ini Tuan." Dinda menyodorkan air hangat itu dan diterima Eric.


"Ini." Dinda mengambil gelas itu lalu meletakkannya di nakas.


"Tuan butuh sesuatu?" tanya Dinda saat melihat Eric mengucek hidungnya.


"Tidak, aku hanya ingin istirahat saja."jawabnya diangguki Dinda. Dinda baru terlelap setelah melihat Eric sudah terlelap, takutnya jika Dinda yang lebih dulu tidur pria itu membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya sendiri.


Flashback off.


Dinda mendekati Eric yang masih di tempat tidur tapi ada yang beda, jika biasanya Eric tidur hanya memakai selimut sebatas perut sekarang malah hampir menutupi seluruh tubuhnya.


"Tuan?ini sudah jam tujuh pagi." Dinda mencoba membangunkan Eric yang masih belum bergerak sedikit pun.


"Tuaaann?" Dinda memanggil sekali lagi memastikan.


"Tuannn?"kali ini Dinda memberanikan diri untuk menyentuh bahkan menggoyangkan sedikit lengan Eric.

__ADS_1


"Astaga, Tuaan kenapa badan tuan sangat panas?" Dinda membuka selimutnya pelan dan menyentuh lengan yang dia goyangkan tadi.


Dinda beralih memegang dahi Eric, rasa takut yang Dinda rasa ketika menyentuh bahkan bicara pada Eric hilang begitu saja ketika melihat Eric dengan wajah yang pucat bahkan menggigil.


Saat Dinda berdiri mengambil berniat ingin ke dapur hotel, ingin mengambil air untuk mengompres tiba-tiba saja ada yang memanggil dan menahan tangannya.


"T-tunggu, k-kau di sini saja."tahan Eric dengan nada yang gemetar hebat.


"Tapi badan Tuan panas sekali, ini Dinda mau ambil air untuk mengompres badan Tuan dulu."Dinda memaksa melepas tangan Eric dari tangannya.


"**-tidak usah itu tidak m-mempan." Eric tetap memaksa tidak ingin di tinggalkan.


"Ya sudah Tuan minum obat saja dulu , ini badan tuan sangat panas."Dinda memberikan solusi yang lain, dia tidak tega melihat pria yang selalu memarahinya pucat dan gemetaran.


"Ohh tunggu, lepaskan tangan Dinda dulu Tuan, Dinda telfon pelayan untuk membelikan obat sebentar."akhirnya Eric melepas tangan Dinda dengan segala macam bujukan.


Dinda segera menelepon pelayan hotel menggunakan telepon yang tersedia di hotel.


"Tunggu sebentar Tuan, pelayan itu baru pergi beli obat." dinda kembali duduk di samping Eric yang berbaring.


Melihat Dinda sudah kembali Eric mengambil tangan Dinda digenggamnya, Dinda sendiri hanya menuruti dengan keadaan hatinya tidak karuan.


Ting..tong..


"Terima kasih." pelayan itu hanya mengangguk.


“Tuan bangun dulu, obatnya udah ada.” Dinda menuntun Eric bangun dari tidurnya.


“Ini pasti sangat pahit, apa tidak ada sirup saja?” Eric melihat obat tablet di tangan Dinda.


“Tuan hanya obat demam anak di bawah lima tahun yang pakai sirup , tidak ada untuk dewasa.” Jika dilihat wajahnya yang tegas, Dinda tidak menyangka jika Eric tidak bisa minum obat tablet.


“Aku tidak bisa mengunyahnya, hancurkan dulu obatnya.”ucap Eric memelas pada Dinda.


“Tuan nggak bisa ngunyah? Ohh baiklah Dinda hancurkan dulu.” Dinda mengambil dua sendok untuk menghancurkan obat tablet itu.


“Ini Tuan.” Dinda menyodorkan obat yang di sendok itu.


"Berikan air, lalu aduk-aduk, kalau seperti itu masih terasa pahitnya."


"Apa ini saja sebenarnya sudah tidak terasa sekali jika langsung minum." ucap Dinda dalam hati


"Baiklah." Dinda sudah mencampur obat itu dengan air.


"Ini." Dinda menyerahkan sendok di depan Eric, bukan di depan mulutnya.

__ADS_1


"Aaa..." Dinda refleks menyuapi Eric mendengarnya mengatakan a. Eric menutup matanya tanda obatnya sangat pahit, Dinda langsung memberikan air.


"Tuan bagaimana nanti malam kita pulang jika tuan masih sakit?" Eric menatap Dinda di depannya yang menatapnya sendu.


"Ambil ponselku dan telfon Rian lalu berikan padaku." tunjuknya Eric ke ponselnya. Dinda mengambil ponsel itu lalu memberikannya sambil berdiri.


"Cari nama Rian aku ingin bicara." Dinda menyalakan ponsel Eric tapi harus memasukkan password.


"Tuan ada password-nya."


"Tanggal lahir ku."jawab Eric.


"Berapa?"Dinda masih setia berdiri di samping Eric.


"Hah , 03-07-93" Dinda memasukkannya yang langsung terbuka.


"Ini Tuan, sudah tersambung."


"Duduklah, jangan berdiri"perintah Eric, Dinda duduk di depan Eric.


Tuut... tuut... tuut...


"Halo?"


"Ehmm ada apa?"Eric menelfon Rian saat Rian ingin rapat dengan divisi.


"Bisa kau batalkan dulu penerbangannya untuk malam ini?"


"Tunggu sebentar aku akan segera kembali."pamit Rian pada karyawan divisi.


"Apa? kenapa kau membatalkannya?" Rian tidak mengerti, semalam Eric ngotot harus pulang hari ini tapi sekarang malah mau membatalkannya.


"Gua sakit dan badan gua sakit semua."


"Apa semalam kau begitu bersemangat sampai-sampai sakit? bagaimana keadaan Dinda." Eric memang bicara pada Rian tapi pandangannya tidak lepas dari Dinda yang duduk menyamping di atas tempat tidur.


"Diam kau!!"bentak Eric membuat Dinda menoleh menatap Eric.


"Sudah batalkan saja aku masih butuh istirahat, bye assalamualaikum." Eric langsung memutus panggilannya.


Eric menyimpan kembali ponselnya.


*****


Like, coment and vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2