
Setelah pulang kantor Dinda mampir dulu ke toko roti, dia ingin mengundurkan diri dari sana. Dinda tidak bisa bekerja di toko roti lagi karena, dia sudah magang, ditambah dia akan sibuk dengan kuliahnya nanti.
"Assalammualaikum." ucapnya setelah membuka pintu masuk toko.
"wa'alaikumsalam, Din, kok baru datang sihh?" tanya Risa yang baru melihat Dinda setelah satu pekan terakhir.
"Aku lagi magang Ris, jadi nggak masuk. Ngomong-ngomong Bu Suzan-nya ada?"
"Ada tuh di ruangannya." tunjuk Risa dengan mengarahkan matanya ke ruangan Bu Suzan.
"Ok, aku ke sana dulu yah."
"Iyya.." Risa kembali melanjutkan pekerjaannya tadi.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam.."
"Dinda? sini masuk." panggil Bu Suzan.
"Bu Suzan apa kabar?"
"Baik. Kamu kamu sendiri?" tanya Bu Suzan balik.
"Baik Bu, tapi sekarang Dinda sibuk Bu' kerja di kantor."
"Wah, kamu udah mulai magang?" tanya Bu Suzan antusias.
"Iyya Bu."
"Pantas di kampus kamu jarang kelihatan, rupanya udah magang tohh.."
"Iyya Bu," ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. "Saya juga mau ngundurin diri dulu karena Dinda nggak bisa kalau kerja di sini lalu magang juga."
"Iyya, saya bisa ngerti kok. Kamu nggak usah mengundurkan diri dari sini, kamu bebas kapan saja bisa masuk ke sini kerja."
"Makasih banyak Bu'" ucap Dinda.
"Iyya sama-sama, kamu udah ibu anggap anak sendiri."
"Sekali lagi terima kasih banyak Bu. Dinda pamit dulu kalau begitu."
"Iyya, hati-hati."
Dinda pulang dengan hati yang lega. Dia tiba di rumah saat jam 17:44, sebentar lagi waktu sholat Maghrib akan tiba.
Saat sampai di rumah, Dinda sudah tidak melihat Bi Sum dan Mang Diman, itu tandanya mereka sudah pulang. Sedangkan Eric sudah datang, Dinda melihat mobilnya sudah ada di depan.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Dinda masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, dia masih belum terbiasa masuk di kamar Eric tanpa mengetuk pintu dahulu.
Mengingat Eric masih belum menerimanya, jadi dia tidak ingin lancang menerobos masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.
*****
"Kak.." panggil Juna dari luar kamar kakaknya.
"Iyya, masuk ajaaa.." teriak Naura dari dalam.
"Kak, pinjam laptopnya bentar dong, laptopku ada di kantor." tadi pagi, saat Juna ke kantor papanya untuk menyelesaikan laporan akhirnya di sana.
"Tuh sana, ambil aja." tunjuk Naura ke arah meja belajarnya."
Naura sedang rebahan sambil saling mengirim pesan dengan kekasihnya, Leo.
"Oke, makasihh." Juna keluar kamar menuju kamarnya.
Di kamar minimalis modern milik Juna, dia tengah mengerjakan surat lamaran kerjanya pada perusahaan yang dia tuju.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakan suratnya, Juna iseng-iseng membuka folder-folder yang berisi foto kakaknya.
"Di sini banyak sekali foto masa kecil kakak." ucap Juna saat melihat masa SD kakaknya.
Selesai membuka folder foto masa kecil kakaknya, jarinya mengarahkan kursor pada folder paling ujung. Saat melihat foto kakaknya dengan seorang pria yang lumayan mesra, matanya tanpa henti memperhatikan wajah pria yang pipinya di kecup oleh kakaknya.
"Dia pasti mantannya kakak. Tapi, kenapa wajahnya tidak asing, aku seperti pernah melihat dia sebelumnya." Juna meng-zoom wajah pria itu sambil terus memperhatikannya.
Jarinya memindahkan slide demi slide foto kakaknya dengan pria itu, ada beberapa foto dimana mereka berciuman, tampak begitu mesra.
Setelah melihat semua foto yang di lihat, dia mengembalikan laptop Naura ke kamarnya.
"Kak, ini laptopnya terima kasih." juna keluar kamar kakaknya lalu kembali ke kamarnya memikirkan pria di laptop kakaknya.
" Ck, kepalaku sakit mengingat wajahnya, dimana aku melihatnya."
Juna rupanya masih belum mengingat jelas wajah pria yang selalu memarahinya di pesawat karena, selalu mencuri pandang pada gadis di sampingnya.
Ya, foto pria yang bersama Naura itu adalah Eric, mantan kekasih kakaknya yang dia tidak pernah bertemu sekali saja.
****
Setelah selesai makan malam, Dinda masih belum ke kamar.
Entah mengapa dia begitu gugup, mungkin karena perkataan Eric di kantor yang ingin melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Jam sudah menunjukkan pukul 22:37 tapi Dinda masih betah duduk di kursi bar mini depan dapur.
"Atau aku tidur di kamar lamaku saja? disana masih ada bantal juga kok." Dinda baru turun dari kursi dan hendak pergi ke arah kamar lamanya. Tapi, suara Eric menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana?" suara bariton Eric menggelegar di telinga Dinda.
__ADS_1
"Dinda mau ke kamar." Dinda menunjuk kamar samping dapur.
"Untuk apa ke sana?" tanya Eric sambil mendekati Dinda.
"Emh, D-dinda mau ambil sesuatu Mas." alasan Dinda yang terdengar tidak masuk akal di pendengaran Eric.
"Tapi dikamar itu sudah tidak ada barangmu, semuanya sudah dipindahkan ke kamarku. Jadi, jangan memberikan alasan yang tidak masuk akal!" Eric sekarang mengurung Dinda ke arah dinding.
"Maaf.." ucap Dinda.
"Kembali ke kamar cepat!" perintah Eric setelah membuka kurungannya pada Dinda.
"Iyya Mas." Dinda seperti anak kecil yang ketahuan keluar main tanpa sepengetahuan mamanya.
Dinda melangkah pelan menuju kamar, sangking lambatnya Eric harus menarik tangannya agar Dinda berjalan dengan cepat.
"Jangan lambat jalannya."
"Iyya ini udah cepat Mas."
Eric menarik Dinda lalu menghempaskannya ke kasur.
Dinda langsung tidur terlentang di atas kasur, melihat Dinda terlentang Eric mengurungnya lagi. Tapi, kali ini posisi mereka sangat in*im membuat Dinda tidak nyaman.
"Mas..." Dinda mencoba mendorong dada Eric dari atasnya tapi, itu semua sia-sia. Tenaga Eric bagaikan kuda jantan yang sangat kuat.
"Kenapa, kau mencoba melupakan perjanjian tadi di kantor? hmm." ucap Eric sambil terus menatap mata Dinda yang terlihat ketakutan.
"Mas.., Dinda mau ke kamar mandi dulu."
"Tidak usah!" Dinda tampak mengalihkan pandangannya ke samping agar tidak bertatapan dengan Eric.
"Jangan melihat yang lain, tatap ke arahku." Eric menyentuh wajah putih mulus itu lalu mengelus pipi berisi.
"Jangan takut, aku tidak ingin melukaimu." ucap Eric menenangkan Dinda.
"Kau harus terbiasa dengan ini, karena kau itu seorang istri." Eric masih setia mengelus pipi Dinda.
"Tapi, Dinda takut Mas."
"Takut kenapa?"
"Dinda takut mencintai Mas lebih dalam tapi, pada akhirnya Mas tidak bisa mencintai Dinda." balas Dinda dalam hati dengan sendu.
Eric benar-benar melanjutkan aktivitasnya saat di kantor tadi, tapi dia hanya mengakses bi*ir Dinda yang sangat candu baginya.
"Hmmp.." Dinda memukul-mukul dada Eric karena hampir kehabisan nafas.
"Maaf.." ucapnya sambil mengelap bekas air liurnya pada bi*ir Dinda yang membengkak.
*****
__ADS_1
Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️