Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Mengurus Dinda.


__ADS_3

Dengan emosi yang full Eric langsung menarik pria yang menyentuh Dinda, lalu menghempaskannya ke lantai. Melihat pria itu sudah terjatuh di lantai Eric memukulnya tanpa ampun.


Pria itu sempat memberikan perlawanan tapi apa daya tenaga Eric jauh di atasnya, emosi Eric yang sudah membara menambah tenaga Eric semakin berkali lipat.


Pria yang memegang kamera berniat kabur meninggalkan temannya tapi, dengan sigap Rian menutup pintu. Kamera yang semula ada di tangan pria itu sudah berpindah tempat ke tangan Rian karena, pria itu sudah di berikan bogem mentah di rahangnya.


"Rian, panggil seseorang mengamankan mereka, besok akan aku urus mereka!" perintah Eric setelah kedua pria itu sudah tersungkur di lantai.


"Tenang saja aku sudah menelfon beberapa ajudan."


Lima menit kemudian, sekitar lima ajudan telah berada di depan pintu.


"Bawa mereka berdua!" para pria bertubuh kekar itu sudah menyeret tubuh lemah pria yang sudah babak belur oleh Rian dan Eric.


Setelah pria itu dibawa, Rian juga keluar kamar. Dia tahu Eric pasti ingin berdua dulu dengan istrinya karena, keadaan Dinda yang benar-benar tidak sadarkan diri.


"Hei Dinda.." panggil Eric dengan lembut disertai wajah yang sangat khawatir.


Tangannya melihat punggung Dinda yang hampir terlihat sepenuhnya.


"Bagaimana jika aku terlambat tadi?" ucap Eric.


"Emh, panas.." sepertinya obat per*ngs*ng yang dimasukkan Lucy baru bekerja, walaupun dia hanya memasukkan sedikit tapi, pengaruhnya sangat besar bagi Dinda yang juga kepanasan.


"Heii bagun!" Eric bingung, suhu AC-nya tinggi tapi, kenapa Dinda masih mengeluh panas?


Dinda mengerjapkan matanya dan melihat sang suami di depannya.


"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Eric saat melihat wajah Dinda seperti menginginkan sesuatu.


"Ini Mas Eric?" tanya Dinda tak percaya.


"Iyya ini aku." ucapnya sambil mengelus pipi mulus itu.


"Mas.., hiks..hiks..." Dinda memeluk Eric sambil menangis.


"Kenapa ada yang sakit? hmm?" Eric mengelus punggung halus yang resletingnya sudah terbuka.


"Mas..hiks.., panas!" mata Dinda juga sudah sangat berat tapi hawa panas tubuhnya jugaa sangat tinggi.


"Tapi AC-nya sudah Mas tinggikan tadi."


"Enggak! ini badan Dinda masih panas Mas."


"Badanmu juga tidak panas." Eric mengecek suhu tubuh Dinda yang masih normal.


"Hiks.., Mas Dinda nggak bohong, badan Dinda sangat panas." mata Dinda sudah hampir sembab karena, menangis dari tadi.

__ADS_1


Dinda sudah tidak bisa menahan panas di dalam tubuhnya hingga, tanpa sadar dia hampir membuka bagian atas gaunnya.


Untung saja Eric menahan tangan Dinda jika, tidak sudah dipastikan Eric melihat sebagian aset gadis yang berstatus Istrinya itu.


"Dinda! kenapa kau membuka gaunmu?"


"Hiks..hiks, karena Mas Eric tidak mau menolong Dinda,"


"Ini sangat panas Mas." sambung Dinda dengan berderai air mata.


"Kau habis minum apa sampai sempai bisa seperti ini?"


"Mhh, kak Lucy kasi Dinda jus hikss.., cuman itu Mas hiks..."


"Garak geriknya seperti habis minum obat per*ngs*ng." ucap Eric curiga.


"Sudah, jangan menangis?"


"Hiks.., badan Dinda sangat panas Mas, hiks.., bantu Dinda."


Melihat Dinda yang sudah sangat tidak berdaya, Eric menariknya dalam pelukan lalu mulai menggendongnya ala bridal style ke dalam kamar mandi.


"Hiks.., kenapa ke sini Mas?"


Eric hanya diam sambil menurunkan Dinda di bawah shower lalu menyalakannya. Dinda kaget karena tanpa aba-aba Eric langsung menyalakan showernya.


Akibat Dinda yang tidak mau diam, baju Eric ikut basah karenanya.


"Diam! katanya badanmu panaskan? sekarang mandi!" Eric membentak berhasil membuat Dinda diam membisu.


Dinda merasa tubuhnya sedikit membaik, badannya sudah tidak merasakan hawa panas seperti sebelumnya.


"Apa masih panas?" tanya Eric.


"Ss-sudah mendingan Mas." badannya gemetar sangking dinginnya.


Eric mematikan shower, setelah itu mengambil handuk di dekatnya lalu menyelimuti Dinda.


"Lihat aku!" Eric menarik dagu Dinda keatas agar menatapnya.


"Aku keluar sebentar untuk mengambil baju, setelah aku kembali ke sini, kau sudah melepas gaun mu ini. Lalu, pakai handuk ini. Mengerti?!" ucap Eric dengan tegas.


Dinda hanya bisa mengangguk mendengar Eric.


Eric melangkah keluar, lalu ke toko pakaian branded samping hotel yang ditempatinya.


Gaun tidur berwarna hitam yang dipilih Eric untuk Dinda, dia juga tidak lupa membelikan Dinda pakaian da*am wanita dengan hanya mengira-ngira ukuran Dinda.

__ADS_1


Tidak lupa dia juga membeli pakaian untuk dirinya sendiri.


Saat perjalanan pulang Eric, menghubungi Rian untuk mengatakan pada sahabat Dinda jika, Dinda sudah pulang ke rumahnya karena ada masalah.


Eric masuk ke dalam kamar mandi dan sudah menemukan Dinda duduk di dekat bathtub dengan handuk minim yang membaluti tubuhnya. Eric hanya bisa menelan salivanya melihat Dinda.


"Ini pakaiannya, pakai cepat lalu panggil aku untuk membawamu keluar kamar!" ucap Eric. "Iyya.." jawab Dinda.


Eric hanya takut melihat Dinda keluar kamar mandi dengan keadaan yang seperti setengah sadar itu.


"Mas.." Eric yang memang berdiri di dekat pintu kamar mandi dengan pakaiannya yang sudah diganti, langsung masuk saat mendengar teriakan Dinda.


Dinda sudah siap dengan gaun tidurnya yang sangat cocok ketika dipakainya. Tanpa aba-aba Eric langsung menggendongnya ala bridal ke kasur empuk itu.


"Mas, kita nggak pulang yah." tanya Dinda sedikit lagi akan tertidur.


"Nggak usah, besok hari Minggu juga jadi, kita di sini saja bermalamnya." ucap Eric sambil mengeringkan rambut Dinda yang panjang walaupun sang empunya sudah berbaring menghadap ke Eric sambil memeluk pahanya.


Sudah tidak ada jawaban lagi, Eric yakin Dinda sudah tidur lagi.


"Sepertinya obat yang diminumnya bukan hanya satu." ucap Eric.


Eric meraih ponselnya lalu menelfon Rian untuk menyelidiki masalah ini, dia tidak terima Dinda hampir di lecehkan.


Ketika melihat pria tadi hampir melihat sepenuhnya punggung Dinda, Eric benar-benar sangat emosi. Dia saja tidak pernah menyentuh istrinya seperti itu, tentu saja dia tidak terima.


"Jika aku mengingat wajah pria tadi yang menatapmu dengan lapar, rasanya aku ingin membunuhnya detik ini!" ucap Eric menekankan setiap kata yang di ucapkan.


"Mas..,hhh."


"Dinda sepertinya bermimpi buruk." ucap Eric.


"Kenapa?"


"Hiks.., jangan, Mas..!" Dinda yang tengah bermimpi Eric dalam keadaan bahaya membuat keringatnya keluar bercucuran.


"Hei, aku di sini, tidak ke mana-mana."


"Mas.." Dinda menggelengkan kepalanya.


Eric berbaring di samping Dinda lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Iyya, aku disini tidak akan kemana-mana." Eric mengelus kepala dan punggung Dinda dengan lembut sambil, sekali-kali mengecup kening istrinya.


Malam ini mereka lalui dengan pelukan hangat di bawah selimut. Eric merasa sangat nyaman memeluk Dinda seperti ini, rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukannya pada Dinda.


*****

__ADS_1


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️


__ADS_2