Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Sebagai Teman.


__ADS_3

"Jika kau punya masalah atau ada yang ingin kau ceritakan kau bisa berbagi denganku." Dinda sangat dibuat bingung dengan sifat Eric yang langsung berubah drastis.


"Bisa Dinda bertanya?"


"Apa?"


"Kenapa Tuan tiba-tiba baik sama Dinda?" sifat Eric yang sering berubah-ubah kadang membuat Dinda bingung.


"Soal kemarin, itu hanya salah paham, maaf telah menyakitimu." kata yang sangat asing di telinga Dinda, akhirnya terlontar dari mulut Eric. Eric juga sudah mulai belajar mengalah dengan egonya yang tinggi.


"Tidak apa-apa Mas." Dinda tersenyum ke arah Eric.


"Bisakah kita memulai hubungan ini kembali dengan lebih baik?" tanya Eric yang duduk menghadap ke arah Dinda.


"Iyya Mas." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Sebagai teman." bisa dilihat dengan jelas raut wajah Dinda berubah saat Eric hanya ingin memulai hubungan sebagai teman.


"Dinda ingat hanya sebagai teman, jangan pernah berharap lebih pada sesuatu yang tidak mungkin." Dinda kembali menyadarkan dirinya yang hampir melayang karena ucapan Eric ingin memulai hubungan.


"Iyya Mas."


Eric menjulurkan tangannya sebagai tanda pertemanan mereka, Dinda tanpa segan menerima tangan itu dengan senang hati.


"Jadi kita sekarang berteman?" tanya Eric yang menampilkan wajah senangnya.


"Iyya." Dinda tersenyum tapi, dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karena terharu mereka memulai hubungan ini dengan lebih baik, tapi karena Eric yang hanya ingin berteman bukan sebagai Suami-istri.


Terkadang Dinda berpikir jika dirinya sangat egois, kerena menginginkan hubungan yang lebih dari pertemanan. Tapi, menurutnya, berteman saja sudah lebih dari cukup.


Saat awal Dinda masuk ke keluarga ini, Eric juga sudah mengatakan kalau pernikahan ini tidak akan bertahan lama, jadi Dinda akan menerima semua keputusan Eric nantinya, walaupun sebenarnya sangat sakit jika dia akan bercerai dengan pria yang sudah mengisi hatinya sejak awal bertemu.


Dinda menarik tangannya melepaskan genggaman tangan Eric.


Eric bisa merasakan tangan Dinda tidak selembut tangan perempuan yang pernah bersalaman dengannya, ia baru sadar jika Dinda gadis yang pekerja keras.


"Bisa aku bertanya?" ucap Eric agak canggung dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


"Apa Mas?"


"Juna itu siapa?"


"Yang Dinda tahu, dia itu senior Dinda di kampus, Dinda juga baru bertemu dengannya saat di kampus."


"Oh.."


Keduanya berbincang-bincang di tengah derasnya hujan di luar, sampai tak terasa malam sudah tiba.


Dinda sudah berjalan menuju sofa tempat dia tidur kemarin.


"Hei, kau mau apa di situ?" tanya Eric menghentikan aktivitas Dinda yang hendak berbaring.


"Emh, Dinda udah mengantuk Mas." memang ini sudah sangat larut bagi Dinda. Sebelum tidur tadi Dinda ditahan sama Bu Hasna karena, mertuanya itu meminta Dinda memijit kepalanya lagi. Dinda baru selesai memijit Bu Hasna setelah mertuanya itu benar-benar sudah tidur.


"Ngapain di situ, sini saja." Eric menarik Dinda yang duduk lagi sambil mengerjapkan matanya untuk ke tempat tidur, Eric tersenyum melihat Dinda yang begitu menggemaskan kalau sudah seperti itu.


Dinda duduk dengan malas di atas tempat tidur.


"Lagian tempat tidurnya sangat muat untuk kita, bahkan jika ada tambahan di tengah kita juga masih sangat muat." ucap Eric menggoda Dinda, membuat pipi berisi Dinda langsung bersemu merah.


"Hei, apa pipimu baik-baik saja, kenapa bisa berubah warna." Eric mentoel-toel bahu Dinda sambil terus menggodanya.


Eric sangat suka melihat pipi Dinda yang berubah warna seperti itu, dia sepertinya akan selalu mengganggu Dinda hanya untuk melihat warna merah pipi alami Dinda.


"Kenapa dengan pipimu? kau mau aku mengelusnya agar tidak memerah?" Eric tak henti-hentinya menggoda Dinda yang sudah menutup seluruh badannya dengan selimut tebal.


"Ihh Mas, udah tidur jangan ganggu Dinda." Dinda berbalik lalu mendorong tubuh Eric menjauh dari tubuhnya. Tapi, dia malah tidak sengaja sikunya mengenai hidung Eric.


"Aghh.." Eric mengerang sambil menyentuh hidung mancungnya yang sudah memerah akibat senggolan siku Dinda.


"Astagfirullah. Maaf Mas." Dinda keluar dari selimutnya saat mendengar suara erengan Eric. Dinda memaksa Eric menyingkirkan telapak tangannya dari hidungnya.


"Mas, hidungmu tidak apa-apa?" Eric Hannya mengangguk menanggapi Dinda.


"Lepaskan dulu Dinda mau lihat." Dinda menarik paksa tangan Eric sampai hidung Eric sudah terlihat oleh Dinda.

__ADS_1


"Mas, hidungmu merah." ucapnya sambil mengelus hidung Eric.


"Sepertinya hidungku patah tulang." Eric masih sempat-sempatnya bercanda di saat hidungnya masih sakit.


"Ihh, Mas jangan bicara yang tidak-tidak yah, ini tidak patah, hanya merah saja."


Eric menyukai posisi Dinda sekarang yang duduk di sampingnya sambil mencondongkan badannya ke arah Eric.


"Tapi sangat ini perih." ucapnya manja. Eric tipikal orang yang hanya bisa bernada manja pada orang dekatnya. Tapi, sekarang dia malah seperti mengadu kesakitan pada Dinda.


"Maaf, Mas yang main-main terus kan jadinya seperti ini." omel Dinda.


"Ya sudah kalau begitu, kai elus hidungku saja sampai aku tertidur." pinta Eric.


"Hhh, baiklah." Dinda bergerak memperbaiki posisinya agar nyaman, dia duduk di samping Eric lalu tangannya terulur mengelus pangkal hidung Eric.


"Kau berbaring jugalah di sampingku, sambil terus mengelusnya."


Dinda hanya menurut apa yang dikatakan Eric, walau posisinya sangat tidak nyaman jika seperti itu.


Ini pertama kalinya Dinda tidur begitu dekat dengan laki-laki, ini sangat terasa canggung baginya, walau sebenarnya Eric suaminya.


Dinda menyampingkan badannya menghadap ke Eric sambil terus mengelus pangkal hidung Eric. Dinda sudah sangat mengantuk, tapi dia juga harus terus menjalankan tugasnya.


"Aku belum tidur!" ucap Eric mengejutkan Dinda yang sudah memejamkan matanya.


"Iyya ini di elus lagi kok." suara Dinda sudah sangat berat di telinga Eric, tandanya Dinda sudah sangat mengantuk.


Lama kelamaan, Dinda sudah tidak bisa berkompromi dengan matanya, dia sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya, hingga akhirnya Dinda tertidur dengan tangannya sudah menempel di wajah Eric.


Perlahan Eric membuka matanya, dia masih belum bisa tidur akibat hidupnya yang masih terasa nyeri. Eric mengambil tangan Dinda, lalu di pipinya, dia merasakan kehangatan yang tidak pernah diberikan oleh perempuan lain.


Eric saat berpacaran dengan Naura saja, sudah paling ekstrim jika berpelukan, karena Eric yang tidak terlalu berminat menyentuh lebih dari itu. Tapi beda halnya dengan Dinda, dia malah sangat suka dengan sentuhan Dinda, bahkan dia dengan karang ajarnya mencium bibir Dinda saat tertidur.


Eric menyampingkan badannya menghadap ke Dinda, dilihatnya Dinda yang sangat pulas, ia mendekatkan wajahnya lalu memeluk Dinda sambil mencium keningnya. Eric tidak tahu kenapa dia baru berani menyentuh Dinda seperti ini jika sudah tertidur.


*****

__ADS_1


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️


__ADS_2