Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Bergabung di Pratama Group.


__ADS_3

"Diamlah, jangan bergerak. Biarkan seperti ini sebentar." Dinda hanya menurut apa yang dilakukan Eric.


Eric memeluk Dinda dengan erat sambil menghirup aroma tubuh alami Dinda dari belakang.


"Mas?" panggil Dinda, karena Eric hanya diam.


"Ehmm..."


Dinda mencoba melepas tangan Eric dari perutnya, tapi apalah daya tangan Eric bagaikan batu beton bagi Dinda yang kecil.


Eric mengambil tangan Dinda yang mencoba melepas pelukannya, lalu ia peluk juga agar tidak banyak bergerak.


"Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku agar bisa menerima dan mencintaimu, maka berikan aku waktu." lagi-lagi air mata Dinda mengalir mendengar ucapan Eric, hingga terasa basah di lengannya.


"Mas, jika tidak bisa jangan dipaksakan." Dinda tahu Eric tengah berusaha menerima kehadirannya, terbukti dia sudah meminta Dinda tinggal satu kamar dan menunjukkan sikap yang manis beberapa hari yang lalu. Tapi, Dinda tahu kalau Eric masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini.


"Aku akan mencobanya!" Eric melonggarkan pelukannya lalu, membalikkan badan Dinda menghadapnya.


"Kalau tidak bisa?" Eric terdiam.


"Apa kita akan bercerai?"


Tidak, bukan perceraianan yang di inginkan Eric, dia tidak akan mau berpisah. Tapi, dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.


"Mas terdiam. Berarti yang dikatakan Dinda benar, kita akan bercerai jika Mas tidak bisa mencintaiku." Eric masih diam, otaknya berusaha mencerna kata yang tidak pernah terlintas di benaknya.


Dinda duduk menyingkirkan tangan Eric dari bantalnya lalu, dia tidur membelakangi Eric kembali.


Bisakah Eric mengatakan dirinya bodoh? badannya terasa kaku bahkan mulutnya ikut kaku, mendengar kata "cerai" dari Dinda.


Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing hingga terlelap.


Pagi harinya, Dinda memasak lalu pergi ke kampus, tanpa berpamitan dengan Eric.


"Dia sudah ke pergi rupanya." ucapnya ketika melihat makanan sudah siap di atas meja tapi, Dinda tidak ada di dapur.


*****


"Mama mau ke mall nggak hari ini?" ucap Naura menghampiri Mamanya di gazebo samping kolam renang.


"Emang kamu punya duit, ajak Mama pergi shopping? kamu kan udah nggak sama Eric!" ucap mamanya judes.


Flashback on.


Tok..tok..tok..


Naura mengetuk pintu


"Iyya tunggu!"

__ADS_1


"Ma!" Naura menubruk tubuh Mama, ia memeluk Mamanya dengan sangat erat melampiaskan rasa rindunya.


Mamanya pun sama, walaupun dia masih kesal dan marah dengan Putrinya tapi, dia juga sangat merindukan Putrinya.


"Ma, Naura kangen."


Mamanya mendorong tubuh Naura, lalu menatapnya dengan intens.


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya mamanya dengan dingin.


"Sudah hampir sebulan Ma."


"Oh, kamukan udah lupa sama orang tua mu, jadi mana ingat pulang ke rumah." ucap Mamanya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


"Nggak Ma, mana mungkin, aku cuman takut Mama sama Papa masih marah sama Naura."


Mamanya masuk ke dalam rumah lalu di susul Naura setelah menutup pintu.


"Ma, Naura tinggal di sini yah, Leo kembali ke LA."


"Dia ninggalin kamu?"


"Nggak Ma, dia ngurus beberapa berkas buat pindah sementara di sini."


"Oh, sudah sana ke kamar kamu!" usir Mamanya, Naura tersenyum itu tandanya mama sudah mengizinkannya tinggal di rumah lagi.


Flashback off.


"Hah paling cuman buat makan, lalu pulang. Kamu itu udah nggak bisa belanja kayak dulu, karena sekarang kamu udah nggak sama Eric."


"Ma, selama di LA, Leo selalu memenuhi kebutuhan Naura kok, dia juga kaya, walaupun tidak sebanding dengan Eric." ucap Naura membela kekasihnya, karena Mamanya baru saja membandingkannya dengan Eric.


"Ma, Kak, Juna ke kampus dulu yah." ucap Juan setelah selesai sarapan.


Kakak perempuan Juna yang sangat dimanjakan dengan Mamanya itu adalah Naura. Mereka selalu berkomunikasi walaupun orangtuanya marah dengan kakaknya, sampai-sampai Naura pergi dari rumah.


"Iyya hati-hati!"


Setelah kepergian Juna, Naura pun meninggalkan mamanya, lalu masuk ke dalam kamar.


*****


"Udah siap?" tanya Sima yang sudah naik bersama Dinda di atas sepeda motor.


"Udah!"


"Oke, bismillah diterima." ucap Sima dengan semangat.


"Amiin."

__ADS_1


Jarak kampus dengan kantor yang mereka tuju memang tidak terlalu jauh, sehingga mereka tidak akan buru-buru saat berkendara.


"Din, tangan aku dingin banget." Sima dan Dinda sudah duduk di kursi tunggu, untuk menunggu gilirannya tiba.


"Adinda Fadillah, silahkan masuk." seorang karyawan sudah memanggil Dinda untuk masuk ke ruang tes wawancara.


"Aku duluan yah." pamit Dinda.


"Iyya semangat!" Sima mengangkat kedua jempolnya di depan Dinda sebagai tanda penyemangat.


Sebelum masuk Dinda menarik nafas lalu menghembuskannya, tak lupa mengucapkan bismillah sebelum masuk.


Di lain tempat Eric memandangi Dinda dari layar CCTV ruang wawancara, sambil tersenyum melihat penampilan Dinda yang terlihat dewasa.


Ting..


"Dinda udah masuk ruang wawancara." mengetahui Dinda sudah masuk, Rian segera memberitahu pada Eric.


"Iyya gua udah liat." balas Eric setelah membuka pesan Rian.


Tes wawancara Dinda dan Sima berjalan lancar. Tak lama kemudian, seorang karyawan yang bertugas memberikan pengumuman menyebutkan nama-nama mahasiswa yang lolos magang di Pratama Group.


"Saya akan membacakan nama-nama mahasiswa yang lolos untuk tahap ini."


"Yang lolos adalah, Lucy Aprilia, Winda, Naufal Azhar, Rezky Abdillah, Sima Septriasa..." nama Sima sudah di sebutkan, tapi nama Dinda tak kunjung di sebut.


"Yang terakhir, Adinda Fadillah." Dinda membulatkan matanya mendengar namanya di sebut, dia sempat berpikir dirinya tidak lolos di perusahaan ini.


"Alhamdulillah Sim, kita lolos." Dinda dan Sima berpelukan mendengar kabar bahagia ini.


"Semuanya, silahkan ke ruangan yang ada tertera pada pada kertas yang akan dibagikan."


Dinda dan Sima ditempatkan di bagian keuangan tepatnya di lantai 6. Semuanya sudah di atur dengan baik oleh Eric, dia sengaja menempatkan Dinda di lantai yang sama dengannya, agar semakin leluasa memperhatikan Dinda.


Eric juga tahu kalau Sima adalah teman baiknya, jadi dia menempatkan di tempat yang sama dengan Dinda, agar Dinda tidak kesepian nantinya.


"Kalian berdua, meja kalian di sudut ruangan." ucap salah satu karyawan bertubuh seksi dengan rok spam sekutunya.


Dia tadi melihat Dinda dan Sima masuk ke ruangan, melihat ada karyawan baru, pandangan tidak suka langsung dilayangkan pada Dinda dan Sima.


"Tapi kak, tadi kami di suruh duduk di sini." ucap Dinda menunjuk meja dekat dengan meja karyawan itu.


"Nggak jadi, kalau karyawan baru duduknya di belakang!" ucapnya tidak terima dua orang itu duduk di dekatnya.


"Tapi kak, memang di sini tempat yang ditunjukkan pada kami tadi." sekarang Sima yang angkat bicara.


"Ehh, kalian ini belum beberapa jam di kantor ini, tapi udah bisa membantah." ucapnya mendekati Dinda dan Sima.


"Udah Sim, kita duduk di sana saja, dari pada ribut nanti." Dinda menarik Sima untuk menenangkannya, karena wajah Sima sudah memerah menahan marah.

__ADS_1


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️


__ADS_2