
Melihat Dinda yang tergeletak di lantai dengan darah yang menetes membasahi dahinya, Eric malah meninggalkan Dinda di kamarnya.
"Bi Sum, urus perempuan itu di dalam." perintah Eric lalu berlalu dari hadapan Bi Sum.
"Astagfirullah Non, kenapa bisa berdarah?"Bi Sum sangat kaget melihat keadaan Dinda yang tergeletak di lantai ditambah darah di dahinya semakin banyak yang keluar.
Bi Sum dengan sekuat tenaga memindahkan Dinda ke atas kasur kecil di sampingnya, kasur yang digunakan bukan kasur yang tinggi, tapi kasur lantai yang hanya setebal empat jari saja.
Setelah memindahkan dan mengobati luka di dahi Dinda, Bi Sum keluar sebentar untuk membuatkan Dinda bubur.
Saat Dinda membuka matanya, dia menatap langit-langit kamar yang dia tempati. Pikirannya mulai melayang dengan kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya pingsan, mengingat kekasaran Eric ingin membuatnya pergi dari rumah ini.
Tapi dia juga tidak bisa melakukannya, keluarganya di panti akan kecewa nanti, terlebih mertuanya itu sangat menyayanginya, dia tidak tega pergi begitu saja.
Eric merebahkan tubuhnya di kasur king size-nya itu, dia juga memikirkan apa yang dia lakukan pada perempuan itu. Eric juga merasakan jika dia terlalu kasar pada Dinda sampai membuat dahinya berdarah, tapi tidak mungkin juga Eric akan mengatakan maaf, kata itu tidak berlaku di kamus Eric.
Sudah jam 8.3O, Dinda dan Eric sudah selesai packing , walau di tempat berbeda. Dinda sudah selesai packing semalam, dia hanya memasukkan beberapa barang lagi di tasnya.
Tok tok tok...
"Iyya tunggu sebentar."Dinda segera meletakkan sapunya lalu berlari membuka pintu.
"Ehh Mama, Papa. Masuk Ma, Pa."Dinda membuka pintu itu lebar-lebar mempersilahkan mertuanya masuk.
Sejak Dinda membuka pintu tadi ada yang menjanggal di pandangan Mama Eric.
"Nak, dahi kamu kenapa? kenapa bisa terluka?"tanya Mama Eric yang khawatir dengan menantunya itu.
"Oh ini, ehh Dinda terpeleset di kamar mandi ma, lalu kepala Dinda tidak sengaja terbentur di dinding."adu Dinda yang berbohong, sedang di atas Eric dapat mendengar interaksi dua perempuan beda generasi itu.
Eric merasa bersalah telah melukai Dinda, harusnya Dinda bisa mengadu tapi Dinda tidak mengadukannya pada Mama.
"Lain kali hati-hati sayang kan jadi luka." sambil membelai rambut Dinda.
"Iyya Ma."
"Oh Iyya kamu udah siapkan? sana sekalian panggil Eric juga kalau udah selesai dianya."
__ADS_1
"Iyya ma." Dinda baru akan melangkah mendekati anak tangga, sudah ada Eric yang berjalan akan ke bawah dengan membawa koper kecilnya.
"Ambil barang mu." bisik Eric ketika melewati Dinda.
Dinda hanya bisa menuruti perintah pria itu.
"Pak , Bu' , minum dulu tehnya."Bi Sum membawa dua cangkir teh hangat dengan kue sebagai cemilannya.
Jam 9.00 mereka baru berangkat, karena perjalanan ke bandara membutuhkan waktu 30-45 menit.
*****
Bandara Soekarno Hatta.
"Kalian hati-hati di sana yahh, Eric jaga istrimu dengan baik jangan sampai di terlepas dari pandangan mu , ok!" nasihat Mama Eric yang hanya di angguki oleh kedua manusia beda jenis itu.
"Kita masuk dulu Ma,Pa." pamit Eric disusul oleh Dinda.
Saat keduanya sudah hampir tidak terlihat , Mamanya spontan memanggil keduanya
"Eric, Dinda!!! jangan lupa pulang bawa kabar baik yahh."Dinda hanya bisa tersenyum kecut sedangkan Eric sangat malu dengan aksi Mamanya tadi, walau tidak akan ada yang berani menertawai mereka, yah biasa keluarga Pratama, keluarga terpandang di kota ini.
*****
Mereka sama-sama terdiam ketika berada di dalam kamar. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan hingga akhirnya salah satu diantaranya memecah keheningan.
"Dengar kamarnya cuman ada satu dan aku tidak mau satu tempat tidur denganmu." Eric melihat Dinda yang masih mematung di depan pintu dengan koper di tangan kirinya.
"Iyya tuan, Dinda tahu kok, Dinda tidak akan tidur di tempat tidur." saat masuk ke dalam kamar tadi Dinda sudah menelusuri dimana dia akan tidur tapi dia tidak menemukan sofa panjang, hanya ada sofa satu badan, ayunan yang menghadap ke pantai langsung, dan tempat tidur ukuran king size.
"Baguslah jika kau tahu." ucap Eric sinis.
Menjelang malam, Dinda mengambil buku yang dia bawa dari Jakarta, dia ingin membaca di balkon hotel yang mengarah langsung ke bibir pantai.
Sedangkan Eric sejak sudah sholat ashar tadi dia keluar entah kemana Dinda pun tidak tahu.
"Kapan Lu kesini?"tanya pria yang tak lain adalah Eric.
__ADS_1
"Apa? Lu nanya kapan gue nyusul Lu ke Bali? setelah semua berkas yang harusnya lu yang selesaiin, malah gua yang nyelesain!"omel pria yang di seberang sana yaitu sahabat Eric, Rian.
"Makanya kalau lu ke sini, gue bisa bantu nyelesain tuh semua berkas to*ol!" bentak Eric.
"Ngapain lu mau kerja berkas di sana, tujuan om Hasan ngirim lu sama bini lu ke sana buat honeymoon bukan buat kerja berkas."Rian benar-benar heran dengan manusia satu ini, biasanya orang akan sengaja meninggalkan pekerjaannya demi honeymoon lah Eric malah mau dibawain pekerjaan ke sana, aneh!.
"Gue sumpek di sini, males gue liat muka tu perempuan." Eric menyandarkan tubuhnya di kursi dengan lesu.
"Lah lu harusnya seneng malam ini, lu bisa buka tuh segel istri lu."
"Segel, segel, ngeliat dia aja gue jijik!" Rian di seberang sana lagi-lagi di buat heran, bagaimana Eric bisa jijik ke istrinya sendiri, ngapain di nikahin kalau jijik.
"Apa lu jijik? lah Dinda nggak kotor dan gue merhatiin mukanya juga nggak jelek, justru dia cantik menurutku."
"Berarti lu, sering merhatiin Dinda yahh??"tanya Eric curiga.
Ada perasaan tidak suka ketika ada seseorang yang memerhatikan apa yang harusnya hanya dia yang menikmatinya.
"Lah katanya tadi jijik, kok malah sewot sihh? eeh ric kalau jijik sama istri mending kasih aja buat gue, gue udah sumpek jomblo terus."canda Rian yang justru membuat Eric sangat marah.
"Si*l, awas lu sampai merhatiin dia terus."sangking marahnya Eric langsung memutuskan sambungan telponnya sepihak tanpa mengucap salam.
"Hah dasar mun*fik. Katanya jijik gue becanda mau ambil istrinya aja udah emosi." ucap Rian di sana.
Hampir dua jam Dinda membaca di balkon tanpa ada gangguan, tiba-tiba bel berbunyi membuat Dinda menghentikan bacaannya.
Saat Dinda buka, ternyata seorang pelayan perempuan yang membawa makanan.
"Permisi nona ,ini makanannya yah, silahkan." perempuan itu membawa makanan yang didorongnya itu ke meja di depan Dinda.
"Terima kasih Mbak."jawab Dinda saat orang itu sudah keluar kamar.
Dinda menutup pintu, baru dua langkah dia meninggalkan pintu, pintunya sudah terbuka lebar menampilkan pria yang selalu memarahinya itu.
*****
Like , coment and vote guyss 🖤❤️
__ADS_1
Hai reader's sorry up nya selalu tengah malam soalnya kalau siang ada jadwal kuliah hehehe.