
"Dari mana saja kau??"
"Tuan." Dinda takut Eric akan bertanya macam-macam, sebelum pergi tadi Eric sudah memperingatkannya untuk langsung pulang setalah dari kampus.
"Kenapa malah bengong, aku bertanya kau dari mana?" Eric sudah melangkah mendekati Dinda di depan pintu.
"I-itu tuan Dinda dari kampus."Dinda hanya bisa menelan salivanya.
"Yakin kau hanya di kampus selama itu?"tanyanya Eric sudah mulai curiga.
"Iiiyyaa tuan, Dinda di kampus kok tadi."
"Tapi sepertinya ada yang aneh."Eric memajukan wajahnya lebih dekat ke Dinda, spontan Dinda memundurkan wajahnya.
"A-apa tuan?"
"Tidak jadi, sudah mandi sana lalu masak cepat aku sudah lapar." Eric tidak jadi menanyakan apa yang di otaknya tadi.
"Tidak jelas banget sih tuan?" ucapnya dalam hati ketika Eric sudah kembali ke posisi semula.
"Bi' sum nggak masak tuan?"
"Itu tugas mu, Bi' Sum hanya akan ke pasar setelah itu tidak ada tugas lagi untuknya, kau sendiri jangan menghindari tugas mu." Eric sudah pergi dari hadapan Dinda.
Dinda juga segera masuk, sebentar lagi akan azan magrib.
Tuut ..tuut...tuut...
Bu Tini menunggu Dinda mengangkat nelponnya, Dinda yang ada didalam kamar mandi tentu saja tidak mendengar ponselnya.
"Hah mungkin Dinda lagi sibuk, nanti sajalah ibu telfon lagi." ucap pak Bahar .
Ina, adik Dinda yang ber-umur delapan tahun di Panti Asuhan sedang sakit, sudah dari kemarin demamnya tidak turun membuat Bu' Tini semakin khawatir. Bu Tini menelfon Dinda untuk memanggilnya besok, tidak mungkin Dinda ke panti sekarang malam-malam. Jika Ina sakit dia sangat malas minum obat, kecuali jika Dinda yang membujuknya dia akan luluh. Dinda memang mudah akrab dengan anak kecil sehingga gampang untuk membujuk mereka minum obat.
"Loh Ibu menelfon tadi ternyata." Dinda baru mengecek ponselnya setelah selesai mandi.
Tuut... tuut... tuut...
"Halo Bu'?"
"Halo, assalamualaikum." salam Bu' Tini.
"Wa'alaikumsalam Bu'." jawab Dinda.
"Kenapa Ibu telfon tadi?"
__ADS_1
"Nggak, Ibu cuman mau bilang kalau Ina sakit."
"Apa?? Ina sakit??sakit apa?? kapan bu'??" sangking kagetnya Dinda menyerang Bu Tini dengan berbagai pertanyaan.
"Dinda kamu nanyanya satu-satu dong, Ibu' jadi pusing buat jawabnya." ucap Bu' Tini bingung.
"Huft.. maaf Bu' Dinda panik tadi, emang Ina sakit apa?" Dinda menghela nafas sebelum bertanya kembali.
"Ina demam sejak kemarin, dia tidak mau minum obat, susah buat ngebujuk Ina."
"Dinda ke sana aja ya Bu' kalau begitu" saran Dinda
"Nggak usah nak, ini udah malam kamu istirahat saja, besok baru ke sini"tolak Bu Tini.
"Tapi Ina nggak akan mau minum obat kalau begitu Bu', jangan sampai sakitnya makin parah kalau nunggu sampai besok."
"Tapi kamu mau pakai apa ke sini? ini sudah malam emang ada angkot di tempat mu?"Tanya Bu Tini.
"Angkot nggak ada Bu', tapi masih ada kendaraan lain kok, Dinda kabarin nanti kalau Dinda mau ke sana."
"Ya sudah, hati-hati yah, kalau nggak bisa datang, nggak usah di paksakan Nak."Bu Tini khawatir dengan Dinda akan ke panti malam-malam.
"Iyya bu', assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Eeh Tuan ada di sana." Dinda baru akan menaiki menaiki tangga, tapi ia sempat menoleh dan menemukan Eric di gazebo samping kolam renang.
"Tuan?" Eric menoleh melihat Dinda yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa ke sini? memang sudah masak?"tanya Eric.
"Belum Tuan." Dinda nyengir sambil geleng-geleng kepala.
"Lalu kenapa kesini?"
"Dinda mau izin tuan bermalam di luar." ucap Dinda takut Eric tidak mengizinkannya.
"Apa? hei mau apa kau keluar malam-malam?mau bertemu siapa kau? jangan bilang kau mau bertemu pacarmu yah?" Eric berdiri dengan memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal bagi Dinda.
"Dinda tidak mungkin punya pacar Tuan." Dinda berpikir jika posisinya di mata Eric, selain seorang ART dia juga perempuan murahan yang mempunyai pacar sementara memiliki suami.
"Apa yang tidak mungkin? kau bisa sajakan merayu pria lain lagi untuk mengincar hartanya." ucapan Eric sungguh sangat menyakiti hati Dinda, seakan-akan Dinda tidak mempunyai harga diri karena selalu merayu pria yang kaya.
"Tuan Dinda mau ke panti asuhan, bukan keluar untuk macam-macam." Dinda masih bisa menahan air matanya yang mengenang di kelopak matanya.
__ADS_1
Sedangkan Eric terdiam membisu mendengar Dinda mengatakan mau ke panti bukan malah seperti tuduhannya yang tidak masuk akal tadi.
"Adik Dinda di panti sakit dari kemarin tuan dia tidak mau minum obat, dia juga menangis ingin bertemu Dinda. Nanti sebelum pergi Dinda akan memasak dulu untuk tuan." jelas Dinda panjang lebar.
"Kau mau naik apa ke sana?" tanya Eric yang masih saja dingin.
"Nanti Dinda pesan ojek saja untuk ke panti."
"Apa? mau naik ojek ke sana? berdua di atas motor dengan laki-laki, mana tempat itu jauh dari sini."Eric membatin tidak setuju.
"Tuan, boleh yah Dinda pergi, besok pagi Dinda akan pulang lagi." izin Dinda lagi.
"Ck, baiklah ayo aku antar saja kau." ucap Eric yang sudah melangkah meninggalkan Dinda sendiri.
"Ehh Tuan, nggak usah Dinda bisa sendiri kok."ucap Dinda sambil berlari mengejar Eric.
Eric tiba-tiba berhenti membuat Dinda yang masih berlari di belakangnya menabrak dirinya.
"Ihh, pake rem dong." ucap Dinda sambil mengusap-usap hidungnya yang terasa nyeri terbentur di punggung kokoh Eric.
"Hhh maaf, Dinda yang salah." Eric menatap Dinda dengan mata tajamnya.
"Maksudnya tadi, tuan tidak usah mengantar Dinda, tempatnya jauh dan tuan pasti banyak pekerjaan, jadi tidak usah."
"Aku yang mengantarmu atau tidak usah pergi." jiwa posesif Eric seketika bangkit mendengar penolakan Dinda. Eric bisa membayangkan Dinda di jalan berduaan dengan tukang ojek laki-laki.
"Tapi jauh Tuan."
"Baiklah tidak usah pergi."ucap Eric yang berbalik akan melanjutkan langkahnya.
"Ehh Tuan, ya sudah Dinda mau." Eric berhenti lalu berbalik.
"Mau apa??"
"Pergi dengan Tuan."jawab Dinda.
"Bersiaplah cepat sebelum aku berubah pikiran lagi." perintah Eric yang langsung diangguki Dinda lalu berlari ke arah kamarnya.
Eric yang melihat itu hanya menarik bibirnya ke atas sedikit. Sementara Dinda dengan cepat mengambil semua perlengkapannya lalu di masukkan ke dalam tas ranselnya.
Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit bagi Dinda untuk bersiap-siap, Dinda hanya menggunakan celana kulot dengan kaos oblong oversize membuat Eric yang melihatnya dari ruang tengah tersenyum lalu berbalik memunggungi Dinda.
"Tuan Dinda sudah siap."
*****
__ADS_1
Like, coment and vote guyss. 🖤❤️