
Eric keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya, memperlihatkan setengah badannya yang atletis. Dinda menatap ke arah pintu yang terbuka itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Melihat Dinda mengalihkan wajahnya berhasil membuat Eric menarik singkat senyumnya, setelah memakai beberapa macam perawatan tubuh khusus pria, Eric masuk ke dalam clothes room untuk memakai pakaiannya.
"Ayo keluar." Eric mengambil ponselnya terlebih dahulu yang dia cas di dekat tempat tidurnya sebelum keluar.
Dinda hanya mengikut di belakang Eric. Saat sampai dibawah Rian langsung tersenyum melihat kedua manusia berbeda jenis itu, entah apa yang membuatnya tersenyum.
"Udah mulai suka yah sama dia?" Rian bertanya sambil menaik-naikkan alisnya.
"Diam kau! aku sama sekali tidak menyukainya." balas Eric setelah duduk dihadapan Rian.
"Ini orang gengsinya kebangetan banget dah, giliran Dinda dipuji atau diliatin malah sewot." ucap Rian dalam hati dengan menatap bingung sahabatnya sendiri.
"Ya ya ya, terserah anda sajalah."
"Mau apa lagi kau datang ke sini, kau selalu mengambil waktu santai saja." Eric menyalakan TV sambil mengomeli Rian.
"Ehh, jika tidak penting aku juga tidak perlu datang jauh-jauh dari rumahku yah." balas Rian tak kalah sewot.
"Memang apa lagi? bukannya sudah dikerjakan kemarin, kita bahkan sampai lembur gara-gara berkas proyek itu." Eric bertanya, soalnya beberapa hari yang lalu dia dan Rian lembur mengerjakan berkas-berkas proyek.
"Ehh, Tuan angkuh, lu ngerjain berkas tanpa ngisi tanda tangan, besok mau di presentasikan ini." Rian melempar bantal sofa di belakangnya ke arah Eric sangking kesalnya. Sudah datang jauh-jauh, pas sampai dia malah di marahi.
"Santai aja dong lu, gua cuman nanya juga. Lagian yah berani banget lu lempar gua di rumah gua sendiri." Eric melempar kembali bantal sofa itu tak kalah kencang.
Pemandangan dua orang yang sedang bertengkar itu disaksikan secara live oleh Dinda di dapur.
Dinda sedang membuat teh hangat menatap dua sahabat itu dengan menganga. Dia tidak menyangka dua orang yang berbadan atletis itu bertengkar sambil melempar bantal sofa, layaknya seorang anak kecil jika bertengkar.
"Udah, lu itu dari kecil nggak pernah ngalah kalau berantem sama gua, sadar woi gua ini lebih tua, hargain dikit dong yang lebih tua." Rian mengalah terlebih dulu, karena tidak ada yang mengalah salah satunya, pertengkaran itu tidak terdeteksi kapan akan selesainya.
"Cuman beda lima bulan, nggak perlu di hargai." Eric juga sudah mengalah sambil mengalihkan wajahnya.
"Ini tehnya, silahkan diminum." Dinda meletakkan cangkir teh di atas meja, dengan melihat secara bergantian dua orang yang saling memunggungi.
__ADS_1
"Silahkan tehnya diminum." Dinda memecah keheningan diantara keduanya.
"Iyya, sana masuk!" Eric memerintah Dinda masuk ke kamarnya.
"Mana berkasnya cepat, gua mau istirahat." Eric meminta berkasnya pada Rian yang tengah meminum tehnya.
"Sabar dikit kenapa sih, ini tamu lu mau minum capek habis berantem." Rian melanjutkan aktivitasnya.
"Ini ada tiga lembar di situ." Rian menyerahkan berkas yang berisi dokumen penting.
"Sudah selesai, minum cepat lalu pulang sana!" Rian meminum tehnya dengan cepat
"Iyya, gua pulang, bye!" Rian meninggalkan rumah Eric, tapi sebelum pulang dia menyapa Dinda yang ada di taman melanjutkan pekerjaannya.
"Hii, aku pulang dulu yah Din." pamit Rian.
"Eh, Iyya kak, hati-hati." ucap Dinda.
"Katanya mau pulang, ngapain lagi disitu?" teriak Eric di depan pintu utama.
*****
"Honey, kamu ada meeting pagi ini?" tanya Naura.
Naura dan Leo sudah sampai di Jakarta dua pekan yang lalu. Naura jarang keluar karena takut bertemu orang tuanya, dia masih takut dimarahi perkara putusnya dengan Eric.
"Iyya aku ada meeting hari ini." jawab Leo sambil memakai dasinya.
Semenjak datang di Jakarta, kerjaan Naura hanya bersantai di spa dan shopping jika merasa ada waktu yang aman. Naura tidak pernah mengurus Leo, seperti menyiapkan baju dan memakaikan dasi. Untuk makanan mereka selalu memesan online karena memang sedari dulu Naura tidak bisa memasak, itu semua akibat dari orang tuanya yang sangat memanjakan Naura.
"Aku mau keluar yah, mau beli sesuatu." Naura meminta izin dengan tersenyum manis.
"Kamu mau beli apa lagi? aku lihat pengeluaran kamu di rekening sudah sangat banyak." Leo mengambil ponselnya lalu memperlihatkan pengeluaran Naura.
"Honey, itu nggak banyak loh, itu belum sampai dua ratus juta kok." ucapnya tanpa dosa.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? kita baru beberapa hari di sini kau sudah menghabiskan sebanyak itu." Leo tidak percaya Naura menganggap uang yang didapat dengan susah payah itu sedikit.
"Kamu kenapa sih? dulu aku pakai lebih dari itu kamu nggak marah kok." Naura sudah berdiri di depan Leo.
"Perusahaan aku sekarang lagi butuh dana yang banyak untuk membangun proyek di sini." Leo berusaha menenangkan dirinya agar tidak terpancing emosi.
"Ya sudah, aku tinggal mau beli tas saja kalau begitu."
"Terserah kau saja, aku mau berangkat dulu." Leo berangkat dengan sedikit kesal.
"Hah, dia bisa-bisa mengabiskan semua hartaku. Lagi pula aku merasa sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi dengannya." ucap Leo sambil berjalan menuju parkiran.
*****
"Tuan makan dulu." panggil Dinda saat melihat Eric sudah turun dari kamarnya.
"Ck, kenapa kau bikin nasi goreng? sudah tahu aku tidak bisa makanan berat kalau pagi." Eric menolak untuk memakan nasi goreng buatan Dinda.
"Tuan, Bi Sum hanya ke pasar kemarin, jadi bahan untuk membuat pancake tidak ada. Roti juga habis Tuan, Dinda baru liat tadi."
"Makanya kalau malam lihat dulu bahan apa yang dibutuhkan untuk sarapan. Kalau begini bagaimana aku bisa makan?" Eric melipat kedua tangannya di dada.
"Tuan mau dibuatkan yang lain?" tawar Dinda.
"Tidak usah, kalau kau mau buat sekarang aku bisa terlambat." tolak Eric.
"Coba dulu siapa tahu Tuan suka dengan nasi gorengnya." Dinda mengambil satu sendok ke piring dihadapan Eric.
Eric menatap makanan di depannya dengan horor, ini pertama kalinya di makan makanan berat di pagi hari. Eric mengambil satu sendok lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Dari mata Eric bisa di tebak jika dia speechless dengan rasa nasi gorengnya.
"Bagaimana Tuan? apakah enak?" tanya Dinda.
"Sama sekali tidak enak!" Lain yang di ucapkan lain juga yang dirasakannya, Eric tidak menyangka jika nasi goreng buatan Dinda sangat enak.
"Ya sudah tidak usah dimakan tuan, nanti malah sakit perut."
__ADS_1
"Kalau aku tidak makan, itu lebih membuat perutku sakit." ucap Eric menolak permintaan Dinda.