
"Mas Dinda diajakin Sima nonton nanti setelah pulang kantor." isi chat Dinda pada Eric.
Dinda mengirim pesannya saat tengah makan siang dengan Sima di kantin.
Ting...
Mendengar suara ponselnya Eric meraihnya lalu menghentikan makannya sejenak di dalam ruangan khususnya. Melihat pandangan Eric yang serius dengan ponselnya Rian ikut menghentikan makannya juga.
"Siapa?" tanya Rian kepo.
"Dinda, dia mau izin keluar." Rian membulatkan bibirnya menanggapi Eric.
"Dimana? pulangnya jam berapa? naik apa kau ke sana?" Eric memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi pada Dinda. Sedangkan Dinda yang memang sudah selesai makan langsung meraih ponselnya.
"Di mall X Mas, Dinda nggak tahu pulangnya jam berapa tapi, kata Sima setelah sholat isya. Sima bilang dia akan mengantar Dinda pulang nanti setelah nonton." Dinda menyatukan semua jawabannya karena pertanyaan Eric yang bertubi-tubi itu.
"Baiklah tapi, kabari aku jika kau sudah sampai di sana. Dan pulangnya jangan terlalu larut." Eric sekarang memang terkesan sangat overprotektif pada Dinda, bahkan jika Bi Sum sedang pulang kampung dia akan rela meninggalkan pekerjaannya yang penting dia menamani Dinda ke supermarket.
"Oke mas, terima kasih." balas Dinda.
Hari ini Leo berkunjung ke rumah Naura karena, Papa Naura juga mengundangnya untuk makan malam. Belum di ketahui apa penyebab orang tua Naura yang tiba-tiba mengundang Leo makan malam, tapi yang pasti Leo sangat senang akan hal itu.
"Honey kenapa yah Papa ngundang kamu dinner bareng?" ucap Naura yang masih tak percaya.
"Mana aku tahu, yang penting Papa ngundang aku pasti mau bicarain sesuatu."
Saat ini Naura dan Leo tengah berada di dalam restoran menunggu orang tua Naura datang.
" Kok mereka belum datang?" mata Leo memang saat ini tertuju pada pintu masuk menunggu orang yang mereka nantikan.
"Mama tadi emang lagi dandan pas aku ke sini, jadi tunggu sebentar lagi." ucap Naura disertai anggukan Leo.
Di mall X sendiri terdapat dua gadis yang tengah mengantri masuk ke dalam ke dalam bioskop.
"Sim, filmnya selesai jam berapa?" tanya Dinda setelah keduanya sudah duduk di kursi yang tertera di tiketnya.
"Mungkin jam delapan tiga puluh karena, filmnya durasi satu jam tiga puluh menit."
"Yah itu kemalaman aku pulang, mas Eric pasti belum makan." ucap Dinda dalam hati yang mengkhawatirkan Eric.
Dinda meraih ponsel di dalam tasnya lalu memberikan kabar Eric karena tidak sempat memasak untuk makan malam.
__ADS_1
"Mas, maaf Dinda nggak buatin makan malam."
Sedangkan Eric yang memang sudah ada di rumah dan sekarang tengah duduk di ruang tengah, maraih ponselnya yang menyala karena ada pesan masuk.
"*Jam berapa pulangnya?"
"Kata Sima jam delapan tiga puluh mas."
"Oh baiklah*."
Mereka saling mengirim pesan hingga Eric berhenti membalas pesan Dinda karena ke kamar mengambil kunci mobil. Dia berniat ingin menyusul Dinda, dia takut Dinda pulang larut nanti.
Malam ini Juna tidak ikut makan malam bersama keluarganya dan Leo karena, dia memang berada diluar bersama temannya.
"Kita nonton yuk, mumpung kita ketemu ini." ajak teman Juna yang memang tinggal di Medan.
"Aku ikut aja..," ucap Juna sambil memainkan ponselnya.
"ya udah ayoo." kumpulan pria itu meninggalkan bar tempatnya nongkrong, mereka semua habis minum alkohol karena itu kebiasaan merek jika sudah bertemu.
"Filmnya udah mulai nih Din." ucap Sima yang menghentikan aktivitas Dinda.
"Iyya.."
Gang Juna juga sudah sampai di mall dan mereka tengah memesan tiket untuk masuk. Saat masuk mereka duduk tepat di belakang Dinda dan Sima.
"Kita lambat sepuluh menit." ucap teman Juna.
Mereka menikmati filmnya hingga tanpa terasa filmnya sudah berakhir. Semua pengunjung berdesak-desakan keluar dari bioskop sampai tak sengaja Juna melihat Dinda duduk di kursi tunggu.
"Dinda..." ucap Juna berbinar.
Dinda menoleh melihat arah orang yang menyebut namanya.
"Hai kau habis nonton juga?" sapa Juna sambil mendekati Dinda yang tengah melihat ke arahnya.
"Iyya.." Dinda sudah mengingat Juna, pria yang dia senggol di kampus sampai ponselnya pecah.
"Kau pulang sama siapa?"
"Sama Sima."
__ADS_1
"Heii ayo pulang!" teman Juna yang datang dari belakang menepuk pundaknya.
"Kau duluan saja."
"Baiklah kita duluan, bye!" teman-teman Juna sudah pergi meninggalkan Juna dan Dinda serta Sima.
"Sim, ayo kita pulang." ajak Dinda.
"Hei kau pulang bersama dia? bukannya arah rumah kalian berbeda?" Juna memang tahu rumah Sima karena, temannya pernah mengejar-ngejar Sima, hingga membuntuti Sima sampai ke rumahnya.
"Aku akan mengantar Dinda dulu lalu pulang." kini Sima yang angkat bicara, dari tadi dia memperhatikan Juna yang berusaha mendekati Dinda sampai Dinda merasa risih lalu memegang ujung baju Sima dari belakang.
"Tidak apa-apa kalau kau mau pulang duluan aku bisa mengantar Dinda pulang, lagian kalau kau mengantar Dinda pulang kau akan kemalaman pulangnya." ucap Juna yang terdengar menjijikkan di telinga Dinda maupun Sima.
"Tidak perlu mengantarku, kalaupun Sima tidak mengantarku pulang, aku bisa pulang menggunakan grab car." mendengar penolakan Juna, nyalinya langsung menciut yang awalnya dia bersemangat mendekati Dinda, mumpung ada kesempatan. Tapi, dia bukan tipe pria yang mudah menyerah begitu saja dia akan mencoba lagi.
"Tapi, ini sudah malam."
"Tidak apa-apa, aku akan mengantarnya pulang." Sima tetap akan mengantar Dinda pulang karena, dia yang mengajak Dinda keluar hingga malam.
"Baiklah, kalau kau menolak. Btw kalian sudah makan malam?" Juna mengalihkan topik untuk menahan Dinda bersamanya lebih lama, meskipun masih ada Sima.
"Belum. Tapi, kami masih kenyang. Ayo Din kita pulang." Sima berdiri lalu menarik tangan Dinda.
"Hei tunggu dulu, aku hanya mengajak kalian makan malam, biar aku yang traktir." dengan tidak malunya Juna malah menahan Dinda dengan menarik tangannya yang sebelah.
Merasa tangannya di sentuh, Dinda menarik tangannya dengan paksa. Sedangkan Sima tidak terima Eric menyentuh Dinda begitu saja.
"Heii!!! jangan bilang kau itu senior kita di kampus jadi kita akan takut denganmu? TIDAK SAMA SEKALI." Sima menarik Dinda yang mungil itu ke belakangnya yang memang lebih tinggi dari Dinda.
"Sepertinya perempuan ini sangat pemberani." ucap Juna dalam hati, dia kaget melihat Sima yang membentaknya di depan umum.
"Memang aku kenapa?" ucap Eric tanpa dosa.
"Sudahlah mending kita pulang saja Din, ayo!"
"Hei! aku hanya mau menawarkan makan malam, bukan ingin macam-macam dengan kalian."
Di stand handphone terkenal Eric melihat semua kejadian yang terjadi, dia memang belum bertindak tadi tapi sekarang dia akan menghampiri ke-tiga orang yang tengah berdebat itu.
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like, coment, vote dan gift reader's...
Insya Allah besok Up lagi...