Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Sifat Kembali Semula.


__ADS_3

Melihat Dinda yang begitu sibuk dengan buku-bukunya, Eric menarik lengan Dinda dengan sedikit kasar agar menghadap dengannya.


"Aku bertanya, kau menunggu siapa di kampus tadi?" setiap kata Eric memberikan penekanan.


"Sstt, Tuan lepaskan dulu, ini sakit." Dinda mencoba melepaskan cekalan tangan Eric di lengannya.


"Kalau bicara jangan lihat yang lain, aku tidak suka, jika bicara dengan seseorang malah melihat yang lainnya." Eric sadar cekalan tangannya pada Dinda pasti sangat sakit dan pastinya akan meninggalkan bekas.


"Dinda tadi menunggu senior Dinda."


"Seniormu atau pacarmu?" tanya Eric dengan nada mengejek.


"Senior Dinda Tuan, Dinda tidak pernah pacaran, sumpah." Dinda memang dari SMP sudah jarang memiliki teman dekat, barulah sekarang dia dekat dengan Sima di bangku kuliah.


"Aku sama sekali tidak percaya, wajahmu saja yang terlihat polos tapi sifat dan kelakuanmu itu berbanding terbalik. Pasti pacarmu itu kaya raya juga bukan? Kau sangat hebat punya suami dan pacar yang bisa kau nikmati hartanya!" Eric melepas cekalan tangannya sambil menghempaskan Dinda di sofa.


Eric meninggalkan Dinda dikamar menuju ke taman belakang.


"Aku pikir Tuan mulai menerima kehadiranku, jika bukan sebagai Istri, menjadi temannya juga tidak apa-apa." ucap Dinda dalam hati sambil meneteskan air mata. Dinda merasa sangat rendah dimata Eric, dituduh yang tidak-tidak.


Dinda melihat lengannya yang sudah berubah warna menjadi biru keunguan, seperti habis di pukul.


"Kenapa Tuan selalu menuduh Dinda seperti itu? Apa karena Dinda memang bukan orang mampu sampai dituduh memanfaatkan hartanya?"


Dinda tidak tahu lagi harus bagaimana, dia sebenarnya lelah selalu di tuduh Eric, sampai-sampai dia pernah berpikir meminta cerai saja pada Eric. Tapi, mengingat keluarganya di panti dan terlebih keluarga Pratama sudah sangat baik pada keluarganya. Mengingat semua itu, dia kembali mengurungkan niatnya.


Dinda mengganti bajunya yang semula berlengan pendek menjadi lengan panjang, agar bekasnya tidak terlihat oleh mertuanya.


Dinda keluar kamar, berniat pergi melihat keadaan Bu Hasna sebentar.


"Assalamualaikum." Dinda masuk setelah mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam, ehh kamu udah pulang, sini!" Bu Hasna kegirangan melihat menantunya yang dia tunggu sejak tadi.


"Mama kenapa nggak baring, emang udah nggak pusing lagi?" Tanya Dinda sambil menghampiri mertuanya yang bersandar di headboard tempat tidurnya.


"Mama udah mendingan sayang, tenang aja," Dinda mengangguk menanggapi Bu Hasna.


"Bagaimana kuliahnya?" sambung Bu Hasna.

__ADS_1


"Lancar Ma. Mama udah makan siang belum?"


"Udah, kan ada Papa tadi yang bawa makanannya ke sini."


"Baiklah.., Mama mau Dinda pijat?" tawar Dinda dengan antusias.


"Memang kamu bisa?" Bu Hasna tidak begitu percaya Dinda bisa memijat dengan baik, karena anak gadis jaman sekarang jarang ada yang mau memijit, ujung-ujungnya malah pergi ke spa.


"Ya bisalah Ma, mana mungkin Dinda tawarin kalau nggak bisa." Dinda sendiri tidak begitu terima Bu Hasna yang terdengar meragukan kemampuannya, dipanti saja semua bahkan ingin selalu dipijat oleh Dinda.


"Mama kira anak jaman sekarang udah nggak ada yang tahu memijat."


"Ya mungkin memang ada, tapi Dinda bisa."


"Ya udah pijat kepala Mama saja." pada akhirnya Bu Hasna tunduk untuk dipijit oleh Dinda.


"Mama baring aja dulu." Bu Hasna hanya menurut apa yang diperintahkan oleh menantu kecilnya.


"Mama mau pakai oil atau nggak?"


"Pakai aja deh supaya lebih enak. Tapi, sedikit aja yahh."


"Oke deh."


"Dinda pijitan kamu enak sayang, Mama suka." puji Mamanya, membuat Dinda tersenyum.


Eric duduk di kursi panjang memandang kolam renang di depannya. Dia masih merasa kesal mengingat foto itu.


"Aku tidak akan percaya dengan ucapannya. Kenapa harus berpegangan tangan kalau tidak punya hubungan apa-apa." Eric masih menyangka jika Dinda dan Juna memiliki hubungan.


"Huft.." dia menghembuskan nafasnya, mencoba meredakan emosinya.


Malam ini Dinda memasak dengan bahan yang sudah tersedia di kulkas. Dinda juga sudah tidak membuatkan Bu Hasna bubur, karena Bu Hasna sendiri juga sudah membaik.


"Ma, Pa ayo makan." Dinda memanggil mertuanya dibalik pintu.


"Iyya." teriak Mamanya.


Setelah dari kamar mertuanya, Dinda menuju kamar Eric untuk memanggilnya juga.

__ADS_1


Dinda mengetuk pintu, tapi tidak ada tanggapan Eric, jadi Dinda masuk ke kamar mencari Eric.


"Eh, Tuan makan malamnya sudah siap." Eric baru keluar dari kamar mandi.


Dinda termenung melihat Eric melewatinya begitu saja, baru kemarin Eric memperlakukannya dengan baik, tapi hari ini es yang sempat mencair kembali menjadi semula.


"Mama nggak makan bubur?" tanya Eric saat semuanya sudah berkumpul di meja makan.


"Tidak, Mamakan udah mendingan jadi nggak perlu makan bubur lagi."


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi hingga semuanya kembali ke kamarnya masing-masing, terkecuali Dinda yang masih membersihkan mencuci piring bekas makanan tadi di dapur.


Malam semakin larut, tapi Dinda semakin takut kembali ke kamar bertemu Eric.


"Kalau aku masuk ke sana, apa Tuan akan marah lagi?" Dinda masih ragu masuk ke kamar Eric, dilain sisi dia juga takut mertuanya keluar dan menanyakan kenapa dia belum masuk ke kamar.


"Ya sudahlah aku masuk saja, nanti aku tidur di sofanya, kalau marah lagi aku tidur di lantai saja." Dinda memutuskan menyusul Eric ke kamar dengan langkah yang begitu pelan.


Jam sudah menunjukkan 23:13, semua orang sudah tertidur pulas, jadi Dinda masuk kamar dengan hati-hati.


Eric sudah tidur di tengah-tengah ranjangnya, Dinda mengambil bantal dan selimut di dalam lemari lalu terlelap di atas sofa.


Mendengar tidak ada suara lagi, Eric membuka matanya mengintip apakah Dinda sudah tertidur pulas atau belum.


"Dia sangat cepat tidur." Eric menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidurnya sambil memperhatikan Dinda yang tertidur.


Eric dari tadi tidak bisa tidur, dia kembali membuka ponselnya dan melihat foto yang sebelumnya dikirim oleh suruhannya.


"Hah dia yang menarik tangan pria itu." Eric melihatnya dengan seksama dengan sekali-kali melihat Dinda.


"Pantas pria itu selalu melihatnya saat di pesawat, rupanya memiliki hubungan spesial." Eric masih meyakini jika Dinda dengan Juna memiliki hubungan, padahal kenyataannya mereka saja baru bertemu saat di pesawat dan Juna lah yang selalu berusaha mendekati Dinda.


Eric melihat foto selanjutnya yang belum sama sekali dia lihat. Dia mulai mengernyitkan dahinya melihat semua foto-foto yang dikirim oleh suruhannya, mulai dari Dinda dan Sima menunggu di depan kampus, Dinda berpindah tempat ke samping Sima untuk menghindar dari Juna, sampai Dinda menyerahkan amplop warna coklat ke tangan Juna.


"Amplop apa itu?"


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


Sorry banget selalu lambat, karena author juga ada kuliah, maaf yah.


Kalau mau nanya sesuatu atau yang lainnya bisa di Instagram yah, ini Ig aku. @fifinrlfdlh_hs


__ADS_2