Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Pelukan Hangat.


__ADS_3

"Kalau mereka tidak mau, jangan memaksanya!" Eric datang dari arah belakang Juan karena, posisinya sekarang tengah menghadang Dinda dan Sima.


"Mas Eric!?" ucap Dinda tanpa sadar.


"Pak Eric!?" Sima yang menganga melihat CEO-nya datang, ditambah panggilan Dinda pada Eric barusan yang menambah beban pikirannya.


"Kalau mereka tidak mau jangan memaksanya!"


Pikiran Juna kembali ke beberapa bulan yang lalu, dimana dia bertemu pria yang di depannya itu karena, dia yang selalu memandang Dinda.


"Kau siapa yang melarang mereka?" ucap Juna sambil mendongakkan kepalanya melihat Eric yang tinggi semampai.


"Justru aku yang harusnya bertanya kau itu siapa mau memaksa mereka." Eric berjalan ke depan Dinda dan Sima lalu menghadap ke Juna kembali (posisinya Eric melindungi Dinda dan Sima di belakang punggungnya.)


"Pergi saja kau, mereka sudah jelas menolakmu." usir Eric dengan nada yang lembut.


"Aku hanya mendekati Dinda bukan mau m*mp*rkos*nya, jadi jika kau tidak berhak ikut campur dengan hal ini." Juna yang memang belum tahu jika pria di depannya itu adalah suami Dinda jadi, dia berani berkata seperti itu.


Mendengarnya, Eric menarik Juna menjauh dari arah Dinda dan sima.


“Dengar!! Kau masih ingat saat di pesawat? Saya mengatakan jika saya itu adalah suaminya, dan kau masih selalu mendakitinya?” Pernyataan Eric membuat Juna tertawa renyah, dia tidak akan percaya sebelum Dinda sendiri yang mengatakannya.


"Dengar!! aku tidak percaya sama sekali jika Dinda itu adalah istrimu. Mungkin saja dia itu hanya keluargamu." ucap Juna tak percaya membuat Eric mengepalkan tangannya.


"Tidak usah berharap terlalu lebih pada Dinda jika kau tak ingin menyesal nanti." setelah memberikan peringatan kepada Juna, Eric meninggalkan tempatnya lalu kembali ke Dinda dan Sima.


"Ayo pulang!" Eric menarik tangan Dinda, tapi Dinda segera menahannya.


"Tunggu Mas! Sima mau mengantar Dinda pulang." Dinda menahan tangan Eric yang menarik tanganmu.


"Ini sudah malam, kalau dia mengantarmu, ia akan kemalaman pulangnya." ucap Eric sambil melihat Sima.


Juna sendiri sudah meninggalkan tempatnya setelah Eric pergi dari hadapannya.


"Sim, nggak apa-apakan kamu pulang sendiri?" tanya Dinda tidak enak hati menolak Sima.


"Iyya nggak apa-apa, kamu pulang aja,"


"Tapi, besok ceritakan semuanya!" ucap Sima membisik Dinda meminta penjelasan membuat Dinda mengangguk.


"Ayo pulang!!" Eric menarik tangannya, Dinda hanya bisa melambaikan tangannya pada Sima sebagai tanda pamit.

__ADS_1


"Mas pelan-pelan." ujar Dinda yang menyentuh lengan Eric.


"Kenapa dia ada lagi sih?" Eric melambatkan jalannya lalu menarik Dinda untuk menyamakan jalannya.


"Siapa?" tanya Dinda yang otaknya tidak terkoneksi dengan ucapan Eric.


"Ck! pria itu! yang mengganggumu tadi."


"Oh kak Juna. Dinda nggak tahu dia tiba-tiba ada saat Dinda dengan Sima istirahat sebentar di kursi tunggu."


"Hahhh, dia sangat menjengkelkan!" gerutu Eric tapi masih terdengar di telinga Dinda.


"Mas, gimana kalau ada yang liat kita seperti ini?" Dinda mengamati sekelilingnya yang ramai akan pengunjung mall ini.


Eric juga mengedarkan pandangannya, dan benar saja ada sebagian pasang mata yang melihat mereka bergandengan tangan. Eric refleks melepas tangannya saat menyadari hal tersebut.


Eric dan Dinda keluar dari mall dan segera pergi ke arah mobil Eric terparkir.


"Mas sudah makan?" tanya Dinda ketika berada di dalam mobil.


"Belum."


"Mas mau makan diluar atau di rumah?"


Di restoran mewah sudah ada keluarga Naura dan Leo yang tengah makan malam.


"Kau bersungguh-sungguh dengan Naura?" tanya papa Naura sambil memotong dagingnya Barbeque di piringnya.


"Iyya pak." ucap Leo dengan yakin.


"Baiklah, tapi saya perlu bertemu keluargamu dulu." papa Naura memang ingin yang terbaik untuk Putrinya harus menelusuri keluarga kekasihnya itu.


"Iyya pak, segera saya akan menyampaikan padanya."


"Iyya, saya ingin bertemu dengannya dulu."


Selesai makan malam tadi Keluarga Naura maupun Leo sudah pulang ke kediaman masing-masing dengan mobilnya.


"Mas ayo makan! pesanannya sudah datang." teriak Dinda dari ruang makan, disusul Eric yang datang dari kamar.


Eric hanya memesan menu makanan seafood yang dia suka, plus dengan sayur kangkung. Saat makan pikiran Dinda tetap menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang akan dilayangkan Sima padanya besok.

__ADS_1


"Hei, kalau makan jangan bengong." tegur Eric.


"Nggak kok, Dinda nggak bengong."


"Nggak bengong apa, itu saja kau tak sadar mengambil sambalnya sangat banyak." Dinda dengan kaget melihat sambal yang ada di piringnya begitu banyak.


Selesai makan mereka kembali ke kamarnya untuk istirahat.


"Sini!" Eric menepuk sofa di sampingnya.


"Iyya mas?" ucap Dinda setelah menyelesaikan aktivitasnya yang menyusun baju Eric di dalam lemari.


"Kau memikirkan apa tadi?" tanya Eric ketika Dinda sudah duduk di sampingnya.


"Tidak apa-apa Mas, Dinda cuman mikirin Sima yang pulang sendirian ke kostan-nya." bohong Dinda, pasalnya dia memikirkan apa yang akan dia jawab jika Sima menanyakan hubungannya dengan Eric.


"Ohh.., ngomong-ngomong bagaimana luka yang di lenganmu?" tanya Eric menarik Dinda duduk lebih dekat dengannya.


"Sudah keringlah Mas, kan sudah lama." ucap Dinda melihat sambil melihat mata Eric.


"Sini kulihat!" Eric menaikkan lengan baju oversize Dinda sehingga terlihatlah luka yang selalu Dinda sembunyikan dengan kemeja yang berlengan panjang.


"Sudah sembuh mas." ketika Dinda ingin melanjutkan pekerjaannya yang lain, Eric malah menahannya untuk duduk lebih lama di sampingnya.


"Kenapa?"


"Besok saja kau lanjutkan itu, aku ingin menatapmu lebih lama di sini." ucapan Eric membuat pipi Dinda bersemu merah karena godaan Eric.


"Kenapa ini memerah?" Eric kembali menggoda Dinda dengan mengelus pipi Dinda yang memerah.


"Ihh, nggak! pipi Dinda nggak merah kok." Dinda mengibas tangan Eric lalu menyentuh kedua pipinya menutupi rona merahnya.


"Kalau nggak merah kenapa di tutup? sini tangannya!" Eric menarik kedua tangan Dinda agar melihat pipi merah itu kembali.


"Mass, Dinda maluuu..." ucap Dinda dengan pelan membuat Eric tertawa terbahak-bahak, tawa yang tidak pernah dilihat Dinda sebelumnya.


"Kenapa harus malu?? sini aku buat tidak merah lagi." Eric dengan mudahnya mengangkat tubuh Dinda ke atas pangkuannya.


"Ihh Mas, Dinda mau duduk di sofa saja." Dinda memberontak ingin diturunkan dari pangkuan Eric, tapi Eric malah memper-erat pelukannya pada pinggang Dinda.


"Tidak usah, di sini saja, Mas suka kau duduk di situ." sungguh pipi Dinda malah bertambah merah karena Eric.

__ADS_1


"Tidak usah malu, kau duduk di pangkuanku." Eric menarik Dinda ke dalam pelukannya, dengan kedua tangan Dinda menggantung di lehernya. Tangan Eric juga mengelus dengan sayang punggung Dinda.


__ADS_2