
"Saya juga tidak tahu Pak, nanti saya menyelidiki lagi tentang hutang itu."
"Iyya selidiki terus, saya butuh informasi secepatnya." perintah Eric.
"Baik Pak."
"Dia membutuhkan uang sebanyak apa sampai bisa meminjam ke pria itu?" ucap Eric setelah mematikan sambungan telponnya.
*****
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum?" Dinda sangat bersemangat ingin bertemu keluarganya. Dia sudah sangat rindu dengan adik-adiknya.
"Wa'alaikumsalam." Ina menarik gagang pintu dengan mengeluarkan tenaga yang sangat banyak karena gagang pintu yang keras dan tinggi, sementara tubuh Ina yang sangat kecil dan masih pendek.
"Kakak!!" Ina meneriaki kakaknya lalu memeluk kakinya dengan sangat erat.
"Ina, kenapa kamu yang buka pintu?" tanya Dinda sambil menurunkan badannya agar sejajar dengan adiknya.
"Ibu masak, lalu semuanya masih ada di sekolah." ucap Ina dengan sangat menggemaskan.
"Cuman Ina dan Ibu' yang dirumah?"
"Iyya, Ina bantuin Ibu' masak." Ina mengobrol dengan Dinda sambil mengangguk menjawab semua pertanyaan, membuat Dinda menarik pipi bulat itu karena terlalu gemas dengan tingkah adiknya.
"Ayo masuk." Dinda berdiri, ia menarik tangan Ina lalu dibawanya masuk bersama.
*****
Leo masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masam, dia tidak menyangka harus bertemu lagi dengan Eric hari ini.
"Honey, kamu kenapa?" tanya Naura menghampiri Leo yang sudah duduk di depan televisi.
"Tidak apa-apa." jawab Leo singkat.
"Honey kamu kok gitu sih? cerita dong kalau punya masalah." ucap Naura sambil mengusap lengan Leo.
"Aku tadi ketemu Eric."
Naura menganga sangking kagetnya.
"T-terus dia marah atau bagaimana?" tanya Naura diiringi tangan yang gemetar. Selain selingkuh di belakang Eric, Naura juga sudah menghabiskan isi ATM Eric tak bersisa.
__ADS_1
Dengan uang itu, Naura berhasil membeli apa yang dia inginkan, bahkan Naura memberikan Leo sebagian uang itu untuk kebutuhan proyeknya. Karena itulah saat bertemu Eric di kantor tadi, Leo merasa malu, sebab Eric mengetahui jika uangnya di ATM dihabiskan oleh Naura dan dirinya.
"Bagaimana jika Eric minta uangnya kembali, honey?" tanya Naura ketakutan.
"Aku tidak tahu dia akan memintanya atau tidak, karena uang yang kau habiskan itu bukan jumlah yang kecil." Leo berkata seolah dia tidak pernah menikmati uang Eric.
"Hah, jangan bilang aku yang menghabiskan uang itu, tapi kita berdua yang menghabiskannya." ucap Naura tidak terima atas ucapan Leo.
"Iyya tapi tida sebanyak yang kau gunakan." kedua manusia tidak malu itu, beradu argumen saling menyalahkan satu sama lain, padahal mereka berdua sama-sama salah.
*****
"Ayo ke ruang Presentasi, tim divisi sudah ada di sana." hari ini tim divisi utama akan melakukan presentasi mengenai perkembangan proyek yang tengah mereka kerjakan.
"Ini masih ada beberapa menit, nanti dulu." ucap Eric lesu.
"Lu kenapa? apa karena tadi habis ketemu Leo?" Rian sudah duduk dihadapan Eric.
"Bukan, gua udah nggak ada urusan sama dia."
"Tapi lu udah ikhlasin uang lu nggak?" tanya Rian memastikan.
"Ya elah kalau perkara tu uang gua udah nggak mikirin sejak pertama tahu kalau mereka memakai ATM itu tanpa sepengetahuan ku." Eric tidak mempermasalahkan ATMnya, karena baginya uang di ATM itu tak seberapa, dibanding sakitnya melihat kekasihnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri di depan mata.
"Syukurlah kalau kau tidak seperti orang diluar sana, walau uang sedikit mereka tetap mengejarnya sampai dapat,"
"Lalu apa lagi yang kau pikirkan kalau bukan itu?" sambung Rian ketika melihat tatapan Eric terlihat memikirkan sesuatu.
"Dinda punya hutang." ujar Eric.
"Oh yang lu pikirin dari tadi itu Dinda tohh." Rian mulai mengejek lagi.
Sesuai sasaran, tebakan Rian sangatlah tepat. Eric dari tadi memikirkan Dinda, bukan hanya hari ini, tapi semenjak kehadirannya otak Eric sudah tidak pernah memikirkan tetang Naura, sekarang digantikan oleh Dinda.
"Iyya gue mikirin Dinda, puas lu!" Rian tertawa keras melihat pengakuan Eric.
"Ya bagus dong lu mikirin dia, kan notabennya dia emang wajib lu pikirin." ucap Rian bijak.
"Daripada gua yang mikirin Dinda, bisa brabe nantikan." Rian mendapat hadiah dari Eric berupa tatapan tajam, setelah mengucapkan itu.
"Awas lu!"
"Udah mulai cinta yahh Ama istri sendiri?" ucap Rian sambil menaik-naikkan alisnya.
__ADS_1
"Udah ayo, katanya mau ke ruang Presentasi." Eric berdiri meninggalkan kursinya agar terhindar dari pertanyaan Rian.
"Malah ngehindar luu." Rian mengikuti Eric menuju ruang Presentasi.
Di Panti, Dinda sudah pamit pulang berhubung setelah dari panti dia akan ke toko roti terlebih dulu.
"Kakak pamit yahh, lain kali kakak ke sini lagi." sebelum pulang drama terjadi lagi, karena adik-adiknya tidak mengizinkan Dinda pulang cepat. Ina bahkan melarang Dinda pulang, dia meminta Dinda untuk bermalam.
"Kakak nggak bisa bermalam, besok-besok aja yah, lagian disini nggak ada pakaian sama buku kakak." bujuk Dinda.
"Tapi janji yah, kakak akan belmalam lagi di sini." ucap balita yang berumur 4 tahun, lebih kecil dari Ina.
"Iyya janji!" semua adiknya sontak tersenyum gembira.
"Kakak pergi dulu, dah assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Siang ini begitu panas, untung saja banyak kendaraan umum yang lewat, sehingga Dinda tidak menunggu lama di bawah terik matahari.
Sesampainya di toko roti, Dinda mengerjakan tugasnya seperti biasa, pelanggan yang datang sangat ramai, membuat semua karyawan kewalahan. Tapi kerjasama mereka yang kompak, sehingga tidak terasa berat pekerjaan mereka.
"Semuanya ayo kumpul diruangan saya." perintah Bu Suzan pada semua karyawan.
"Baik Bu!" semuanya mengikuti langkah Bu Suzan tak terkecuali Dinda.
"Kalian tahukan kalau hari ini tanggal berapa?" tanya Bu Suzan, dia melangkah ke mejanya lalu mengambil amplop berwarna coklat.
"Tanggal 2 Bu', kita gajiankan Bu' hari ini?" ucap Risa begitu semangat saat melihat Bu Suzan memegang amplop merah itu, yang diyakini semua karyawan kalau itu berisi uang.
"Kamu ini Risa, kalau gajian semangat banget." Bu Suzan hanya bisa geleng-geleng melihat Risa yang lompat-lompat kegirangan di dekat Dinda.
"Harus dong Bu', ganjian itu yang paling ditunggu-tunggu, yakan Din?" Dinda hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Risa.
"Maaf yah semua, harusnya kemarin kalian terima gaji tapi pas saya mau ke bank untuk ambil uang, ehh malah saya lupa kalau kemarin hari Minggu." Bu Suzan minta maaf atas keterlambatannya.
"Nggak apa-apa Bu', yang penting sekarang udah ada."
"Ya udah maju satu-satu ambil bagiannya."
Semuanya maju saat nama mereka di sebut oleh Bu Suzan.
like, coment, gift and vote guyss 🖤❤️
__ADS_1