
"Dia!?" ucap Naura spontan melihat foto itu. Pikirannya berkelana di beberapa hari yang lalu, dimana ia melihat Eric berbelanja di supermarket bersama perempuan yang ada di foto tersebut. Naura yakin, jika perempuan itu adalah istri Eric, karena mereka terlihat sedang belanja keperluan dapur. Sedangkan saat berpacaran dengan Eric, jangankan menemaninya berbelanja di mall tidak mau, apalagi ke supermarket belanja keperluan dapur.
"Kenapa? Kakak kenal dia?" memang terlihat dari wajah Naura jika dia tampak kaget, jadi Juna berspekulasi jika Naura kenal dengan Dinda.
"Mmhh, tidak! Aku hanya pernah melihatnya kalau tidak salah." Naura tidak bisa langsung mengatakan jika gadis itu adalah istri Eric pada Juna, karena takutnya dia nanti salah dan membuat adiknya terlanjur kecewa.
"Kau menyukainya?"
"Tentu saja!"
"Yakin? kalau dia menjadi pacarmu bulan ini, bulan depan tidak akan ganti lagi?" ujar Naura mengejek, pasalnya Juna memang terkenal karena sangat playboy semenjak duduk di bangku SMA.
“Nggak lah, dia itu beda. Susah banget di deketin, makanya aku makin penasaran dan suka sama dia.” Juna nyegir kuda mengingat beberapa kejadian yang lalu, dimana dia pernah membuat dinda berlari bak dikejar anjing di kampus karena menghindarinya. Itu semua semakin membuat juna menyukainya, dinda berbeda dengan gadis lainnya, dimana jika gadis lain akan mengejarnya bahkan ada yang pernah ingin menyerahkan keper*wan*nnya dengan cuma-cuma, tapi dinda seakan-akan takut jika bertemu dengannya.
“Aku keluar dulu, mama manggil.” Izin Naura lalu diangguki Juna.
Ting…(Suara pesan masuk)
Merasakan ada getaran dan bunyi di ponsel yang dipegangnya Juna juga langsung membuka ponselnya. Jemari Juna dengan lihai membuka isi dokument yang dikirim Jefri, sepertinya dokument yang berisi biodata lengkap Dinda.
Nama: Adinda Fadillah
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 23 Desember 2001
Alamat: Jalan xxx
No. HP: 08**********
Orang Tua
__ADS_1
Ayah: Baharuddin
Ibu: Tini
Status: Mahasiswi
Karena masih mendapat informasi yang tidak jelas, Juna menelfon Jefri ingin menanyakan tentang info itu.
"Halo" ucap Jefri di seberang sana.
"Statusnya masih single atau apa bro? informasinya nggak akurat, mungkin ini udah lama." Tanya Juna to the point.
"Biodata yang kudapat itu dari perusahaan Pratama Group, perusahaan tempat Dinda bekerja. Dia juga baru bekerja disana bukan? otomatis biodata itu masih baru. Lagian peraturan yang ku baca di laman pendaftaran Pratama Group, mahasiswi magang harus dalam tidak ada ikatan hubunagan suami istri." jelas Jefri panjang lebar.
"Oh ok lah, thanks bro bantuannya."
"Lu kenapa cari biodata tentang Dinda? lu ngincar dia yah?" Tanya Jefri dengan nada mengintimidasi.
Selesai menelfon, Juna bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
"Juna, lu harus lebih keras dapetin Dinda." ujar Juna sebelum benar-benar menutup pintu kamar yang terhubung ke arah balkon.
"Assalamualaikum.." Eric baru sampai di rumah jam tujuh malam.
"Waalaikumsalam.." Dinda yang tengah memotong sayuran di dapur untuk makan malam, berlari ke arah pintu setelah mendengar suara Eric.
Melihat Dinda yang berlari kecil sambil tersenyum manis ke arahnya membuat Eric menghentikan langkahnya. "Jangan lari-lari!" tegur Eric setelah Dinda sampai di depannya lalu mengambil tangan kanannya untuk di salami.
"Hehehe.., sini jasnya!" Dinda mengambil jas yang berada di lengan suaminya itu.
__ADS_1
"Mas ini teh hangat, minum dulu." Eric mengernyitkan dahinya, pasalnya dia suka minum air dingin setelah pulang kantor dan Dinda-pun sering memberikannya. Tapi, Kali ini Dinda malah memberinya teh hangat.
"Kok teh hangat, air dingin nggak ada?"
"Ada mas, tapi sekarang tenggorokan mas sedang sakitkan? diluar juga sedang hujan, jadi air dinginnya diganti teh hangat dulu." tubuh Eric memang dengan cuaca dingin, jika musim hujan tiba, dia akan sakit tenggorakan, flu bahkan di malam harinya dia akan demam.
"Mas nggak perlu teh hangat untuk menghangatkan tubuh, kan ada kamu yang bisa di peluk." ucap Eric setalah berhasil menarik Dinda duduk di pangkuannya. Eric memeluk Dinda dengan erat sambil wajahnya dia tenggelamkan di celuk leher jenjang Nan putih mulus Dinda.
"Hhmmm wangi banget sihh..." Eric yang awalnya hanya mengirup leher Dinda, sekarang malah berganti menjadi mengecupinya hingga memberikan tanda ke merahan di area leher putih itu.
"Mhh.., mas... udah dulu.., sana mandi!" Dinda mendorong kepala Eric dengan sedikit paksa, karena Eric sangat enggan menghentikan aktivitasnya.
"Nanti saja, mas masih mau peluk kamu." ujar Eric dengan manja bak anak kecil.
"Huft.., mas nanti saja peluknya, mas mandi dulu lalu kita sholat isya."
"Setelah itu?"
"Kita makan!"
"Lalu?"
"Tidur!"
"Tidak ada lagi?"
"Tidak ada!" ujar Dinda dengan polos berhasil membuat Eric menghembuskan nafasnya pasrah karena Dinda yang tidak mengerti kode yang diberikannya.
"Mas mau minta jatah malam ini yah?!" ujar Eric sambil menaik turunkan alisnya Dan Dinda hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Sana mas mandi, lalu kita sholat isya." Eric mengangguk dan melangkah naik ke kamarnya dengan semangat, setelah mendapat persetujuan Dinda.