
Eric melewati Dinda menuju meja untuk makan, sedangkan Dinda hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Eric.
“Apa yang kau lihat? Cepat ambil makanan mu dan makan di tempat lain.” Dinda segera melakukan yang di perintahkan Eric, sebelum Eric akan melarangnya makan dan harus menunggu lagi.
Dinda makan di tempatnya tadi membaca buku, makanan yang diambil Dinda sebenarnya tidak cukup. Perut Dinda memang langsing tapi penampungan perutnya melebihi batas normal orang langsing.
“Setidaknya cukuplah menahan lapar sampai besok.”ucap Dinda pelan agar tidak terdengar Eric.
Selesai makan Dinda masuk ke kamar membersihkan meja tempat Eric makan tadi, selang beberapa menit kemudian ponsel Dinda berdering di balkon.
Dert....dert...dert....
"Assalamualaikum." salam di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam Bu'."Dinda menjawab selama dari Ibunya.
"Nak kamu ke Bali yah, sama Nak Eric buat bulan madu?" tanya Ibunya, karena sangat tumben Dinda tidak mengabari mereka.
"Iyya bu', maaf yah Dinda beneran lupa kemarin kabarin Ibu sama Bapak, soalnya kemarin papa sama Mama mendadak banget bilangnya." Dinda sangat lupa mengabari orang tuanya kemarin setelah orang tua Eric pulang, ditambah Eric memarahinya sampai Dinda pingsan.
"Iyya Nak, nggak apa-apa, Ibu hanya kaget mendengar kabar dari bu' Hasna kalau kalian nggak di rumah" Bu Tini memaklumi keadaan Dinda
"Sekali lagi maafin Dinda ya Bu', lain kali Dinda akan selalu kabarin Ibu dan semua yang ada di panti." Dinda merasa sangat bersalah pada ibunya dan yang lainnya.
"Kamu hati-hati yah di sana, titip salam sama Eric juga. Ibu tutup dulu yah telfonnya Nak, assalamualaikum."
"Iyya Bu', wa'alaikumsalam." jawab Dinda dengan menekan tombol merah di ponselnya.
Setelah selesai berbicara di telfon, Dinda membereskan semua barang-barang yang dia bawa ke balkon tadi. Dinda memang membawa banyak buku ke sini, karena niatnya ingin mengerjakan tugasnya dari pada tidak ngapa-ngapain.
Dinda berjalan memasuki kamar dan meletakkan buku-bukunya di atas meja samping pintu masuk dengan hati-hati, pasalnya sekarang Eric sudah tidur beberapa menit yang lalu.
Dinda putar-putar mencari alas yang bisa dia gunakan untuk tidur di lantai, hingga akhirnya menemukan di dalam lemari selimut yang dia gunakan nanti sebagai alas. Sedangkan bantal yang digunakan Dinda adalah bantal sofa yang di balkon, karena dia tidak enak mengambil bantal di sebelah Eric.
__ADS_1
Sesudah bersih-bersih di kamar mandi, Dinda keluar dan merebahkan dirinya di atas selimut hotel. Baru sekitar sepuluh menit Dinda berbaring, dia sudah berlayar di alam mimpi.
Eric sebenarnya belum tidur sejak Dinda masuk ke dalam kamar, dia hanya merebahkan dirinya sambil memejamkan mata. Eric berbalik ke arah kiri, dimana di bawah sana sudah ada Dinda yang terlelap, dengan kedua tangannya juga naik ke atas bantal, sungguh hal itu sangat menggemaskan bagi Eric hingga membuat Eric senyum sendiri melihatnya. Eric tersadar dengan apa saja yang membuatnya tersenyum tadi, dia segera memutar tubuhnya hingga menghadap ke kanan.
"Aku tidak boleh terpengaruh apa yang dilakukan oleh perempuan itu, bisa saja dia ingin menjebak ku agar jatuh cinta dengannya, sungguh sangat mustahil."ucap Eric dalam hati yang lagi-lagi berfikir buruk tentang Dinda.
*****
Kantor Pratama Group.
"Dasar orang gila, bisa-bisanya nyuruh gue nyusul dia ke Bali, dengan meninggalkan tumpukan berkas sia*an ini." Rian ngomel sendiri tanpa hentinya sejak memasuki ruangan Eric untuk mengambil berkas.
"Dia sok-sokan jijik sama bininya, tapi giliran bininya di perhatiin malah sewot." mulut Rian sudah komat kamit ngomelin kelakuan sahabat gilanya itu.
Sedangkan di sebuah hotel mewah di Bali sudah ada sepasang suami istri yang melakukan aktivitas masing-masing, Eric yang memainkan ponselnya di atas sofa sambil menikmati kopi.
Dinda baru selesai mandi, saat pintu itu terbuka sudah menampakkan Dinda dengan pakaian sederhananya.
"Tuan bisakah aku keluar sebentar?"Dinda meminta izin kepada Eric, Dinda masih tau adab sebagai seorang istri yang harus meminta izin ketika keluar.
"Hanya ke luar saja di depan pantai sebentar tuan." Dinda ingin merasakan air pantai, ini pertama kalinya Dinda ke Bali jadi wajar saja dia penasaran dengan pantai itu.
"Pergilah aku tidak peduli."ucap Eric judes.
"Baiklah Dinda keluar tuan, assalamualaikum." Dinda sudah keluar kamar dengan semangat.
"Hah, pasti tidak pernah melihat pantai, dasar kampungan." ucap Eric ketika Dinda sudah tidak ada di depannya.
Sesampainya Dinda di depan pantai, tampak pantai itu sedang sepi pengunjung karena memang pantai itu memang hanya untuk kalangan atas saja.
"Hai! boleh ikut bergabung?" tanya pria yang tiba-tiba ada di belakang Dinda.
Dinda hanya mengangguk menanggapi, dia juga yakin tidak akan di apa-apakan oleh pria itu.
__ADS_1
Di kejauhan sana, sudah ada Eric yang melihat kelakuan pria itu pada Dinda. Eric tau betul membedakan mana pria yang baik-baik dan yang mana hanya ingin memanfaatkan, baik harta maupun tubuh mangsanya.
"Boleh kenalan gak? nama aku Rayhan, kamu?"tanyanya lembut pada Dinda.
Pertanyaan membuat Dinda menjaga jarak dengan pria di sampingnya.
"Dinda." Dinda menyebut namanya setelah menjaga jarak, dia tidak ingin di lihat oleh Eric, nanti malah dia di marahin lagi.
"Hei cantik kenapa menjauh??" pria itu mencoba meraih pergelangan tangan Dinda tapi Dinda tetap menolak dengan menjauh, tapi pria itu tetap mendekatinya.
Pria itu berhasil menangkap tangan Dinda dan mencekalnya erat, bahkan sekarang dia memegang kedua tangan Dinda, Dinda sudah tidak bisa menahan tangisannya, dia sangat takut dengan pria di depannya itu, sungguh.
Tiba-tiba saja ada seseorang di belakang pria itu yang menariknya hingga melepas cekalannya pada tangan Dinda. Dia adalah Eric sejak pria itu sudah mendekati Dinda, Eric sudah turun menghampiri mereka hingga akhirnya Eric melihat pemaksaan yang dilakukan pria itu pada Dinda .
"Berani sekali kau menyentuhnya baj*ngan." ucap Eric sambil memberikan pukulan renyah di pipi pria itu.
"Kau yang berani sekali, apa-apaan kau mengganggu kami hah, memang kau siapa berani mengganggu kami?"pria itu tak kalah emosinya bahkan dia sudah melayangkan tinjunya pada Eric, tapi tetap saja dia tidak dapat mengenai Eric, terlebih badan atletis Eric lebih besar darinya.
Jangan tanyakan Dinda sekarang sudah sangat gemetaran melihat aksi di depannya, sontak saja Dinda berlari ke belakang Eric dengan cepat.
"Dia istri ku, kenapa? berani sekali kau menyentuhnya."Eric lagi-lagi melayangkan tinjunya pada pria itu, Dinda spontan memeluk tubuh Eric dengan gemetaran.
"Tuan sudah hiks.., nanti ada yang melihat kita." badan Dinda yang gemetaran dapat di rasakan oleh Eric, Eric membalas pelukan itu.
"Sudah tenanglah tidak apa-apa."ucap Eric menenangkan.
"Dengarkan aku baik-baik jika kau masih tetap di hadapanku, akan ku pastikan kedepannya kau akan di jemput ambulans di sini."ucap Eric pada lawannya yang sudah tergeletak di pasir pantai, pria itu langsung bangun dan meninggalkan keduanya.
Dinda masih gemetaran dengan hal tadi, tanpa sadar dia masih memeluk Eric erat. Eric pun sama dia masih setia mengelus punggung kecil itu dengan lembut, entah ada apa dengan perasaannya tiba-tiba dia sangat emosi ketika ada yang menyentuh Dinda selain dirinya.
*****
like, coment and vote guyss 🖤❤️
__ADS_1
guys ini baru pertama nulis adegan action , jadinya agak kaku , kalau ada kata yang aneh bilang aja di kolom komen yahh!! byee!