
Dinda telah selesai dengan kegiatan bersih-bersih, setelah itu ia bergegas untuk mandi.
Semua pekerjaan telah beres Dinda kerjakan termasuk memasak makan malam, Dinda membuat sayur bening, ayam goreng, cumi goreng dan sambal pedas.
"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah. " setelah Dinda selesai sholat isya, sudah ada suara mobil yang diyakini mobil Eric.
Dinda bergegas melipat mukenanya, lalu segera menyambut tuan rumah itu. Dinda telah membuka pintu utama dan Eric langsung masuk menerobos tanpa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam." ucap Dinda dalam hati.
Eric merebahkan badannya di sofa besar itu, lalu mengangkat kakinya ke atas meja.
"Buka."perintah Eric.
"Buka apa tuan."Dinda yang bingung apa yang harus di buka?
"Sepatuku, buka lalu ambilkan sendal rumah." apakah Eric sebenci itu dengan Dinda? sampai sepatunya pun harus di bukakan?
Dinda hanya menuruti perintah pria arogan di depannya dengan sabar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sudah tuan." kata dinda sambil berdiri dari duduknya.
Eric meninggalkan Dinda menuju kamarnya.
Kali ini Dinda tidak naik memanggil Eric untuk makan, karena kemarin Eric sepertinya tidak suka jika di panggil, tapi lama menunggu Dinda tidak melihat tanda-tanda kemunculan Eric.
"Apa aku naik aja yah panggil tuan?"tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi jika aku naik memanggilnya nanti dia akan marah lagi." dinda merasa serba salah dengan yang dilakukannnya.
Dinda menunggu sepuluh menit lagi, tapi Eric belum muncul juga.
"Ya sudahlah aku naik saja, dari pada di marahi lagi." akhirnya Dinda mutuskan untuk memanggil Eric saja.
__ADS_1
Pas sudah di depan kamar Eric, Dinda mengetuk pintu. Eric sebenarnya sudah menunggu dari tadi untuk dipanggil, karena Eric memang ingin merepotkan Dinda untuk harus naik memanggilnya makan.
Tok tok tok..
"Tuan makan malam sudah siap." Dinda sudah mengeluarkan suara setelah beberapa lama terdiam di depan pintu.
Eric hanya menampilkan senyum smirk dibalik pintu, setelah membuka pintu Eric keluar menuju ke bawah.
Eric makan dalam diam, tidak ada kehidupan di meja makan hanya suara dentuman sendok dan garpu ,itupun cuma Eric seorang. Sedangkan Dinda jangan di tanya dia ada dimana, tentu saja bukan makan bersama suaminya di meja makan, melihatnya saja Eric jijik, apalagi makan bersama.
Setelah makan Eric ke ruang tengah mengerjakan sebagian dokumen yang belum sempat ia tuntaskan di kantor tadi. Dinda membersihkan meja makan dengan telaten, Eric hanya melirik sekilas apa yang di kerjakan gadis itu.
Dinda memang belum pernah makan di meja makan, ia takut Eric akan memarahinya jika makan di sana, jadi ia makan di meja dapur didalam saja. Mata Eric selalu saja mencari keberadaan gadis itu, di bertanya pada dirinya sendiri, dimana Dinda makan kenapa ia tidak melihatnya makan di meja makan?
Eric berpura-pura masuk ke dapur untuk mengambil air tanpa suara, walau sebenarnya dia bisa menyuruh Dinda yang melakukannya. Mata Eric melihat Dinda makan dalam diam di meja sudut dapur dengan diam.
Eric sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi dia harus menyingkirkan gadis yang tengah makan itu , dia tidak menyukai ke beradaan gadis itu di rumah ini. Dari dulu ia membangun rumah ini untuk dia tinggali bersama orang yang di cintai nya, tapi orang tuanya malah menjodohkannya dengan gadis biasa saja dan yatim piatu.
Pagi ini Bu Hasna membuatkan nasi goreng dan telur dadar untuk suaminya. Hari ini pak Hasan dan Bu Hasna berencana ingin mengunjungi putra dan menantunya itu, berhubung hari ini weekend jadi Eric pasti ada di rumah.
"Iyya Maa.."pak Hasan baru turun setelah sepuluh menit setelahnya.
"Papa lama benget sih di atas dari tadi Mama teriak."adu sang istri dengan kening yang sudah berkerut.
"Biasa Ma, Papa nanggung tinggal satu level lagi tadi." pak Hasan memang sudah sangat lengket dengan game puzzlenya sampai-sampai sering terlambat makan. Hal itu sudah terjadi sejak pak Hasan mengalihkan gelar CEO nya pada putranya.
"Lama-lama game Papa itu lebih penting dari makan dehh kayaknya."ucap Bu Hasna.
"Nggak mungkin lah Mah, kalau nggak makan gimana mau main game puzzlenya cepat naik lavel kalau lapar."
"Terserah Papa saja, duduk nanti makanannya dingin lagi." Bu Hasna hanya bisa memutar bola matanya lihat tingkah calon aki-aki di depannya.
*****
__ADS_1
Pagi ini Eric tidak ke kantor sebab weekend, ia memanfaatkan waktunya untuk olahraga di pagi hari. Rumah yang Eric tempati memang punya ruangan gym, jadi Eric tidak repot untuk keluar rumah.
Sedangkan Dinda seperti biasa, setelah sholat subuh dia sudah mulai membersihkan rumah, setelah itu dia membuat sarapan. Tugas Bi Sum memang hanya pergi ke pasar untuk belanja bahan masakan, dia sudah di beritahu oleh Eric untuk tidak mengerjakan tugas yang lainnya.
"Non, ini Bibi udah dari pasar belanja" Bi Sum membawa barangnya di westafel untuk dicuci terlebih dahulu .
"Bi Sum, sudah biar Dinda aja yang cuci buah sama sayurnya, Bibi ke kamar saja istirahat, pasti capek kan dari pasar?" Dinda menghentikan aktivitas Bi' Sum sambil mendorong Bi Sum ke arah kamarnya. Memang, Dinda memberitahu Bi' Sum jika kamar ART itu dia yang menempatinya .
Dinda telah menyelesaikan masakannya, dia beralih mengerjakan tugas yang lain. Kali ini dia di suruh oleh Eric semalam mencuci sprei tempat tidur Eric yang super tebal itu, sampai Dinda kewalahan mencucinya.
Sangking banyaknya yang Dinda cuci, tangannya sampai mengeriput karena terlalu lama berendam di air. Saat Dinda menjemur sprei, Eric melihatnya dari atas, memang ruangan gym itu menggunakan kaca jadi Eric dapat melihat semua aktivitas orang-orang di bawah.
Dinda tampak kesusahan mengangkat sprei tebal itu ke atas jemuran, setelah Dinda berhasil menjemurnya, dia langsung berjongkok di atas rumput mengatur sambil nafasnya , sungguh sprei itu sangat berat. Semuanya tampak jelas Eric melihatnya dari atas, lagi-lagi perasaan tidak tega itu kembali menyerang tapi dia segera menyingkirkan perasaan itu, dia tidak ingin terjebak lebih lama lagi dalam pernikahan ini.
Tok tok tok..,
"Assalamualaikum? Eric, Dinda ini mama sama papa datang." mama dan papa Eric langsung masuk ke dalam rumah mewah itu dengan mengucap salam terlebih dahulu.
Dinda yang mendengarnya segera ke ruang depan untuk melihat mama dan papa.
"Assalamualaikum sayang , apa kabar kamu??"mama Hasna menanyakan kabar menantunya itu.
"Wa'alaikumsalam ma, Dinda baik."
"Eric mana? kok nggak keliatan."sekarang giliran papanya yang bertanya
"Tu.., Mas Eric ada di atas Pa."hampir saja Dinda kelepasan mengatakan Tuan di depan Papa dan Mama.
"Mama sama Papa duduk dulu, Dinda panggil mas Eric sebentar." pamit Dinda segera memanggil Eric.
*****
like , coment and vote guyss 🖤❤️
__ADS_1
maaf jika up nya selalu lambat yahh.