Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Sifat yang berubah-ubah.


__ADS_3

Tok...tok...tok...


"Tuan makanannya sudah siap." teriak Dinda dibalik pintu.


Eric berjalan menurut laptop didepannya lalu berjalan menuju pintu menghampiri Dinda.


"Tuan makan malamnya sudah siap." setelah mengabarkan Eric, Dinda kembali ke dapur.


Eric makan malam seperti biasa tetap sendiri, Dinda sendiri berada di dapur menyelesaikan pekerjaannya kembali.


Selesai makan malam Eric kembali ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Malam ini Juna pulang lebih awal dari biasanya.


"Ma.., Juna ke kamar dulu yah." pamit Juna lalu pergi dari ruang tengah.


"Iyyaa."


Ting..


Mendengar ada pesan masuk Juna membuka berlari mengambil ponselnya di atas tempat tidurnya setelah keluar dari kamar mandi.


"082*********, itu nomornya Dinda." melihat isi pesan itu Juna langsung tersenyum.


Ibu jarinya bergerak lincah telah save nomor Dinda tidak lupa mengirim pesan pertama.


"Hai!" Juna masih terus memandangi ponselnya berharap agar dibalas cepat.


Lama menunggu tidak ada balasan Juna meletakkan ponselnya kembali.


"Apa dia sudah tidur jam segini?" Juna melihat jam dinding yang baru menunjukkan 19:55.


"Tunggu saja dulu nanti juga dibalas." Juna merebahkan tubuhnya di samping ponselnya sambil mengingat kejadian tadi pagi, dimana Dinda menolak uluran tangannya.


"Gadis itu sangat membuatku semakin penasaran saja." Juna senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu.


Dinda baru masuk ke kamarnya setelah selesai membersihkan dapur dan beberapa tugas yang bisa dilakukannya malam ini, supaya besok pagi tinggal memasak saja.


Dinda meraih ponselnya yang di charger di atas meja belajar duduknya, dia mengecek ponselnya siapa tahu ada pesan yang masuk tadi.


Matanya tertuju pada nomor tak dikenal berada paling atas.


"Siapa dia? dari mana mengambil nomorku?" Dinda memang jarang memberikan nomornya pada orang yang menurutnya tidak terlalu penting, di ponselnya tidak mencapai Lima puluh kontak nomor.

__ADS_1


Dinda meletakkan kembali ponselnya lalu beralih keluar untuk mencuci pakaian Eric. Eric melarang Dinda mencuci pakaiannya menggunakan mesin cuci, kecuali mencuci gorden dan selimut Eric memberikannya izin untuk menggunakan mesin cuci.


Tok...tok...tok...


"Kenapa?" tanya Eric sudah membuka pintunya.


"Dinda mau ambil pakaian kotor Tuan." jawabnya.


"Kau mau mencuci pakaian semalam ini?" setau Eric mamanya tidak pernah mencuci di malam hari, katanya nanti masuk angin. Lalu kenapa gadis di depannya ini ingin mencuci di malam hari?


"Iyya Tuan, mumpung tugas Dinda sudah selesai." jawabnya kembali.


"Besok saja, ini sudah malam." ucap Eric melarang Dinda, sebenarnya Eric hanya tidak ingin Dinda sakit karena mencuci pakaian di malam hari.


"Tapi Tuan, besok Dinda ada kuliah jam delapan pagi, nanti terlambat kalau mencuci pagi." Dinda bersih keras ingin mengerjakan tugasnya itu sekarang, takutnya besok dia terlambat masuk di jam kuliah dosen killer yang terkenal sangat garang itu.


"Setelah kau pulang kau cucilah pakaian itu, tidak usah malam ini, nanti kau sakit aku lagi yang repot mengurus mu, aku malas mengurus orang sakit!" Eric tetap melarang Dinda walau dengan kata-kata yang pedisnya.


"Baiklah besok saja kalau begitu." ucap Dinda pelan sambil menghela nafasnya.


"Kembali ke kamarmu, ini sudah malam." usir Eric.


"Tanpa disuruh ini Dinda juga mau pergi kok." ucap Dinda yang terdengar seolah berani beradu argumentasi dengan Eric.


"Dinda bilang sudah mau pergi ke kamar, bukan apa-apa." Dinda sontak melangkah mundur saat Eric melangkah keluar dari kamarnya.


"Sungguh??" Eric semakin maju berjalan menghimpit tubuh Dinda ke arah anak tangga.


"I-iyya Tuan Dinda nggak ada maksud yang lain." Dinda berbalik melihat belakangnya yang sudah hampir sampai ke arah tangga.


"Akkhh" Dinda menjerit saat menoleh kembali Dinda begitu kaget karena tiba-tiba wajah Eric sudah begitu dekat dengan wajahnya.


Untung saja Eric memegang pinggangnya jika tidak sudah dipastikan Dinda akan bergelinding sampai ke bawah.


"Jangan berteriak, suaramu sangat mengganggu." mereka masih di posisi yang sama, Eric sangat betah menatap mata yang berwarna hazelnut Dinda, menurutnya itu sangat indah.


"Tuan." Dinda sudah melepas tangannya yang semula berada bergantung di leher Eric.


"Tuan." Dinda mencoba memanggil Eric sekali lagi.


Eric menarik tubuh Dinda lalu dibaliknya sehingga Eric yang sekarang berada di depan tangga.


"Pergilah tidur!" Eric menyuruh Dinda kembali ke kamarnya setelah tersadar barusan ia yang mulai menyentuh Dinda, walau dia melarang Dinda untuk menyentuhnya.

__ADS_1


"Iyaa Tuan." Dinda berlari kecil dari hadapan Eric membuatnya menyunggingkan senyumnya yang sangat tipis.


Eric berbalik melihat Dinda yang masih berlari kecil menuju kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamarnya Dinda langsung menutup pintunya lalu bersandar pada pintu kamarnya.


Dinda menyentuh jantungnya yang berdetak kencang bahkan lebih kencang saat dia di interview oleh dosen killer-nya.


"Hei berhenti berdetak, kita sudah tidak ada di depannya." Dinda memerintah jantungnya yang belum berhenti berdetak kencang.


Dinda ke arah kasur tipisnya lalu mulai berbaring sambil memakai selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Ting...


Dinda membuka selimutnya sampai area kepala lalu melihat ponselnya yang menyala menandakan ada pesan yang masuk.


Dinda mengambil ponselnya di atas meja lalu melihat nomor yang tidak dikenalnya itu yang mengirim pesan kembali.


"Ini aku, Juna yang kau tabrak beberapa hari yang lalu." Begitulah isi chatnya.


Dinda sudah ingat siapa itu Juna.


"Oh kamu, Iyya aku nggak akan lepas tanggung jawab, aku akan bayar segera." Dinda membalas chat Juna.


Melihat pesan Dinda masuk membuat Juna senyum-senyum sendiri karena doi sudah membalas chatnya.


" Ehh aku nggak minta uangnya kok, nggak apa-apa cuman layarnya aja yang pecah, bukan masalah besar." ini pertama kalinya Juna mengirim pesan yang begitu panjang itu karena Dinda.


"Maaf, aku akan tetap bayar, Makasih." balas Dinda setelah beberapa saat.


"*Terserah kamu aja deh yang penting jangan terbebani."


"Btw kamu save nomor aku yah*.." isi chat Juna.


"Iyya makasih." balas Dinda lalu meletakkan kembali ponselnya tanpa melakukan permintaan Juna pada pesan terakhirnya.


Dinda tidak menyimpan nomor laki-laki kecuali Bapaknya, Pak Hasan dan Eric. Kalau soal nomor Eric Dinda sudah lama save nomornya karena nanti jika ada sesuatu yang penting untuk disampaikan pada Eric dia tinggal meneleponnya.


Dinda menatap langit-langit kamar sambil memikirkan sifat Eric padanya yang seringkali berubah-ubah, kadang baik, kadang memarahinya sampai melukainya bahkan sering juga berkata yang sangat menyakitkan.


"Apa Tuan punya pacar yah sampai bisa membenciku." tebak Dinda ngasal.


"Bisa ajakan dia membenciku karena kita di jodohkan jadi dia tidak bisa besama pacarnya itu." Lama Dinda menatap langit-langit sambil memikirkan Eric tanpa sadar dia sudah berada di alam bawah sadarnya.

__ADS_1


-----


__ADS_2