
Bu Hasna yang semakin membaik dan juga tidak menahannya lagi saat mau pulang, akhirnya malam ini Eric dan Dinda sudah siap kembali ke rumahnya.
"Kapan kamu ke sini lagi?" Bu Hasna menarik Dinda ke dalam pelukannya, Bu Hasna sebenarnya masih sangat ingin anak dan menantunya itu bermalam lebih lama di krumahnya, karena Dinda yang selalu menghidupkan suasana di rumah.
"Ya, Dinda ikut Mas Eric aja Ma." ucap Dinda.
"Ma, ini saja dinda belum sampai ke rumah, tapi Mama sudah menanyakan lagi kapan Dinda ke sini." Eric sering merasa, jika dirinya itu bukannya anak kandungnya melainkan Dindalah yang menjadi anak kandungnya.
"Ya, karena Mama masih mau tinggal dengan Dinda. Ya kan sayang." Dinda hanya mengangguk menanggapi mertuanya yang masih belum melepaskan genggaman tangannya.
"Iyya deh, Dinda itu kan memang anak kandungnya Mama." ucapnya pasrah.
"Udah-udah, kalian pulang sana, nanti keburu larut ini." ucap pak Hasan melerai drama ibu dan anaknya.
"Iyya, kita pamit yah. Assalamualaikum."
"Assalamualaikum Ma, Pa." mereka sudah meninggalkan kediaman pak Hasan, Bu Hasna langsung merasa sedih karena, rumah terasa sangat sepi.
"Huft, anak-anak sudah pergi, rumah sepi lagi deh." ucap Bu Hasna yang sedih ditinggal anak dan menantunya.
"Iyya rumah pasti sepi tapi, mereka juga butuh privasi Ma, apalagikan mereka masih terbilang pengantin baru." ucap pak Hasan menenangkan istrinya.
Mereka sudah tidak melihat mobil Eric lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk istirahat.
Di perjalanan pulang Eric dan Dinda sudah tidak terasa canggung seperti biasanya, sekarang mereka sudah tidak saling diam-diaman saat di dalam mobil.
"Mas, emang perusahaannya Mas, jauhan mana? dari rumahnya Mas atau dari rumah Papa?" sampai sekarang Dinda tidak tahu dimana dan apa nama perusahaan yang dikelola oleh Eric, karena Eric yang menyembunyikan soal pernikahannya jadinya Dinda juga tidak bertanya banyak.
"Yah lebih jauh dari rumah, kalau dari rumah Papa hanya butuh beberapa menit sudah sampai ke kantor." ucap Eric.
"Ohh.." seperti biasa jika Dinda sudah di dalam kendaraan pasti tidak bisa terlalu lama berbincang, pasti dia akan tertidur lagi.
Saat Eric berbalik dia melihat kalau Dinda sudah berlayar ke alam mimpinya lagi.
"Hah seperti biasa, tidur lagi."
*****
Pagi ini Leo akan berangkat kembali ke LA, tapi kali ini dia hanya kembali sendiri tanpa Naura.
__ADS_1
"Honey, kamu jangan lama-lama yah di sana." ucap Naura manja pada Leo.
"Iyya honey aku nggak lama kok." Leo memeluk Naura dari samping.
Leo berencana kembali ke LA karena ingin mengurus semua beberapa berkas, Leo juga berencana akan menetap di Indonesia untuk sementara waktu, karena proyek yang dikerjakannya memang sangat sulit jika harus pulang balik Indonesia-LA.
"Aku pergi dulu, byee."
"Byee."
Leo juga tengah mencoba memperbaiki hubungannya dengan Naura, salah satunya dengan memutuskan pacar gelapnya yang di LA.
"Berarti aku sendirian di apartemen dong? ishh bosan banget, mana nggak punya teman lagi di sini." semenjak putusnya Naura dan Eric, teman-temannya juga menghilang. Mungkin karena, memang semua temannya itu bekerja di Pratama Group makanya mereka tidak berteman lagi dan lebih membela CEO-nya.
Naura sudah beberapa bulan di Indonesia, tapi sampai sekarang dia masih belum bertemu keluarganya, terkadang dia juga sangat merindukan keluarganya, meskipun dia tahu jika dia pulang pasti akan di marahi habis-habisan oleh mamanya.
Di rumah bernuansa Eropa sendiri sepasang suami-istri yang baru saja selesai sarapan. Saat Dinda mau kembali ke dapur untuk sarapan sendiri, Eric menahannya dan meminta Dinda makan di meja makan bersama-sama.
Semalam juga Eric sudah meminta Dinda agar tidak tidur di kamar samping dapur.
Flashback on.
"Hei bangunlah, kita sudah sampai."
"Emhh."
"Kita sudah sampai." Dinda mengucek matanya sambil menetralkan pandangannya.
"Oh, udah sampai."
"Iyya, ayo turun."
Eric dan Dinda sudah masuk ke dalam rumah.
"Mas, Dinda ke kamar yah, udah mengantuk." Dinda baru akan menuju kamarnya tapi, Eric keburu menahannya dengan membentangkan tangannya di depan Dinda.
"Kau mau tidur di kamar itu lagi?" tanya Eric.
"Iyya, terus di mana lagi, kan memang di situ kamar Dinda."
__ADS_1
"Tidak usah, kau tidur di kamar ku saja, kita tidur bersama di kamar. Bukannya kita akan memperbaiki hubungan ini, jadi kita memulainya dengan tinggal satu kamar." Eric menarik tangan Dinda menaiki tangga satu persatu.
"Tapi Mas, barang-barangnya Dinda masih banyak di sana." tunjuk Dinda ke arah kamarnya.
"Iyya besok saja kau pindahkan." Dinda hanya menuruti apa perintah Eric saat ini, berhubung dia juga sudah sangat mengantuk.
Dan malam ini Eric memutuskan untuk satu kamar dengan Dinda, dia tidak ingin ada jarak di antara mereka lagi.
Flashback off.
"Mas belum berangkat?" tanya Dinda saat melihat Eric masih duduk di sofa ruang tamu, padahal sudah menunjukkan jam 07:35.
"Kamu sendiri nggak ke kampus?" bukannya menjawab Eric malah kembali bertanya.
"Ini Dinda udah mau berangkat, pekerjaan Dinda juga udah selesai." meski Eric dan Dinda sudah mulai akur, tapi Dinda akan tetap melaksanakan tugasnya di rumah ini. Dia tidak ingin Eric malah salah paham lagi, karena memberikan kesempatan pada hubungan ini, Tapi ia malah bersantai tidak mengerjakan tugasnya.
"Ya sudah ayo berangkat bersama." Eric menghabiskan susu yang sudah di buatkan Dinda.
"Hah? tapi Mas, Dinda singgah di dekat lampu merah saja yah." Dinda sangat malas jika segerombolan mahasiswa itu bertanya lagi dia diantar siapa.
"Kenapa harus singgah di sana, kan kampus mu tetap dilewati nanti."
"Dinda nanti ditanya dengan yang lain, kenapa Dinda di antar menggunakan mobil, karena biasanya Dinda hanya menggunakan angkot atau ojek." ucap Dinda lesu.
Sekarang Eric mengerti kenapa Dinda saat itu menolak diantar sampai di depan kampus.
"Tidak apa-apa, kau akan tetap singgah di depan kampus. Titik." jika Eric sudah berkata apa yang dia akan lakukan, maka keputusannya tidak akan bisa di ganggu gugat lagi.
"Ya sudah kita pergi sekarang mumpung masih pagi, nanti kalau banyak orang bisa bingung mereka."
"Ayo."
"Bi', Dinda pergi dulu yah." Dinda menghampiri Bi Sum di dapur yang sedang menyusun belanjaan di dalam kulkas, dia meraih tangan Bi Sum lalu tanpa ragu menciumnya layaknya seorang anak berpamitan dengan ibunya.
"Iyya Nak." ucap Bi Sum.
Eric tersenyum melihat Dinda yang tidak membeda-bedakan seseorang, walaupun Bi'Sum hanya ART tapi dia tanpa ragu mencium tangannya. Lagi-lagi Eric takjub dengan kepribadian Dinda.
*****
__ADS_1
Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️