
Setelah kejadian dimana Dinda mengungkapkan perasaannya, terlihat ada hal yang berbeda pada diri Eric. Malam ini terasa sangat sunyi bagi keduanya baik Dinda maupun Eric. Dinda agak takut membuka pembicaraan, karena Eric juga tengah sibuk dengan pekerjaannya, takutnya nanti Dinda malah mengganggu. Lama duduk diam di atas tempat tidur, Dinda memilih turun ke dapur untuk melakukan pekerjaan yang bisa mengalihkan pikirannya. Saat lewat di depan Eric sampai menutup pintu kamar kembali, Eric sempat melirik sambil menghembuskan nafasnya pelan.
"Mau kemena dia malam-malam begini?" ucap Eric lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Di dapur, Dinda hanya memakan buah anggur, entah mengapa dia ingin memakan buah itu. Saat kembali ke kamar, Eric sudah tidur lebih dulu, Dinda ikut bergabung, setelah beberapa saat dia juga sudah terlelap.
Di kediaman Rian, dia masih setia berada di depan laptop untuk mencari beberapa sumber terkait soal Juna.
Drtt....drt...drtt....
"Halo!?" ucap Rian setelah mengangkat telfonnya.
"Pak, proyek yang di Singapore ada trouble. Katanyaa ada salah satu karyawan yang tidak sengaja mengerjakan pekerjaannya."
"APA!? Jadi bagaimana? Apa perlu saya dan pak Eric pergi melihatnya?" Tanya Rian.
"Menurut saya pak, sebaiknya anda dan pak Eric perlu memantau perkembangan proyek itu."
__ADS_1
"Apa besok saya harus ke sana?"
"Sebaiknya begitu pak, melihat waktu pengerjaan proyeknya juga sangat mepet." saran orang di seberang sana.
"Mmhh.. baiklah, saya akan melihat ticket ke Singapore malam ini, jika ada saya Dan pak Eric akan sampai besok pagi."
Tuut...tuutt..tuutt...
Setelah memutus sambungannya, Rian langsung mencari ticket penerbangan di situs online malam ini.
"Huft...untung saja masih ada yang kosong." Rian langsung memesan dua ticket VIP Dan sengera menelfon Eric.
Drtt...drtt..drtt...
"Ck, siapa sihh malam -malam begini malah menelfon, orang mau istirahat juga!" gerutu Eric, tapi tetap mengambil ponselnya.
"Mhh apa! kenapa menelfon malam-malam begini, gua udah tidur nyeyak, lu malah ganggu."
__ADS_1
"Udah dulu tidur lu. Sekarang, siapin pakaian lu untuk beberapa hari, kita akan ke Singapore jam dua dini hari!" ucap Rian to the point.
"APA!? untuk apa ke Singapore?" Tanya Eric yang masih belum tahu persoalan.
"Katanyaa ada trouble masalah proyek di sana, makanya kita mau mantau di sana dulu untuk beberapa hari."
"Beberapa hari? Berarti belum tentu ada kepastian untuk pulang?" Tanya Eric yang masih ngelag.
"Iyyalah, kita di sana harus mantau semua perkembangan proyek. Sebenarnya gua atau lu sihh yang CEO-nya?" Rian yang tengah sibuk mengurus pakaiannya, emosi medengar pertanyaan konyol Eric.
"Udah, kemas pakaian lu yang diperlukan aja, kalau pakaian biasa lu bisa beli di sana nanti."
Tuut...tuutt.. tuutt...
Eric segera turun dari tempat tidur ukuran king size itu untuk segera siap-siap. Dinda yang sangat nyenyak tidur, sampai-sampai tidak mendengar suara bising yang di ciptakan Eric, karena tengah sibuk dengan pakaiannya.
Setelah semua perleghkapannya telah selesai, Eric juga telah memekai pakaian kasual dan topi ber-merk mewah untuk melengkapinya.
__ADS_1
"Sayang, mas pergi dulu, jaga dirimu baik-baik!" ucap Eric dalam hati, tidak lupa juga ia mengecup kening istrinya lalu menatapnya dengan lama.
Eric tidak tega membangunkan istrinya, karena tidurnya sudah sangat nyeyak. Saat keluar kamar, Eric merasa sangat beratt harus meninggalkan Dinda sendirian di rumah. Jadi, dia hanya meminta Bi' Sum dan Mang Diman untuk tinggal menemani Dinda sementara di rumah.