
Dalam perjalanan pulang ke kediamannya, Dinda menyempatkan diri berkunjung di toko roti untuk bertemu teman-temannya. Dia juga sudah lama tidak berkunjung ke sana.
Saat masuk di dalam tampak pengunjung tengah ramai. "Assalamualaikum.." Dinda masuk ke ruang dapur untuk membantu temannya yang sepertinya akan kesusahan.
"Ehh Din, tumbenn datang??" Tanya Risa yang kaget dengan kedatangan Dinda.
"Kebetulan pulang cepat, makanya nyempetin singga." Dinda menyumpan tasnya lalu mencuci tangannya dan mulai membantu.
Setelah meeting dengan petinggi perusahaan, Juna masuk ke ruangan Jefri.
"Jeff!? gua bisa minta tolong nggak?"
"Hmm yah tergantung lu mau dibantu apaan!" jawab Jefri yang masih menatap laptopnya.
"Gua cuman mau di bantuin cari data tentang Dinda."
Jefri mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Juna. "Dinda?" Juna mengangguk membetulkan.
"Dinda yang kita ketemu kemarin itu?" "Iyya. Junior kita di kampus."
"Ohh, ok. Tapi gua bisanya nanti malam, sekarang gua mau nyelesaiin berkas dari pak Richard."
"Ok lah, gua tunggu yah nanti malam?" ucap Juna sambil menepuk bahu Jefri lalu melangkah keluar ruangan.
Sedangkan di gedung kantor yang tinggi menjulang itu, masih ada Eric yang memikirkan perasaannya pada Dinda.
"Aku sudah yakin kalau aku itu sudah mencintainya. Tapi, waktu untuk mengucapkannya belum nemu." batin Eric.
"Jika aku mengungkapkannya, apa Dinda punya perasaan yang sama denganku? bagaimana jika dia tidak mencintaiku? bagaimana jika dia juga tertarik dengan si Arjuna itu?" Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, sampai tidak sadar jika Rian ada di dalam ruangannya.
"Nih orang ngelamunin apa lagi siih?" batin Rian yang masih berdiri di depan pintu sambil menggelengkan kepalanya. Pasalnya dari tadi selesai meeting, saat itu juga Eric lebih banyak melamun dan kurang fokus.
__ADS_1
"Oii!! Ntar kerasukan setan ngelamun terus."
Eric sontak kaget dan menoleh ke arah Rian. "Ck. Kenapa lagi?" tanya Eric dengan nada kesalnya.
"Lu mau nginep di kantor?" saat ini memang sudah hampir maghrib, dua puluh menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Selama itu juga Eric melamun dengan pikirannya melayang kemana-mana.
"Nggak lah!"
"Liat tuh jam!" tunjuk Rian pada jam dinding yang besar itu. "Udah hampir jam enam. Semua orang juga sudah pulang, tinggal security yang ada."
Eric kaget melihat jam dinding itu, rupanya dia terlalu banyak melamun sampai lupa untuk pulang.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?"
"Ya kali setiap lu ngelamun gua selalu ada buat ngingetin waktu. Makanya jangan selalu melamun. Mikirin apa sih sampe melamun nggak nginget waktu?" omel Rian pada sahabatnya itu.
"Nggak ngelamunin apa-apa!" ucap Eric sambil mengecek ponselnya yang terdapat panggilan tak terjawab dari Dinda sebanyak empat kali.
"Hhm!" jawab Eric singkat berhasil membuat Rian nyengir mendengarnya.
"Kemana suami yang awalnya mau menyiksa istrinya supaya istrinya itu minta cerai?" ejek Rian, sedangkan Eric hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Sekarang udah ngelamunin sampe lupa waktu." sambung Rian. "Bukan urusan lu!" ucap Eric sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Ya jelas urusan gua juga dong, kan lu udah janji kalau ada masalah bakal cerita. Nah kalau lu ada masalah cerita ajaa, ya bisa aja gua kasih saran."
"Lu nggak ngerti, lu belum menikah."
"Heh jangan ngeremehin gua soal cinta yahh, walaupun jomblo, gua lebih handal dalam soal ini dari pada lu." ucap Rian yang tak terima dengan ucapan Eric.
Selesai berdebat mereka-pun meninggalkan kantor untuk kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan di kediaman Juna, dia sedang melamun di balkon kamarnya. Sama halnya dengan Eric, dia memikirkan perempuan yang sama yakni, Dinda. Bedanya hanya dia masih memikirkan apa Dinda itu benar-benar sudah menikah ataukah belum?
__ADS_1
"Jun?" Panggil Naura saat masuk ke dalam kamar adiknya itu.
"Kemana dia?" ucap Naura yang tidak menemukan sang adik di dalam kamarnya, tapi beberapa waktu kemudian dia melihat pintu kamar yang menuju balkon terbuka, dia yakin Juna berada di balkon.
"Ngapain di sini?" Juna yang kaget melihat kedatangan kakaknya, sontak langsung menoleh ke arahnya.
"Eh kakak! nggak ngapa-ngapain, cuman cari udara segar aja." ujarnya bohong.
"Masuk, di sini dingin, ngapain juga melamun di balkon, mikirin apa?"
"Emhh, nggak cuman soal pekerjaan."
"Nggak! nggak mungkin soal kerjaan, kakak tahu itu!" Naura tidak percaya dengan Juna begitu saja. "Soal perempuan?" tebak Naura ngasal, tapi Juna malah meng-iyyakan ucapan kakaknya.
"Iyya, bagaimana kakak bisa tahu?" Naura tertawa melihat Juna, yang seakan-akan baru saling mengenal beberapa bulan. Padahal Naura tahu sekali tentang adiknya itu, jika Juna di marahi oleh sang ayah pak Johan, bukannya pergi mengadu ke sang ibu, tapi malah pergi mengadu dan menagis di kakaknya.
"Kenapa lagi pacarmu yang sekarang?" Naura ikut duduk di sebelah Juna.
"Belum pacar kak masih proses, tapi ada masalah sedikit." Naura menaikkan alisnya tanda meminta Juna melanjutkan ucapannya.
"Masalah apa?"
"Aku belum tahu dia itu sebenarnya sudah menikah atau belum." Naura membulatkan matanya dengan kaget.
"Yah pastikan dulu, jangan sampai kau memacari istri orang." ucap Naura yang di angguki Juna.
"Dia sangat cantik." Juna yang senyum sendiri membuat Naura jadi penasaran dengan foto gadis yang dimaksud Juna.
"Ada fotonya?" Juna mengangguk lalu mengambil ponselnya membuka galeri yang berisi gadis incarannya itu.
"Ini!" Naura mematung melihat foto yang di perlihatkan Juna.
__ADS_1
"Dia!?"