
Happy Reading!!!
Sebelum menyimpan kembali ponsel Dinda, Eric terlebih dulu menyalin nomor Juna lalu mengirim ke kontaknya. Tak lupa juga ia menghapus jejak yang ia tinggalkan di ponsel Dinda. Sedangkan di sana sudah ada Juna yang sedang menunggu dengan sabar balasan dari Dinda, karena sudah melihat ceklis dua tersebut sudah berubah warna menjadi biru.
"Kenapa lama sekali dia tidak membalas pesanku?" Juna masih dengan kesabaran penuhnya menanti balasan Dinda, hingga hampir satu jam ia tidak mendapat balasan, akhirnya Juna memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, Dinda pergi ke kantor bersama Eric, tapi hanya sampai di tempat biasa. "Hati-hati saat menyebrang!" ucap Eric setelah Dinda menyalimi tangan kanannya. "Iyya Mas. Assalamualaikum!" setelah Dinda sudah tidak terlihat lagi, Eric melajukan mobilnya menuju ke dalam kantor.
"Assalamualaikum. Pagi banget datangnya!" sima datang sejak tiga puluh menit yang lalu dan Dinda baru datang.
"Iyya dong, calon istri Chanyeol harus rajin bekerja." Sima yang memang sangat tergila-gila jika menyangkut soal Chanyeol EXO, idol Korea yang menurutnya sangat tampan itu. Dinda saja sudah biasa jika mendengar Sima yang meng-halu setiap harinya tentang Chanyeol, bahkan jika sehari dia tidak melihat dompetnya yang berisi foto Chanyeol, Sima akan merasa kurang semangat bekerja. Mengherankan bukan? jika biasanya seseorang akan menyimpan foto keluarga ataupun pasangannya di dalam dompet, tapi Sima justru menyimpan foto Chanyeol sebagai penyemangatnya.
"Kamu ini, setiap hari aja nge-halu yang tidak pasti." ujar Dinda lalu duduk di kursi kerjanya.
"Ric, besok keluar yok main golf! mumpung David sama Leon ada!" Rian yang baru saja masuk di ruangan, langsung mengajak Eric untuk bermain golf bersama. David dan Leon juga baru datang dari Makassar untuk mengerjakan beberapa projek perusahaan mereka masing-masing, makanya mereka memanfaatkan waktu itu untuk berkumpul bersama. Seandainya saja hubungan Eric Dan Leo tidak retak karena perempuan, mungkin mereka akan berencana pergi bermain golf ber-lima.
"Besok gua liat, sempat atau nggak." ujar Eric.
__ADS_1
"Ya elahh, ayolah mumpung David ama Leon ada, jadi kita bisa pergi seperti biasa."
"Iyya gua bakal sempetin dehh. Ngomong-ngomong gua bisa minta bantuan lu sedikit? lu bisa bantu gua nggak?"
"Yah tergantung lu mau di bantuin apa?"
"Gua cuman mau lu cari tau detail, asal usul dan semuanyalah tentang Juna. Arjuna yang kemarin itu perwakilan dari perusahaan Leo."
"Ooh ituu, emang lu punya masalah apa ama dia?" Tanya Rian yang penasaran, karena Eric yang baru meminta bantuan untuk mengorek informasi seseorang, biasanya dia dengan mudah melakukan itu sendiri.
"Panjang ceritanya." ujar Eric dengan lesu.
"Jadi gini," sambil Eric menutup laptop yang di depannya. "Saat honeymoon ke Bali beberapa bulan yang lalu, ada pria yang selalu melirik bahkan dia dengan sengaja menatap Dinda di depanku, sambil tersenyum. Memang pria itu terlihat seumuran dengan Dinda, tapi tingkahnya sama seperti pria hidung belang yang ada di club jika sedang menatap wanita dengan tatapan laparnya itu, makanya aku menegurnya ketika pria itu dengan lancangnya menatap paha Dinda karena roknya tidak sengaja tersingkup ke atas. Tapi saat ku tegur bukannya berhenti dia malah tetap melakukannya, dan yang parahnya saat gua bilang kalau Dinda itu istri gua, dia malah tertawa dan mengira jika aku ini adalah ayahnya dinda."
Rian tertawa mendengar potongan cerita Eric. "Lu memang harus jaga Dinda lebih baik lagi, kalau lu campakin, masih banyak pria yang mengatri untuknya, yahh termasuk gua sihh, karena memang dia masih muda dan memang cantik."
"Jangan macem-macem lu yah!!" ucap Eric dengan emosi.
__ADS_1
"Iyya iyya, cepet lanjutin cerita lu!"
"Nah setelah kejadian di pesawat itu, gua mulai mencari tahu tentang pria itu, dan ternyata dia adalah Arjuna itu, dia senior Dinda di kampus."
"Waduh! leluasa dong si Arjuna itu deketin Dinda." potong Rian saat Eric masih bercerita.
"Iyyalah, orang satu kampus, makanya saat-saat Dinda belum magang di sini, gua punya suruhan buat mantau dia di kampus, takutnya si Juna itu malah ngelunjak lagi, mana dia udah punya nomor Whatsapp Dinda lagi." Eric bercerita disertai dengan emosi jika selalu mengingat Juna.
"Gercep banget udah dapat nomor Whatsapp-nya Dinda."
"Makanya gua mau minta tolong tentang si Juna itu." ujar Eric.
"Oh ok! Jadi inti permasalahan ini adalah.., lu cemburu jika Juna mendekati Dinda, right?" tebak Rian dengan tepat.
"Sebenarnya bukan cemburu, tapi gua nggak suka jika ada yang mendekati Dinda, dia itukan istri gua!" ucap Eric yang tidak mengaku jika ia cemburu.
"Itu namanya juga cemburu be*o!!" Rian dengan kesal melempar gulungan-gulungan kertas kecil yang dari tadi dia gulung sambil mendengar cerita Eric.
__ADS_1
"Iyya deh, iyya terserah lu, yang penting gua butuh info dari si Juna itu."
"Iyya segera gua cari." setelah bercerita dengan Eric, Rian kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya.