Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Perkara Hutang.


__ADS_3

Seperti biasa, saat Eric sampai sudah ada Rian di ruangannya.


"Wihh.., lemes banget kelihatannya." Rian menghampiri sahabatnya yang masih mengontak-antik laptop di depannya.


Hari ini entah kenapa Eric berbeda dari hari-hari yang lainnya, Eric juga merasa ada yang aneh dari perutnya. Dari tadi perutnya minta di isi oleh nasi goreng buatan Dinda, tapi dia terlalu malu untuk menambah porsi tadi pagi. Mau bagaimana lagi dia sudah terlanjur mengatakan kalau tidak suka makan makanan berat di pagi hari.


"Emang kelihatan banget kalau gua lemes?" tanya Eric.


"Nggak juga sih, cuman ada yang beda aja gitu dari hari sebelumnya."


"Gua masih laper." jujur Eric.


"Lah emang lu bangkrut nggak bisa beli bahan makanan di rumah?" Rian bertanya ngasal.


"Nggaklah! gua cuman masih laper aja."


"Emang lu cuman makan berapa lapis rotisih?" tanya Rian bingung lihat Eric lemes.


"Gua nggak makan roti hari ini." ucap Eric sambil memutar-mutar kursi yang didudukinya.


"Oh pancake yah!" tebak Rian.


"Bukan itu juga." ucap Eric.


"Lah kalau bukan itu apalagi, kan cuman itu yang bisa lu makan kalau sarapan." Rian memang banyak tahu tentang Eric, selain mereka sahabatan sangat lama, Rian juga sering menginap di rumah Eric.


"Hari ini gua sarapan nasi goreng."


"Apa!?" Rian kaget mendengar ucapan Eric.


"Yakin lu makan nasi goreng tadi?" tanya Rian memastikan.


"Yakinlah!"


"Astaga ini benar-benar langkahsih, dalam hidup lu baru pertama kali makan nasi untuk sarapan." Rian speechless sambil tertawa.


"sebenarnya gua mau nambah, cuman malu untuk nambah di piring." Eric mengungkapkan rasa gengsinya di hadapan Rian.


"Ya nambah aja kali, namanya juga laper." ucap Rian.


"Ohh atau lu nggak mau makan banyak karena itu dibuat sama Dinda yah?" tanya Rian.


"Nggak, mana mungkin, makanannya aja nggak terlalu bagus kok." elak Eric.


"Nggak enak tapi mau nambah, gimanasih lu."

__ADS_1


"Udah, ayo ini udah mau dimulai meetingnya." Eric menghentikan pertengkaran wajib di pagi hari ini.


Keduanya berjalan menuju ruang meeting. Hari ini Eric memiliki beberapa jadwal, kemungkinan besar dia akan lembur lagi malam ini.


"Selamat pagi Pak." Ucap Rian dan Eric menyambut klien mereka dari LA, salah satu perusahaan yang akan bekerjasama dengan Pratama Group dalam membangun sebuah proyek.


"Selamat pagi."ucap salah satu klien yang sudah bersalaman dengan Rian, namun saat dia mengulurkan tangannya, Eric hanya melihat tangan itu, butuh beberapa menit, dia baru menerima uluran tangan itu.


Eric hanya berusaha bersifat professional, dia tidak ingin membawa masalah pribadi di tempat yang tidak seharusnya. Sedangkan Rian sudah melihat ketegangan diantara kedua orang yang sebelumnya sudah berseteru karena seorang perempuan. Rian adalah salah satu saksi kuat yang selalu menyaksikan penghianatan Naura pada Eric.


Dari dulu Rian memperingati Eric untuk menyelesaikan hubungannya dengan Naura, tapi Eric tidak pernah mendengarnya sama sekali.


Selama satu jam dua puluh menit, akhirnya meeting selesai seperti apa yang diharapkan, walau suasana dibumbui oleh ketegangan antara dua mantan sahabat, yakni Eric dan Leo.


*****


"Haii!!" sapa seorang gadis berpenampilan sedikit tomboy pada Dinda.


"Haii!!!" balas Dinda.


"Aku baru lihat kamu disini." ucap Dinda.


"Iyya, akukan masuk program pertukaran mahasiswa, jadi kamu baru lihat aku." ucapnya.


"Oh pantas aku baru lihat. Sini duduk di sini saja, masih kosong kok." melihat gadis itu berdiri seolah sedang mencari tempat duduk.


"Eh Btw, kenalin nama aku Sima." ucapnya lalu mengulurkan tangannya.


"Dinda."


Keduanya berbincang-bincang tanpa terasa dosen sudah ada didalam kelas sangking serunya.


Rencananya hari ini, Dinda ingin mampir ke Panti terlebih dulu sebelum ke toko roti. Dia rindu dengan keluarganya, lagipula semenjak Ina sembuh dia tidak pernah ke panti lagi.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Sima.


"Aku mau ke panti dulu, lalu ke toko roti."


"Panti?"


"Iyya, aku tinggal di sana sebelumya." jawab Dinda.


Sampai detik ini tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau Dinda sudah menikah. Saat pernikahan memang tidak banyak yang datang, apalagi Eric yang tidak menerima pernikahan ini, jadi Dinda juga menutup rapat-rapat soal pernikahannya. Takutnya nanti Eric tahu kalau Dinda membocorkan tentang pernikahan mereka ke banyak orang, dia malah marah.


"Oh kamu tinggal di sana. Ya udah aku pulang juga yah, bye!" Sima melambaikan tangannya lalu menjalankan motornya.

__ADS_1


"Bye!!"


Di depan kampus Dinda menunggu ojek online yang dia pesan tadi di bawah terik matahari.


"Mau aku antar?" ucap Juna menghentikan mobilnya di depan Dinda.


"Tidak perlu." Dinda menghindar dari depan Juna.


"Hai, kau mau kemana? aku bisa mengantarmu, ayo!" Juna menghampiri Dinda yang jauh darinya.


"Tidak perlu aku sudah pesan ojek online tadi." Dinda tetap bersih keras menolak ajakan Juna.


"Ayolah, daripada kau di sini panas-panasan." Eric juga sama, masih bersih keras ingin mengajak Dinda.


"Kamu ngikutin aku karena mau nagih hutang aku? Iyya secepatnya aku akan bayar kok, tenang aja. Aku nggak akan kabur tanpa memperbaiki ponsel kamu." Dinda risih karena Juna selalu mengikutinya.


"Nggak kok bukan itu, aku memang mau ngajak kamu pulang bareng."


"Nggak usah, rumah aku jauh dari sini." ucap Dinda.


"Ya bagus dong," mata Juna berbinar.


"Bisa lebih lama di dalam mobil." sambung Juna, tapi kali ini dia tidak mengucapkannya, tapi dalam hati.


"Mbak yah atas nama Adinda Fadillah?" tanya bapak yang menggunakan jas khusus ojek online.


"Iyya Pak, saya." Dinda mengambil helm yang ada di atas jok motor, lalu naik ke atas motor meninggalkan Juna.


"Ck, di ajak naik mobil nolak, kalau motor mau." Juna sudah meninggalkan tempat itu menuju mobilnya.


Tanpa mereka ketahui ada perempuan yang mengintai aktivitas mereka di dalam mobil berwarna hitam.


"Bos, pria itu bersih keras ingin mengajak gadis itu pulang bersama Pak." lapor pria yang di dalam mobil.


"Apa mereka pulang bersama?" tanya Eric. Sampai sekarang Eric masih menyuruh ajudannya untuk mengikuti kemana Dinda pergi, setelah mereka melaporkan bahwa pria yang di pesawat itu satu kampus dengan Dinda, Eric malah ingin Dinda selalu di intai.


"Tidak Pak, gadis itu menolak lalu pulang menggunakan ojek online." Eric yang mendengar itu di seberang sana tersenyum tipis.


"Aku ingin kalian ikuti terus gadis itu." perintah Eric.


"Tapi Pak, saya menyuruh seseorang tadi untuk menguping pembicaraan mereka. Ternyata gadis itu mempunyai hutang pada pria itu Pak."


"Hutang? hutang apa maksudmu?" tanya Eric bingung, padahal dia selalu berpikir jika Dinda menerima perjodohan ini karena ingin menikmati hartanya, tapi kenapa dia malah terjerat hutang?


*****

__ADS_1


Like, coment, give a gift dan vote guyss. 🖤❤️


__ADS_2