Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Hampir Terlambat.


__ADS_3

Dinda merasakan ada yang aneh pada dirinya, tadi dia sangat segar tapi, tiba-tiba jadi sangat mengantuk.


"Sim, acaranya kapan selesai?" bisik Dinda pada sahabatnya.


"Nggak tahu Din, kayaknya masih lama deh, tuh pak Eric aja masih sibuk melayani para tamunya." ucap Sima sambil menengok Eric.


"Hai kalian berdua, kita pergi ke sana dulu yah, kalian nggak apa-apakan disini berdua?" tanya Lucy.


"Iyya kak, nggak apa-apa."


Lucy dan teman-temannya meninggalkan Dinda dan Sima di tempat semula.


"Obatnya bekerja berapa jam?" tanya Risa.


"Tenang aja obatnya bekerja lama dan ada sedikit obat pera*gsang di dalamnya."


"Bagaimana jika obatnya bekerja di sana? kita harus membawakan ke kamar agar mudah mem-fotonya."


Mereka berdiskusi untuk membawa Dinda ke kamar hotel dan mengalihkan perhatian Sima.


"Sim, aku ke toilet dulu yah, mau cuci muka." izin Dinda sebentar, dia benar-benar mengantuk, ditambah ada rasa panas di dalam tubuhnya.


"Iyya jangan lama-lama."


Dinda meninggalkan tempatnya menerobos keramaian menuju toilet. Langkahnya terus diperhatikan oleh Eric, meskipun Eric sedang makan bersama Rian tapi, matanya memperhatikan langkah Dinda.


"Ehh, dia mau ke mana tuh?" tunjuk Risa ke arah Dinda.


"Biar gua yang ngikutin." Lucy mulai membuntuti Dinda dari belakang.


"Sepertinya dia mau ke toilet." ucap Eric dalam hati.


Di dalam toilet Dinda membasuh wajahnya dengan air lalu menatap wajahnya di cermin depannya.


"Hai Din!" sapa Lucy yang ikut masuk ke dalam toilet.


"Ehh, Kak Lucy."


Lucy dapat melihat di cermin besar toilet, jika Dinda sangat mengantuk. Terlihat dari matanya yang sudah sangat sayu.


"Din, temani aku di menunggu seseorang di sana yah." tunjuk Lucy pada ruang tunggu yang tampak sepi.


"Siapa kak?" tanya Dinda.


"Emh temanku, katanya sebentar lagi dia akan datang." alasan Lucy yang langsung di angguki oleh Dinda.


Mereka duduk di sofa ruang tunggu hanya sebentar karena, beberapa menit kemudian Dinda sudah tertidur di atas sofa.


"*Cepat ke ruang tunggu, Dinda obatnya sudah bekerja." isi chat Lucy pada Risa.

__ADS_1


"Okok!" Risa dan kedua temannya bergegas ke ruang tunggu untuk memulai rencananya*.


Sima sudah gelisah dari tadi karena, Dinda tak kunjung datang dari toilet. Begitupun dengan dengan Eric, dia terus memandang pintu masuk arah selatan, menunggu Dinda yang tak kunjung muncul.


"Lu kenapa liat ke sana terus sih??" ucap Rian yang menegur Eric.


"Lu liat Dinda nggak?" tanya Eric tiba-tiba.


"Nah, giliran nggak liat, lu malah nyariin terus. Gimana sih lu?"


"Udah deh, gua serius nihh!"


"Gua tadi liat dia ke toilet deh." Rian tadi memang sempat ke toilet juga, pas dia keluar Dinda juga masuk ke dalam toilet.


"Ck." Eric melihat Sima yang mengarahkan pandangannya kemana-mana.


"Kemana Dinda?" Eric tidak bisa memendam rasa khawatirnya lagi jadi, dia memutuskan bertanya pada Sima.


"Eh pak Eric, Dinda tadi ke toilet, tapi sampai sekarang masih belum datang juga." setelah Sima mengatakan Dinda ke toilet, dia melangkah pergi ke arah toilet.


"Kenapa Pak Eric, menanyakan Dinda? apa dia tahu aku mencari Dinda? wajahnya juga tampak sangat khawatir." pertanyaan itu muncul di benak Sima begitu melihat ke khawatiran Eric.


Eric berlari ke arah toilet tapi, dia berhenti di depan pintu dan menunggu seseorang keluar.


"Apa di dalam ada gadis yang memakai gaun hitam dengan rambut di gerai?" tanya Eric saat ada wanita keluar dari toilet.


"Pak Eric? Mmh, di dalam dari tadi saya sendiri Pak, tidak ada yang lain." Eric tambah khawatir mendengar Dinda tidak ada di dalam toilet.


Eric mencoba menelfon ponsel Dinda tapi, hasilnya ponsel Dinda sudah tidak aktif. Dia juga sudah tidak bisa melacak ponsel Dinda.


Di tempat lain, Lucy dan teman-temannya sudah berhasil membawa Dinda masuk ke dalam kamar hotel.


"Apa kau sudah menelfon pria itu?" tanya Lucy.


"Sudah, dia bilang masih di jalan."


Mereka berencana akan menjebak Dinda dengan cara me-motret Dinda tidur dengan pria di kamar hotel.


Bagaimana kalau gaunnya kita buka saja?" usul Risa.


"Nggak usah biar tuh cowok yang buka."


"Baiklah. Kita tunggu saja dulu dia."


Kurang lebih 10 menit kemudian pria bersama satu temannya yang di sewanya itu sudah datang ke kamar.


"Ini gadis yang gua ceritain, lu harus membuat foto yang bisa terlihat sangat real kalau lu sama dia sudah tidur bersama." ucap Lucy dengan liciknya.


"Oke, bayarannya bagaimana?"

__ADS_1


"Tenang aja, kalau lu udah ngirim fotonya ke gua, uangnya langsung gua kasi malam ini."


"Baiklah, kalian boleh keluar." perintah pria yang ada di belakang mereka ber-empat.


Eric yang sudah pusing mencari Dinda sendiri terpaksa harus meminta bantuan Rian.


"Rian perintah orang yang bertugas di ruang CCTV untuk mengecek keberadaan Dinda, sekarang!" ucap Eric sambil terus mencari Dinda di beberapa ruangan di hotel berbintang lima itu.


Sebelum Eric mencari Dinda lebih lanjut, dia terlebih dahulu sudah menutup acara ulang tahunnya.


"Itu dia!" ucap Eric antusias ketika melihat Dinda keluar toilet dari latar monitor komputer.


Eric bingung kenapa Dinda tiba-tiba tertidur di sofa, kening Eric mengerut melihat segerombolan perempuan itu membawa Dinda ke dalam kamar.


"Kenapa Dinda di bawa ke dalam kamar?" ucap Rian bingung.


"Zoom nomor kamarnya!" perintah Eric yang langsung di turuti karyawan yang bertugas.


"Kamar No. 125 Pak."


"Ok."


"Ric, lu ke kamar itu secepatnya, gua akan ke resepsionis meminta card room-nya." ucap Rian.


"Oke cepet yah."


Mereka berdua segera melaksanakan tugasnya masing-masing.


Eric berlari menuju lift dengan keadaaan yang sangat khawatir, dia takut Dinda di apa-apakan karena, Dinda yang memang sangat polos jadi mudah untuk memanfaatkannya.


"Apa kita buka gaunnya?" tanya pria itu sambil memperhatikan tubuh Dinda dengan lapar.


"Buka ajalah, kapan lagi dapat kesempatan seperti ini." ucap temannya menyeringai.


Sedikit lagi Eric sudah akan sampai ke kamar tersebut, jantungnya semakin berdebar kencang, entah kenapa bisa seperti itu.


"Kamar 125, 125, 125." Eric terus memeriksa nomor kamar yang dilaluinya.


"124, ini 125!" ucap Eric antusias.


Tak lama kemudian Rian juga telah tiba, dengan membawa card room di tangannya. Meskipun sang petugas sempat tidak memberikan card-nya tapi, saat dia memperlihatkan kartu namanya, sang resepsionis langsung memberikannya.


"Ric, ini card-nya!" Eric meraihnya lalu menempelkan pada benda pendeteksi tersebut.


Berapa kagetnya Eric saat melihat pria di depannya hampir membuka sepenuhnya resleting belakang gaun Dinda.


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


Taqaballahu minna wa minkum pada reader's, mohon maaf lahir dan batin 🌹🙏


__ADS_2