
"Tunggu!" tahan pak David, sang ketua divisi keuangan.
"Iyya Pak?" Dinda dan Sima menunduk sedikit sebagai tanda hormatnya.
"Ingat! nanti setelah makan siang kalian ke ruang aula kantor karena, CEO kita ingin bertemu karyawan magang yang baru."
"Iyya Pak, kami akan datang tepat waktu." ucap Sima.
Dinda dan Sima segera ke kantin kantor untuk makan siang, berhubung waktu untuk makan siang sebentar lagi akan habis. Pratama Group terkenal karena kesuksesan dan kedisiplinannya, itu semua berkat Eric yang membawa nama Pratama Group semakin jaya dengan ketegasan dan kedisiplinannya pada setiap bawahannya.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" ucap Pak David.
"Sudah Pak." ucap salah satu bawahannya.
"Baik, kalian tahukan akan bertemu siapa hari ini?" tanya pak David.
"Tahu Pak." teriak semua mahasiswa magang.
"Lima menit lagi, CEO Pratama Group akan datang ke sini." lanjut Pak David.
Tidak butuh waktu lama CEO Pratama Group telah masuk di ruang aula bersama asisten pribadi sekaligus sahabatnya.
"Selamat siang Pak!" semua karyawan baru menunduk memberikan hormatnya, terkecuali Dinda yang menganga lebar melihat CEO tempatnya bekerja.
"Mas Eric?" ucap Dinda spontan.
"Mas Eric? kamu kenal CEO kita Din?" tanya Sima heran.
"Ehh, enggaklah m-mana mungkin." ucapnya bohong.
Eric rasanya ingin tersenyum melihat ekspresi Dinda saat mengetahui jika dirinya adalah CEO di perusahaan ternama. Tapi, mengingat kembali dia tidak ingin tersenyum ramah pada semua karyawan karena, itu adalah kebiasaanya.
"Bagaimana, rasa bekerja satu hari di Pratama Group?" Eric membuka suara.
"Baik Pak!" ucap Sima dengan lantang, membuat semua mata tertuju padanya.
Dinda menyikut Sima tapi, sang sahabat hanya nyengir kuda.
Setelah pertemuan CEO dan para karyawan, ruang aula sudah sepi. Tapi, sebelum keluar, Eric sebelumnya memesan agar bagian karyawan magang divisi keuangan ke ruangannya.
Dia sengaja ingin memanggil Dinda ke ruangannya untuk memberitahukan jika dia CEO di perusahaan ini secara langsung.
"Din ayo kita ke sana." ajak Sima.
"Aku takut Sim, kenapa cuman kita yang dipanggil sih?" tanya Dinda.
"Ya mungkin saja, CEO kita ingin memberitahukan jika bagian keuangan harus teliti dalam membuat laporan." tebak Sima ngasal.
"Ya udah ayo!" Dinda dan Sima melangkah dengan berat menuju ruangan CEO-nya.
Tok..tok..tok...
"Permisi Pak!"
"Emhh masuk!" teriak Eric dari dalam.
__ADS_1
Dinda dan Sima berdiri di samping kanan meja kebesaran Eric.
"Silahkan duduk." Eric berbalik membuat Dinda menunduk seketika.
Dinda Sima duduk di kursi di depan Eric, dengan meja sebagai pembatas.
"Siapa yang membuat laporan mingguan?" tanya Eric serius.
"Emh Dinda Pak." ucap Sima.
"Kamu?" Eric melihat Dinda dengan tatapan dinginnya, tatapan yang dilihat Dinda saat awal bertemu Eric.
"I-iyya Pak." jawab Dinda.
"Kamu bisa kembali ke bekerja tapi, kamu tetap disini, saya ingin bicara tentang laporan yang kamu buat."
Dinda dan Sima saling menatap, Sima tidak tega melihat terapan Dinda yang seperti tidak ingin ditinggalkan sendiri di ruangan ini tapi, mau bagaimana lagi, Agra menyuruhnya kembali bekerja.
"Baik Pak, permisi." pamit Sima dengan berat hati.
"Aku duluan." ucap Sima.
"Iyya."
Sima sudah keluar lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Eric menatap Dinda yang tertunduk di depannya.
"Menurutmu laporannya sudah bagus?" tanya Eric memecah keheningan.
"Jangan menunduk, lihat aku di depan." pinta Eric.
Eric berdiri dari kursinya menghampiri Dinda. Ia duduk di kursi bekas Sima duduk tadi lalu, memutar kursi yang di duduki Dinda menghadapnya.
"Kau ingin menanyakan sesuatu? aku siap menjawab sekarang." ucap Eric memajukan wajahnya.
"Pa-pak Eric bekerja di sini?" tanya Dinda.
"Tentu saja, tidak mungkin aku duduk di sini jika bukan untuk bekerja." jawab Eric.
"Pak Eric, CEO-nya?" tanyanya lagi.
"Iyya, aku CEO di sini sejak Papa sudah menyerahkan sepenuhnya perusahaan padaku."
Dinda menatap Eric, dengan penuh tanya tapi, dia tidak mengutarakannya.
"Ada lagi yang ingin di tanyakan?" tanya Eric kembali.
"Jadi perusahaan ini punya pak Eric?"
"Tentu!" jawabnya yang masih memperhatikan wajah Dinda dari jarak dekat.
"Kenapa Pak Eric tidak bertanya tempat yang akan Dinda tempati melamar kerja, saat tahu Dinda ingin magang." protes Dinda yang masih menggunakan kata formalnya.
"Memang kenapa?" tanya Eric sambil terus menghapus jarak dengan terus memajukan kursinya dan kursi Dinda.
__ADS_1
"Kalau Dinda tahu ini perusahaan Pak Eric, Dinda tidak akan melamar kerja di sini." ucapnya lalu menundukkan wajahnya.
"Justru aku sengaja tidak memberitahumu karena memang aku ingin kau bekerja di sini." ucap Eric dalam hati tapi, arah matanya masih memperhatikan wajah cantik nan ayu di depannya.
"Jika kita hanya berdua jangan panggil 'Pak' ok? panggil seperti jika di rumah saja." Eric menyentuh dagu Dinda lalu mengangkatnya agar melihat ke arahnya lagi.
Melihat Eric memajukan wajahnya dengan arah mata tidak lepas dari bibir merah alami Dinda, Dinda langsung berdiri dengan gelagapan.
"Emh M-mas, Dinda mau keluar dulu." pamit Dinda sambil melihat ke arah yang lain.
"Tunggu dulu." Dinda hendak pergi tapi, Eric menahannya dengan menarik tangannya.
"Tapi, Dinda mau melanjutkan pekerjaan Dinda tadi mas."
"Tapi kita juga belum bicara tentang laporan keuangan yang kau buat." balas Eric berhasil membuat Dinda berhenti menarik tangannya yang di cakal Eric.
Saat Dinda sudah tidak berontak lagi ingin dilepaskan, Eric memanfaatkannya lalu menarik tubuh mungil itu ke pangkuannya.
Dinda hanya bisa melebarkan matanya melihat kelakuan Eric karena, berontak ingin turun dari pangkuan suaminya itu tidak mungkin, bisa dilihat kakinya saja sudah tidak menyentuh lantai.
"M-mas apa yang kau lakukan?" tanya Dinda heran.
"Sedang memangkumu." ucap Eric yang begitu enteng.
"Mas, turunin Dinda." pinta Dinda sambil bergerak ingin turun.
"Jangan banyak bergerak!" ucap Eric karena pergerakan Dinda bisa saja membangunkan sesuatu di bawahnya.
"Ya udah turunin Dinda."
Tangan kekar nan besar Eric melingkar mesra di pinggang ramping Dinda, membuat Dinda menelan ludahnya dengan kasar.
"Mas, bagaimana jika ada orang yang masuk? Dinda masih baru di sini, nanti mereka berpikir yang tidak-tidak." Dinda tengah berusaha membujuk Eric, tapi dengan secepat kilat Eric mengecup bibir yang tak hentinya bergerak.
"Mas!? Dinda mohon lepaskan dulu."
"Di lepaskan tapi nanti di rumah kita lanjutkan. Deal!?" Eric memberikan tawaran yang sangat mengejutkan bagi Dinda.
"Mas, jangan seperti itu."
"Seperti apa?"
"Maksudnya, Dinda mau kembali bekerja, lepaskan dulu."
"Tapi kita lanjutkan di rumah?" Dinda menunduk malu mendengar permintaan Eric.
"Bagaimana? atau kau mau sampai jam pulang kita seperti ini."
"Baiklah.." ucap Dinda terpaksa yang penting Eric melepaskannya.
*****
like, coment, beri gift dan vote guyss.🖤❤️
Karena kemarin nggak update lagi jadi, author suguhkan yang manis-manis dulu...
__ADS_1