Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Bukti Mulai Terlihat.


__ADS_3

Setelah sholat subuh Eric dan Dinda pulang kembali ke rumah.


"Mau ke mana?" tanya Eric ketika melihat Dinda berjalan ke arah dapur setelah meletakkan paper bag berisi gaun di dekat sofa.


"Dinda mau ke dapur buat masak sarapan Mas."


"Tidak usah! nanti Bi' Sum yang memasak. Kau ke kamar saja istirahat, sekalian ada yang ingin ku tanyakan beberapa hal."


Dinda mulai naik ke kamar dengan Eric yang mengekornya. Dinda duduk di atas sofa tunggal dekat pintu balkon.


"Mas mau bertanya apa?" tanya Dinda dengan tatapan polosnya.


Eric mengambil kursi yang lebih tinggi dari kursi yang diduduki Dinda lalu duduk menghadap ke Dinda.


"Kenapa semalam kau bisa ada di dalam kamar hotel?"


"Dinda tidak tahu Mas. Yang Dinda ingat, setelah pidato mas selesai Dinda dan Sima duduk di meja paling pojok, lalu kak Lucy datang mengobrol dengan kami. Beberapa menit kemudian teman kak Lucy datang membawa minuman untuk Dinda dan Sima."


"Minuman? minuman apa?" tanya Eric.


"Jus."


"Kenapa kau tidak pergi mengambil minuman sendiri?"


"Minuman Dinda dengan Sima masih ada Mas, jadi kita tidak mengambil lagi tapi, tiba-tiba kak Risa datang membawakan kami minuman." jawab Dinda dengan polosnya.


"Lalu kau meminumnya?" tanya Eric. "Iyya Dinda minum." Eric menggelengkan kepalanya mendengar Dinda.


"Setelah minum jus itu, Dinda merasa mengantuk jadi, Dinda pergi ke toilet untuk cuci muka."


"Setelah itu?" tanya Eric penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Kak Lucy juga masuk ke toilet tapi pas Dinda ingin keluar, kak Lucy minta Dinda buat nemenin dia menunggu temannya di ruang tunggu."


"Kalian lama di sana?"


"Emhh, nggak tahu, Dinda cuman ingat sampai situ Mas.." ucap Dinda lesu.


Eric sudah yakin jika Dinda itu dijebak, tidak mungkin dia langsung bisa berada di dalam kamar hotel dengan pria yang hampir melecehkannya.


Dert...dert...dert...


Eric menelfon Rian untuk memastikan kejelasan pria yang hampir melecehkan Dinda.


"Rian, bagaimana ke-dua pria itu? sudah kau interogasi?"


"Tenang aja, suruhan gua udah interogasi mereka dan gua udah liat semua CCTV dari hotel semalam."

__ADS_1


"Oke besok di kantor lu langsung ke ruangan gua bawa semua rekaman CCTV dan rekaman tuh dua pria!" perintah Eric melalui sambungan telepon.


"Iyya, udah dulu gua masih mau nyelesain sesuatu*."


Mereka sudah menyelesaikan telfonnya, setelah itu Eric menyusul Dinda ke ruang makan terlebih dahulu.


Di kediaman keluarga Naura, Leo sedang datang bertamu.


Naura sudah memutuskan akan tinggal kembali dengan orang tuanya setelah hampir satu tahun mereka tidak tinggal satu atap.


"Honey aku pulang saja yah, sepertinya Mama dan Papa mu belum mau bertemu denganku."


"Hhh, kayaknya gitu. Ehh aku mau nanya, kemarin saat kita ke pesta ulang tahun Eric, kok aku nggak liat istrinya yahh?"


Leo memang mengetahui jika Eric sudah menikah karena, saat satu hari sebelum pernikahan Eric, Rian mengundang beberapa sahabat dekatnya yang berada di beberapa provinsi bahkan di luar negri ke pernikahan Eric.


Saat itu Leo juga belum keluar dari group chat tersebut. Tapi, sekarang Rian telah meng-kick-nya dari group.


Leo sampai sekarang juga belum mempunyai teman apalagi sahabat, dia pernah merasa menyesal merusak sahabatnya gara-gara seorang perempuan.


"Mungkin lagi nggak ikut kali." ucap Leo.


"Emang kamu kenal istrinya?"


"Nggak, aku nggak tahu, cuman dengar kabar Eric mau menikah."


"Ohh, udah kamu pulang aja sana, ini sudah larut." usir Naura.


*****


Dinda sudah sangat mengantuk menunggu Eric selesai dengan laptopnya.


"Kalau sudah mengantuk tidur saja, tidak usah menunggu ku." ucap Eric tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Iyya Mas." Dinda tertidur tanpa menyelimuti tubuhnya.


23:47 Eric baru berjalan ke tempat tidur lalu menarik selimut untuk dirinya dan Dinda.


"Selamat malam, mimpi yang indah!" ucap Eric setelah memberikan kecupan hangat di kening Dinda.


Pagi hari, Dinda ke kantor duluan setelah pamit pada Eric di meja makan. Tapi, Eric menahannya.


"Nanti saja, kita pergi bersama." ujar Eric sambil menyentuh pergelangan tangan Dinda untuk mengehentikan langkahnya.


"Nggak Mas, nanti ada yang lihat kita bagaimana?" Dinda menolak mentah-mentah ajakan Eric.


"Tidak akan, ini masih sangat pagi."

__ADS_1


"Nggak Mas, Dinda takut ada yang lihat."


"Hhh, ya sudah pergi saja kau sendiri!" ucap Eric kesal.


Eric agak takut jika Dinda pergi sendiri lagi, dia takut kejadian semalam terulang kembali. Meskipun Dinda saat ini masih belum tahu kalau dia hampir di lecehkan semalam.


Eric juga tidak memberitahunya karena, jika Dinda sampai tahu, dia takutnya nanti Dinda trauma sampai susah untuk sembuh.


"Dinda pergi dulu, assalamualaikum." sebelum pergi Dinda bersalaman terlebih dulu dengan Eric, kebiasaan ini sudah lama dia lakukan.


Di kantor.


Saat melihat Dinda sudah datang, Sima langsung menghampirinya.


"Din, semalam kamu sakit yah?" tanya Sima khawatir.


"Emh, Iyya sim."


"Terus pulangnya diantar sama siapa?" tanya Sima karena, malam itu dia pergi bersama menggunakan taksi online.


"Ada keluargaku yang menjemput Sim." tidak mungkin jika Dinda mengatakan kalau Eric yang mengantarnya pulang, itupun mereka pulangnya saat setelah sholat subuh.


"Kenapa nggak bilang sama aku kalau kamu nggak enak badan, kan aku bisa antar kamu pulang."


"Aku nggak ngasih tau kamu karena, kamu terlihat sangat menikmati pestanya."


"Kan bisa aku mengantarmu pulang dulu."


"Udah Sim, kejadiannya juga udah lewat." ucap Dinda mengakhiri topik pembicaraan tentang malam itu.


Di ruangan Eric, sudah ada Rian yang membawa flashdisk yang berisi rekaman CCTV hotel saat pesta berlangsung.


"Ric, lihat ke arah meja yang diduduki Dinda dan Sima." tunjuk Rian pada layar monitor.


Terlihat Lucy yang mendatangi Dinda terlebih dulu lalu temannya menyusul membawa minuman untuk Dinda dan Sima.


"Kenapa dia hanya membawa dua minuman? kenapa tidak sekalian tidak memberikan untuk temannya?" ucap Eric aneh melihat gelagat Lucy dkk.


"Untuk apa juga dia yang harus melayani Dinda dan Sima? bukannya ada maid yang bertugas." berbagai pertanyaan yang mencurigakan muncul di benak Eric dan Rian.


"Ada nggak rekaman di dapur?" tanya Eric.


"Ada. Ini." ucap Rian yang memutar video kamera yang lainnya.


Sudah Eric duga jika, minuman yang diminum Dinda sudah ada obat tidur dan per*ngs*ng di dalamnya.


"Kan gue lihat reaksi Dinda semalam juga seperti orang habis minum obat tidur dan per*ngs*ng."

__ADS_1


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️


Hii reader's, maaf banget kalau up-nya selalu lama, kemarin banyak banget tamu di rumah jadi nggak sempat update deh. Sorry yahh🙏


__ADS_2